All About Harokah

6 Februari 2009

Harokah Islam

Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 18:17

EMPAT HAROKAH ISLAM INTERNATIONAL

(Salafy, Jamaah Tablig, Ihwanul Muslimin, Hizbut Tahrir)

Pengertian Harokah dalam pembahasan disini adalah organisasi / harokah (pergerakan) / kelompok yang mempunyai peraturan dan struktur organisasi yang jelas (Ihwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir) atau pun yang tidak / kurang mempunyai peraturan dan struktur organisasi yang jelas (Jamaah Tabligh dan Salafy) namun masing-masing mempunyai ciri-ciri yang bisa dibedakan dengan pihak yang lain.

Dikatakan Harokah International karena mempunyai cabang/ perwakilan/ afiliasi/ anggota/ pengikut/ simpatisan yang tersebar luas di seluruh dunia. Secara umum ke-empatnya ber akidah ahlus sunnah wal jamaah

Susunan urutan pembahasan dibuat berdasarkan urutan tahun berdirinya, dimulai dari yang paling awal disusul berturut-turut yang lebih muda tahun berdirinya.

I. SALAFY (Generasi Awal)

A. Latar belakang sejarah

Harokah Salafy yang dikenal sekarang ini latar belakang sejarahnya tidak dapat lepas dari gerakan atau aliran Wahabi di Arab Saudi pada tahun 1700 an Masehi (abad 18). Maka disini akan diruntut dari latar belakang sejarah gerakan Wahabi.

Gerakan / Aliran Wahabi :

Kata `Wahabi` bila kita runut dari asal katanya mengacu kepada tokoh ulama besar di tanah Arab yang bernama lengkap Syeikh Muhamad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Al-Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791 M). Beliau lahir di Uyainah dan belajar Islam dalam mazhab Hanbali. Beliau telah menghafal Al-Quran sejak usia 10 tahun.

Sosok Muhammad bin Abdul Wahhab menjadi pelopor gerakan ishlah (reformasi) yang muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan berpikir pemikiran dunia Islam sekitar 3 abad yang lampau atau tepatnya pada abad ke-12 hijriyah. Pada era kebekuan berpikir itu para ulama Islam mencukupkan diri ber taqlid pada Ulama / Mujtahid Imam Mazhab yang empat dengan kecenderungan pada fanatisme terhadap masing-masing mazhabnya.

Sementara fenomena umat di lapisan bawah yang awam saat itu sungguh memilukan. Mereka telah menjadikan kuburan menjadi tempat pemujaan dan meminta kepada selain Allah. Kemusyrikan merajalela. Bid`ah, khurafat dan takhayyul menjadi makanan sehari-hari. Dukun, ramalan, sihir, ilmu ghaib seolah menjadi alternatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan umat Islam.

Dakwah gerakan Wahabi ini menyerukan agar aqidah Islam dikembalikan kepada pemurnian arti tauhid dari syirik dengan segala manifestasinya. Muhammad bin Abdul Wahhab saat itu bangkit mengajak dunia Islam untuk sadar atas kebobrokan aqidah ini. Beliau menulis beberapa risalah untuk menyadarkan masyarakat dari kesalahannya. Salah satunya adalah kitabuttauhid yang hingga kini menjadi rujukan banyak ulama aqidah.

Dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab ini kemudian melahirkan gerakan umat yang aktif menumpas segala bentuk khurafat, syirik, bid`ah dan beragam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang asli. Mereka melarang membangun bangunan di atas kuburan, menyelimutinya atau memasang lampu di dalamnya. Mereka juga melarang orang meminta kepada kuburan, orang yang sudah mati, dukun, peramal, tukang sihir dan tukang teluh. Mereka juga melarang tawassul dengan menyebut nama orang shaleh sepeti kalimat bi jaahi rasul atau keramatnya syiekh fulan dan fulan bahkan sampai menggunakan kekerasan dan senjata dalam dakwahnya.

Dakwah dan pemikiran beliau banyak disambut ketika beliau datang di Dir`iyah bahkan beliau dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat (kepala suku) yaitu pangeran Muhammad bin Sa`ud yang berkuasa 1139-1179 H. Oleh pangeran, dakwah beliau didukung, ditegakkan dan akhirnya menjadi semacam gerakan nasional yang cenderung keras dan radikal dan didukung penuh oleh kepala suku sekaligus komandan lapangan (war lord) Muhammad bin Sa`ud.

Satuan –satuan bersenjata mereka menyerang dan menaklukan seluruh penguasa wilayah (War lord) lain diseluruh Hijaz dan Nejed (Wilayah Arab Saudi sekarang). Sebelum berdaulat sendiri Arab Saudi secara administratif dan protektorat saat itu berada dalam kekuasaan Khilafah Turki Usmani, berdasarkan baiat penguasa Mekkah Syarif Hussein kepada Khalifah Sulaiman Qanuni penguasa Turki Usmani.

Ketika gerakan Wahabi menghebat, dunia Islam sedang menghadapi ekspansi kolonialisme negara-negara eropah dan Khilafah Turki Usmani sedang lemah dan sibuk berperang diberbagai front menghadapi serbuan kolonialisme negara-negarga eropah. Gerakan Wahabi semakin kuat dan menguasai seluruh Arab Saudi hingga mereka berdaulat sendiri lepas dari Khilafah Turki Usmani. Muhammad Bin Saud berkuasa menjadi raja pertama dan menerapkan system pemerintahan monarki sampai sekarang ini dan menjadikan pemikiran Wahabi sebagai mazhab kerajaan.

Oleh banyak kalangan, gerakan ini dianggap sebagai pelopor kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan Islamisme-nya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan lainnya di benua India. Paling tidak, masa hidup Muhammad bin Adbul Wahhab lebih dahulu dari mereka semua.

Tokoh-tokoh ulama yang paling sering mereka jadikan rujukan adalah :

- Imam Ahmad ibn Hanbal (164-241 H)

- Ibnu Taimiyah (661-728 H)

- Muhammad Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (6691-751H)

- Syeikh Muhammad Nashiruddin Albani

- Syeikh Abdul Aziz Bin Baz

B. Karakteristik

Gerakan Wahabi yang boleh dikatakan cikal bakal dan “kendaraan” yang mengantarkan Dinasti Ibnu Saud berkuasa di Kerajaan Arab Saudi ini pemikirannya dijadikan mazhab resmi Kerajaan Arab Saudi dan tetap dipelihara serta dianut oleh para penguasa dan mayoritas rakyat Arab Saudi sampai saat ini. Mazhab dan corak pemikiran Wahabi ini diekspor keluar dari batas Wilayah Arab Saudi yang sekarang ini dikenal sebagai SALAFY walau kalangan salafiyin kadang tidak suka bila dikatakan bahwa corak pemikiran dan latar belakang mereka secara kenyataan merupakan kepanjangan dari Wahabi.

Karakteristik Salafy :

1. Fikihnya mengikuti imam Ahmad Bin Hanbal

Imam Ahmad Bin Hanbal dikenal lebih mengutamakan menggunakan Hadis dalam Ijtihadnya dari pada menggunakan rasio (Qiyas, Istihsan, Maslahah mursalah, dsb). Bila tidak ada nash Qoth’i beliau lebih suka menggunakan hadis dhoif dari pada Qiyas. Sebagian Ulama menilai Imam Ahmad Bin Hanbal lebih sebagai ahli hadis dari pada sebagai ahli Fikih.

2. Mengutamakan Hadis dan ahli hadis.

Pola pemikiran ini mewarisi pola Ijtihad Imam Ahmad Bin Hanbal yang dianut oleh Pelopor aliran Wahabi. Banyak merujuk kepada ahli Hadis Imam Muhammad Nashiruddin Albani yang dalam sejarahnya dikenal lebih banyak menghafal dan mempelajari hadis di perpustakaan dan kurang mendalami ushul fikih, maka corak fikihnya kebanyakan memegangi makna lahir (tekstual) dari ayat dan hadis.

3. Keras dalam masalah tauhid dan akidah.

4. Sangat menentang Kurafat/Tahayul dan Bid’ah.

5. Menganggap Bid’ah dholalah semua perkara baru yang tidak ada dalam nash syariat.

6. Tidak mengakomodasi budaya atau adat local.

7. Tidak mempunyai aturan dan struktur organisasi yang baku.

8. Terkesan puritan dan kurang akomodatif dengan masalah aktual progressif (kekinian).

9. Menganggap Kerajaan dan Raja Arab Saudi sebagai Khilafah Islam.

Ini dapat dipahami karena gerakan wahabi dan Kerajaan Arab Saudi adalah saling mendukung antara yang satu terhadap yang lain.

10. Menolak demokrasi dan parlemen.

Pemikiran ini dilatar belakangi Kenyataan bahwa Kerajaan Arab Saudi menerapkan sistem monarki kerajaan, Trend demokrasi dan pemerintahan parlementer yang kemudian muncul belakangan dan berhembus karena pengaruh dari negara-negara eropah dianggap membahayakan “Status Quo” system monarki kerajaan Arab Saudi.

11. Ofensif menyerang pemikiran harokah dan ulama diluar kalangan mereka.

Setelah gerakan Wahabi yang didukung pangeran Muhammad ibn Saud sukses berkuasa di Arab Saudi dan merupakan pelopor reformasi kebekuan pemikiran Islam yang menjadi inspirasi kebangkitan pemikiran Islam lainnya seperti : Syeikh Jamaludin Al Afghani dengan konsep Pan Islamisme nya yaitu mengembalikan Khilafah Islamiah international, Syeikh Muhamad Abduh dengan konsep Harokah Islamiah yaitu pergerakan yang berusaha menerapkan syariat Islam pada seluruh sektor kehidupan yang kemudian diteruskan oleh muridnya Syeikh Rasyid Ridho yang menjadi inspirasi berdirinya Harokah Ihwanul Muslimin di Mesir yang saat itu dibawah pemerintahan penjajahan atau protektorat Inggris.

Konsep pemikiran harokah ini bertujuan mengembalikan Khilafah Islamiah international dan menerapkan syariat Islam sebagai hukum positip negara.

Harokah Ihawanul Muslimin ini akhirnya menyebar keluar mesir dan mempunyai cabang dan pengikut di beberapa negara Arab (Timur Tengah).

Dalam perjalanan sejarahnya harokah ini selanjutnya memasuki wilayah politik yang bersikap oposan terhadap pemerintah sekuler Mesir dan mulai timbul gejala radikalisme dalam usaha mengambil alih pemerintahan.

Negara-negara Arab di Timur Tengah yang menerapkan sistem pemerintahan monarki kerajaan dianggap kurang sesuai dengan konsep syriat Islam

Sikap radikal dan oposan dari sebagian pengikut Ihawanul Muslimin ini merembet juga ke pengikutnya yang ada di negara negara Timur Tengah (termasuk Arab Saudi), mereka memandang negara negara Arab di Timur Tengah yang menerapkan sistem pemerintahan monarki kerajaan dianggap kurang sesuai dengan konsep syriat Islam, apalagi dalam perkembangan selanjutnya setelah ditemukan minyak di negara negara Arab para bangsawan kerabat Raja hidup bergelimang dalam kemewahan. Maka berkembangnya Ihwanul Muslimin tidak disukai dan dianggap membahayakan “status quo” para penguasa monarki Arab Saudi ditambah lagi dengan kenyataan perbedaan mazhab fikih Ihwanul Muslimin yang ber mazhab Syafii yang juga memakai rasio (qiyas) dalam ijtihadnya.

Untuk membendung dan meng counter perkembangan dan pemikiran Ihawanul Muslimin, penguasa Arab Saudi dan didukung para Ulama mazhab Wahabi membuat harokah tandingan yang sekarang ini dikenal sebagai SALAFY yang tujuannya membela status quo Khilafah Islam penguasa monarki Arab Saudi dan menyebarkan pemikiran wahabi yang keras dalam masalah akidah dan fikih mazhab Hanbali yang mengutamakan teks ayat dan hadis. Hal inilah yang melatar belakangi sikap para tokoh Salafiyin menjadi Agresif dan Ofensif menyerang kelompok lain terutama Ihwanul Muslimin dan juga Hizbut Tahrir (dulunya bagian atau paling tidak simpatisan Ihwanul Muslimin).

C. Kiprahnya

1. Gerakan Wahabi mendobrak kejumudan dalam kurafat-tahayul-kemusyrikan akidah.

2. Gerakan Wahabi sebagai pelopor reformasi pemikiran yang beku.

3. Di masa sekarang ini, gerakan salafi di Indonesia kembali terasa gregetnya di awal tahun 1990-an. Gerakan ini dibawa oleh para sarjana alumni Timur Tengah khususnya yang bersekolah di Universitas-universitas di Arab Saudi dan Kuwait. Mereka banyak mendirikan yayasan, jam’iyah, pengajian dan seruan untuk kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Termasuk menyebarkan dakwah di kampus, masjid, kelompok masyarakat dan sebagainya.

4. Aktif dalam study hadis

5. Aktif dalam menentang Bid’ah

6. Aktif dalam amar makruf nahi munkar terutama lewat tulisan

7. Aktif dalam tarbiyah dalam halaqoh

II. Jamaah Tabligh (Menyampaikan dakwah)

A. Latar belakang sejarah

Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy lahir pada tahun 1303 H (1886) di desa Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Prades, India. Ayahnya bernama Syaikh Ismail dan Ibunya bernama Shafiyah Al-Hafidzah. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas terkenal sebagai gudang ilmu agama. Saudaranya antara lain Maulana Muhammad yang tertua, dan Maulana Muhammad Yahya.

Ayah beliau, Syaikh Muhammad Ismail adalah seorang ruhaniwan besar yang suka menjalani hidup dengan ber-uzhlah, berkhalwat dan beribadah, membaca Alquran serta mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu agama. Adapun ibunda beliau, Shafiyah Al-Hafidzah, adalah seorang Hafidzah Alquran. Maulana Muhammad Ilyas pertama kali belajar agama pada kakeknya, Syaikh Muhammad Yahya. Beliau adalah seorang guru agama pada madrasah di kota kelahirannya.

Kakeknya adalah penganut mazhab Hanafi dan teman dari seorang ulama dan penulis Islam terkenal, Syaikh Abul Hasan Al-Hasani An-Nadwi. Sejak saat itulah beliau mulai menghafal Alquran. Dari kecil telah tampak ruh dan semangat agama dalam dirinya. Beliau memilki kerisauan terhadap umat, agama dan dakwah. Sehingga Allamah Asy-Syaikh Mahmud Hasan yang dikenal sebagai Syaikhul Hind (guru besar ilmu Hadis pada madrasah Darul Ulum Deoband) pernah mengatakan, “sesungguhnya apabila aku melihat Maulana Ilyas aku teringat kisah perjuangan para sahabat.

” Pada suatu ketika saudaranya, Maulana Muhammad Yahya, pergi belajar kepada seorang alim besar dan pembaru yang ternama yakni Syaikh Rasyid Ahmad Al-Gangohi, di desa Gangoh, Utar Pradesh, India. Maulana Muhammad Yahya belajar membersihkan diri dan menyerap ilmu dengan bimbingan Syaikh Rasyid. Hal ini membuat Maulana Muhammad Ilyas tertarik untuk belajar pada Syaikh Rasyid sebagaimana kakaknya. Akhirnya Maulana Ilyas memutuskan untuk belajar agama menyertai kakaknya di Gangoh.

Akan tetapi selama tinggal dan belajar di sana Maulana Ilyas selalu menderita sakit. Sakit ini ditanggungnya selama bertahun-tahun lamanya. Tabib Ustadz Mahmud Ahmad putra dari Syaikh Gangohi sendiri telah memberikan pengobatan dan perawatan pada beliau. Sakit yang dideritanya menyebabkan kegiatan belajarnya pun menurun, akan tetapi beliau tidak berputus asa. Banyak yang menyarankan agar beliau berhenti belajar untuk sementara waktu, tapi beliau menjawab, “apa gunanya aku hidup jika dalam kebodohan”.

Dengan izin Allah SWT, Maulana pun menyelesaikan pelajaran Hadis Syarif, Jami’at Tirmidzi dan Shahih Bukhari. Dan dalam jangka waktu empat bulan beliau sudah menyelesaikan Kutubus Sittah. Tubuhnya yang sering terserang sakit semakin membuat beliau bersemangat dalam menuntut ilmu. Begitu pula kerisauannya bertambah besar terhadap keadaan umat yang jauh dari syari’at Islam.

Beliau akhirnya berkenalan dengan Syaikh Khalid Ahmad As-Sharanpuri penulis kitab Bajhul Majhud Fi Hilli Alfazhi Abi Dawud dan berguru kepadanya. Semakin bertambah ilmu yang dimiliki membuat beliau semakin tawaddu’ serta dihormati di kalangan para ulama dan masyaikh. Suatu ketika di Kandhla ada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh ulama-ulama besar. Di antaranya terdapat nama Syaikh Abdurrahman Ar-Raipuri, Syaikh Khalil Ahmad As-Sharanpuri dan Syaikh Asyraf Ali At-Tanwi. Waktu itu tiba waktu shalat Ashar.

Mereka meminta Maulana Ilyas untuk mengimami shalat tersebut. Setelah kematian kakaknya, Maulana Muhammad Yahya, pada 9 Agustus 1925, orang ramai meminta kepada Maulana Ilyas untuk menggantikan kakaknya di Nizamuddin. Waktu itu beliau sedang menjadi salah seorang pengajar di Madrasah Mazhahirul Ulum. Akhirnya, setelah mendapat izin dari Maulana Khalil Ahmad dengan pertimbangan jika tinggalnya di Nizamuddin membawa manfaat maka Maulana Ilyas diberi kesempatan untuk berhenti mengajar.

Beliau akhirnya pergi ke Nizamuddin, ke madarasah warisan ayahnya yang kosong akibat lama tidak dihuni. Dengan semangat mengajar yang tinggi beliau membuka kembali madrasah tersebut. Semangat yang tinggi untuk memajukan agama, beliau pun mendirikan Maktab di Mewat. Namun kondisi geografis yang agraris menyebabkan masyarakatnya lebih menyukai anak-anak mereka pergi ke kebun atau ke sawah daripada ke Madrasah atau Maktab untuk belajar agama, membaca atau menulis.

Maulana Ilyas dengan terpaksa meminta orang Mewat untuk menyiapkan anak-anak mereka untuk belajar dengan biaya yang ditanggung oleh Maulana sendiri. Besarnya pengorbanan Maulana hanya untuk memajukan pendidikan agama bagi masyarakat tidak mendapatkan perhatian. Mereka enggan menuntut ilmu dan lebih senang hidup dalam kondisi yang sudah dijalani turun temurun. Melihat keadaan Mewat itu, semakin menambah kerisauan beliau akan keadaan umat Islam.

Kunjungan-kunjungan diadakan bahkan madrasah-madrasah banyak didirikan, tetapi hal itu belum dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat Mewat. Dengan izin Allah timbullah keinginannya untuk mengirimkan jamaah dakwah ke Mewat. Pada tahun 1351 H/1931 M, beliau menunaikan haji yang ketiga ke Tanah Suci Makkah. Kesempatan tersebut dipergunakan untuk menemui tokoh-tokoh India yang ada di Arab guna mengenalkan usaha dakwah.

Selama di Makkah, jamaah bergerak setiap hari sejak pagi sampai petang, usaha dakwah terus dilakukan untuk mengajak orang taat kepada perintah Allah. Dalam pandangan Maulana Muhammad Ilyas, dakwah merupakan kewajiban umat Nabi Muhammad SAW. Pada prinsipnya setiap orang yang mengaku mengikuti ajaran Nabi Muhammad memiliki kewajiban mendakwahkan ajarannya, yaitu agar selalu taat kepada Allah dengan cara yang telah dicontohkan Rasulullah.

Sepulang dari haji, Maulana mengadakan dua kunjungan ke Mewat, masing-masing disertai jamaah dengan jumlah sekitar seratus orang. Dalam kunjungan tersebut beliau selalu membentuk jamaah-jamaah yang dikirim ke kampung-kampung untuk ber-jaulah (berkeliling dari rumah ke rumah) guna menyampaikan pentingnya agama. Beliau sepenuhnya yakin bahwa kebodohan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerusakan.

Dari Mewat inilah secara berangsur-angsur usaha tabligh meluas ke Delhi, United Province, Punjab, Khurja, Aligarh, Agra, Bulandshar, Meerut, Panipat, Sonepat, Karnal, Rohtak dan daerah lainnya. Begitu juga di bandar-bandar pelabuhan banyak jamaah yang tinggal dan terus bergerak menuju tempat-tempat yang ditargetkan sepeti halnya daerah Asia Barat. Terbentuknya jamaah ini adalah dengan izin Allah melalui kerisauan seorang Maulana Muhammad Ilyas.

Kemudian menyebarlah jamaah-jamaah tabligh yang membawa misi ganda yaitu ishlah diri (perbaikan diri sendiri) dan mendakwahkan kebesaran Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Perkembangan jamaah ini semakin hari semakin tampak. Gerakan jamaah tidak hanya tersebar di India tetapi sedikit demi sedikit telah menyebar ke barbagai negara. Hanya kekuasaan Allah yang dapat memakmurkan dan membesarkan usaha ini.

Pada hari terakhir dalam sejarah hidupnya, Maulana mengirim utusan kepada Syaikhul Hadits Maulana Zakariya, Maulana Abdul Qodir Raipuri, dan Maulana Zafar Ahmad, bahwa beliau akan mengamanahkan kepercayaan sebagai amir jamaah kepada sahabat-sahabatnya seperti Hafidz Maqbul Hasan, Qozi Dawud, Mulvi Ihtisamul Hasan, Mulvi Muhammad Yusuf, Mulvi Inamul Hasan, Mulvi Sayyid Raza Hasan.

Pada saat itu terpilihlah Mulvi Muhammad Yusuf sebagai pengganti Maulana Muhammad Ilyas dalam memimpin usaha dakwah dan tabligh. Pada sekitar bulan Juli 1944 beliau jatuh sakit yang cukup parah. Kondisi tubuhnya yang lemah merupakan bukti bahwa beliau bersungguh-sungguh menghabiskan waktu mengembara dari satu tempat ke tempat lain bersama dengan jamaah untuk mendakwahkan kebesaran Allah.

Akhirnya Maulana menghembuskan nafas terakhirnya, beliau pulang ke rahmatullah sebelum adzan Shubuh. Beliau tidak banyak meninggalkan karya-karya tulisan tentang kerisauannya akan keadaan umat. Buah pikiran beliau dituang dalam lembar-lembar kertas surat yang dihimpun oleh Maulana Manzoor Nu’mani dengan judul Aur Un Ki Deeni Dawat yang ditujukan kepada para ulama dan seluruh umat Islam yang mengambil usaha dakwah ini.

Metode dakwah tabligh dengan metode melakukan perjalanan mengunjungi (jaulah) dan menetap beberapa waktu di suatu tempat sasasan dakwah ini akhirnya menjadi harokah yang mempunyai banyak pengikut dan keluar dari anak benua India menyebar ke seluruh dunia.

B. Karakteristik

1. Mengutamakan ber tabligh yaitu dakwah dengan mengunjungi (jaulah) dan menetap beberapa lama di kawasan yang dijadikan obyek dakwah.

2. Mengutamakan akhlak, kebersihan hati dan dzikir.

3. Menganjurkan banyak beramal dan beribadah.

4. Fikihnya bermazhab Abu Hanifah tapi tidak mengikat untuk anggotanya.

5. Toleran terhadap budaya dan adat lokal.

6. Aktif ber amar makruf nahi munkar.

7. Dakwahnya lemah-lembut dengan jaulah (kunjungan) ke semua kalangan.

8. Sangat toleran dan tidak radikal.

9. Aktif dalam tabiyah halaqoh.

10. Tidak mempunyai aturan dan struktur organisasi yang baku.

11. Tidak terlibat atau membahas masalah politik.

12. Tidak ofensif terhadap harokah dan ulama diluar kalangan mereka.

D. Kiprahnya

1. Aktif melakukan JAULAH yaitu perjalanan (safar) ke suatu kawasan dan menetap beberapa lama untuk melakukan tabligh (menyampaikan) dakwah Islam.

2. Aktif dalam tarbiyah halaqoh

3. Aktif dalam amar makruf nahi munkar lewat lisan.

III. Ihwanul Muslimin (Persaudaraan Islam)

A. Latar Belakang Sejarah

Pada era abad 19 Masehi gelombang kolonialisme dan imperialisme sedang melanda hampir di semua dunia Islam. Khilafah Islam Turki Usmani sedang dalam masa lemah dan sakit yang kronis. Turki Usmani sedang mati matian berperang melawan negara negara Eropah (Yunani, Rusia, Inggris, Italia dan Perancis). Satu per satu wilayah dalam kekuasaan Khilafah Turki Usmani dicaplok oleh negara-negara eropah tanpa bisa dicegah oleh Sultan Turki. Perancis menguasai Afrika Utara, Italia menguasai Aljazair, Rusia mencaplok wilayah kaukasus dan Asia Tengah, Inggris menguasai Syria-Palestina.

Disamping itu ada juga wilayah-wilayah dibawah kekuasaan Imperium Khilafah Turki Usmani yang memberontak dan melepaskan diri seperti : negara negara Slavia (Eropah Timur), Yunani dan negara negara balkan, Gubernur Mesir Muhamad Ali Pasha juga mengumumkan Mesir berdiri sendiri lepas dari kekuasaan Khilafah Turki Usmani, Penguasa Wilayah (war lord) di Semenanjung Arabia juga lepas dari kontrol kekuasaan pusat Turki Usmani. Wilayah Hijaz dan Nejed dikuasai oleh kaum Wahabi dan akhirnya mendirikan kerajaan Arab Saudi lepas dari Khilafah Turki Usmani. Akhirnya Khilafah Islamiah Turki Usmani benar benar mati setelah dibunuh oleh Kemal Attaruk pada tahun 1924 yang menghapuskan sistem Khilafah Islam yang menerapkan syariat Islam sebagai hukum positip negara dan menggantinya dengan sekulerisme yang menerapkan Undang Undang keluaran parlemen sebagai hukum positip negara.

Dunia Islam diluar bekas wilayah imperium Turki Usmani tidak jauh berbeda nasibnya, Pakistan-India dan Malaysia-Brunei dijajah oleh Inggris, demikian juga Indonesia dijajah oleh Belanda. Masa itulah Umat Islam sedang berada pada posisi paling rendah dalam bidang politik dan seperti kue yang seenaknya dibagi-bagi dan disantap oleh negara-negara Imperialis-Kolonialis Eropah. Keadaan itulah yang pernah diramalkan dalam hadis Nabi yaitu umat Islam “seperti makanan dimeja makan yang disantap oleh orang-orang yang lapar”-Benarlah apa yang dikatakan Rosulullah-.

Mesir pada mulanya berdaulat sendiri setelah Gubernur Muhammad Ali Pasha memberontak dan menyatakan berdaulat sendiri lepas dari kekuasaan Turki Usmani, ternyata kemudian tidak mampu menahan ekspansi penyerbuan tentara Inggris yang sebelumnya sudah menguasai Syiria dan Palestina, jadilah kemudian Mesir dijajah oleh Inggris.

Kekuasaan pemerintahan ada ditangan para penjajah, hukum positip yang diterapkan adalah Undang Undang buatan mereka, sumber daya kekayaan alam dihisap oleh para penjajah, Pendidikan dan usaha mencerdaskan umat sengaja tidak dilakukan. Dunia Islam benar benar berada pada posisi paling lemah secara politis, militer, ekonomi, iptek dan peradaban. Para Ulama Islam juga mengalami kebekuan pemikiran dan mencukupkan diri dengan mengikuti mazhab empat imam mazhab mujtahid dengan fanatisme pada masing-masing mazhab yang terkadang sampai muncul friksi fisik perselisihan dikalangan akar rumput umat.

Masa penjajahan yang panjang tersebut juga mengakibatkan masing-masng wilayah/negara Islam sibuk dengan dirinya sendiri dalam berbagai usaha perlawanan terhadap penjajah ditambah lagi racun pemikiran “NASIONALISME” dan “SEKULERISME” yang sengaja dihembuskan oleh para pemikir barat dengan tujuan agar Khilafah Islamiah yang menerapkan syariat Islam sebagai hukum positip dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus bernegara tidak hidup lagi dikalangan kaum muslilim. Kaum Penjajah menyadari bahwa system pemerintahan Khilafah Islamiah yang meliputi seluruh kaum muslimin dunia itulah kunci kekuatan Islam sebagi kekuatan politis yang dahulu sanggup membawa kaum muslimin pada puncak kejayaannya, maka kaum penjajah sengaja menebarkan racun nasionalisme dan sekulerisme di wilayah-wilayah Islam yang mereka kuasai.

Adanya gerakan reformasi Wahabi yang radikal dalam bidang akidah dan politik di Arab Saudi dan berhasil mengantarkan Dinasti Ibnu Saud ke tampuk kekuasaan di kerajaan Arab Saudi memberi inspirasi para pemikir Islam yang lain untuk melakukan pembaharuan pemikiran dalam memecahkan kebekuan dan tidur panjang umat islam dalam bidang pemikiran dan politik dan usaha melepaskan diri dan merdeka dari penjajahan.

Salah satu pemikir Islam yang menjadi “rising star” pada waktu itu adalah Syeikh Jamaluddin Al Afghani yang mempunyai konsep pemikiran “Pan Islamisme” yaitu usaha menyatukan kembali seluruh negara negara Islam yang sudah mulai berwawasan nasionalisme kebangsaan dalam satu Khilafah Islamiah seperti dahulu kala dan menerapkan syariat Islam sebagai hukum positip bernegara dan bermasyarakat.

Dalam bidang dakwah dan fikih sosial-kemasyarakatan muncul pemikir Mesir Syeikh Muhammad Abduh dan muridnya Syeikh Rasyid Ridlo yang memberikan wacana harokah (pergerakan) yang bergerak dalam bidang dakwah dan politik berupa amal jama’i yang mengorganisir kekuatan umat sebagai usaha memperbaiki keterpurukan umat dibawah tekanan penjajahan dan secara bertahap berusaha melepaskan diri dari penjajahan.

Ditempat yang berbeda yaitu di Pakistan muncul pemikiran yang sejalan dan dihembuskan oleh Syeikh Abul A’la Maududi yang intinya agar umat bersatu dalam amal jama’i yang terorganisir kemudian secara simultan melakukan dakwah, tarbiyah dan amar makruf nahi munkar. Pemikiran beliau banyak dituangkan dalam bentuk buku dan aktif memberi pengajian serta membentuk harokah Jamiat Al-Islami yang di kemudian hari menjadi partai politik yang membidani kelahiran Republik Pakistan terpisah dari India, namun setelah itu perkembangan harokah Jamiah Al- Islami tidak terlalu berkembang keluar dari anak benua India.

Di negara Mesir, pemikiran baru itu merupakan pembaharuan pemikiran yang selama ini beku dan terus bergulir dan berkembang hingga konsep itu direalisasikan oleh Imam Hasan Al Bana yang mendirikan harokah dakwah dan politik Ihwanul Muslimin.

Bermula dari pembicaraan dan diskusi Imam Hasan Al Bana dengan empat orang temannya yang bertekad untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa dan mereka berkomitmen dalam saling tolong menolong dalam semangat persaudaraan Islam. Mereka kemudian sering bertemu membentuk halaqoh dan melakukan diskusi membahas berbagai persoalan agama, perkembangan sosial kemasyarakatan dan kemaslahatan umat lainnya.

Beberapa orang akhirnya tertarik pada Halaqoh pengajian dan diskusi mereka dan akhirnya ikut bergabung dalam halaqoh itu. Anggota perkumpulan itu sangat antusias dalam melakukan dakwah langsung di masyarakat, bahkan mereka mendatangi kedai-kedai kopi dengan cara sopan dan santun mereka minta ijin kepada pemilik kedai untuk menyampaikan sedikit pengajian kepada pengunjung kedai menyampaikan dakwah Islam dan ajakan kembali kepada nilai-nilai luhur agama Islam.

Metode Dakwah mereka mulanya dianggap aneh dan tidak umum, yaitu memberikan pengajian singkat di kedai-kedai kopi dan tempat keramaian lainnya, tapi karena mereka menyampaikannya dengan sopan dan simpatik akhirnya banyak orang-orang terutama kaum muda yang tertarik dengan perkumpulan mereka dan ikut bergabung dalam halaqoh yang dipimpin Imam Hasan Al Bana.

Perkumpulan dan Halaqoh mereka semakin banyak anggotanya dan setiap anggota perkumpulan aktif menyampaikan dakwah dan pemikiran Imam Hasan Al-Bana dan konsep Harokah amal Jama’i dalam semangat persaudaraan Islam. Akhirnya perkumpulan ini mendeklarasikan diri sebagai Organisasi harokah Islamiah dengan nama IHWANUL MUSLIMIN dan menyepakati Imam Hasan Al Bana sebagai pemimpinnya.

Perjalanan Ihwanul Muslimin.

Imam Asy-Syahid Hasan al-Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1906. Lahir di sebuah kampung di kawasan Buhairah, Mesir. Beliau tumbuh di dalam lingkungan yang taat beragama, yang menerapkan Islam secara nyata dalam seluruh aspek kehidupannya.

Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal separuh isi Al-qur’an.
Di samping belajar agama di rumah dan di masjid, ia belajar pada sekolah pemerintah, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Dar al-’Ulum, Kairo dan tamat pada tahun 1927.
Setelah tamat dari Dar al-’Ulum, ia menjadi guru pada sebuah Sekolah Menengah (SMP) di Isma’iliyyah. Dari Isma’iliyyah inilah ia memulai aktivits keagamaannya di tengah-tengah masyarakat, terutama di warung-warung kopi di hadapan para karyawan Proyek Terusan Suez.

Setiap hari — seusai mengajar, ia mengunjungi warung kopi untuk berdialog dengan masyarakat. Malam harinya, ia salat berjamaah di masjid terdekat, dan kemudian seringkali melanjutkan pembicaraannya di warung kopi.

Pada masa-masa liburan panjang setiap musim panas, ia menghabiskan waktu bepergian ke berbagai kota dan desa di Mesir, untuk mengajar masyarakat di rumah, di atas kendaraan, di warung kopi, atau masjid. Tubuhnya yang kekar (sekalipun dengan postur yang agak pendek dibanding rata-rata orang Mesir), serta penampilannya yang menarik, dan lidahnya yang fasih, dan perilakunya yang simpatik memang mendukung Al-Banna untuk menjadi seorang public figure.

Pada bulan Dzul Qa’idah 1327 H/April 1928 M adalah bulan didirikannya cikal bakal gerakan Ihwanul muslimin

Dalam pertumbuhan awalnya, Al-Ihwan lebih memusatkan usaha untuk pembentukan kepribadian masyarakat. Ini terlihat dari beberapa prinsip yang diajarkan Al-Banna yang merupakan petunjuk harian Al-Ihwan. Prinsip-prinsip itu antara lain berbunyi: “Lakukanlah salat bila anda mendengar azan, bagaimana pun kondisi anda pada waktu itu. Baca Alquran, renungkan dan dengarkan, serta selalulah mengingat Allah. Jangan anda membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tak berguna.”
Selanjutnya, Al-Banna juga mengatakan: “Jangan banyak bersilat lidah dalam masalah apa pun, karena itu tidak bermanfaat. Jangan banyak berhura-hura dan bersantai, karena perjuangan bangsa perlu kesungguhan. Jauhilah membicarakan keburukan orang di belakangnya. Jangan mengejek organisasi-organisasi atau pergerakan-pergerakan dengan tidak adil. Berusahalah untuk selalu ramah bila anda bertemu teman-teman Al-Ihwan, sekalipun ia tidak membuat inisiatif, karena idiologi kita berdiri di atas tiang ilmu pengetahuan dan cinta kasih.Bantulah orang lain semaksimal mungkin agar ia dapat memanfaatkan waktunya, dan bila anda mempunyai proyek untuk diselesaikan, maka selesaikanlah proyek itu.”

Prinsip-prinsip tersebut tak lain adalah sebagian dari prinsip-prinsip Islam, yang disimpulkan dalam bahasa sederhana agar dapat dilaksanakan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Intinya adalah bagaimana seorang muslim dapat menjalankan ajaran Islam secara murni dan konsekuen dalam kehidupan modern.
Prinsip-prinsip itu dijalankan melalui jalur organisasi dari ranting, cabang, wilayah (yang tersebar di seluruh pelosok kota dan desa di Mesir), dan sampai ke pusat, yang secara organisatoris selalu dievaluasi dari waktu -waktu. Di sini kelihatan sekali ciri pergerakan dari organisasi Al-Ihwan.
Setelah pemantapan kepribadian, maka program Al-Ihwan selanjutnya adalah pembentukan masyarakat Islam yang menjalankan syariat Islam. Bagi Al-Ihwan, Islam adalah jalan hidup menyangkut individu, masyarakat, negara, hubungan internasional dan seterusnya. Al-Banna menegaskan, “Ia (Islam — Red) adalah sikap moral, kekuatan, kasih sayang dan keadilan. Ia adalah pengetahuan, hukum, ilmu dan pengadilan. Ia adalah materi, kekayaan, usaha dan kebutuhan. Ia adalah jihad dan dakwah atau antara dan gagasan. Ia juga akidah yang benar dan ibadah yang betul, ibarat satu koin dengan dua wajah.”
Seperti program pembentukan kepribadian, maka Al-Ihwan juga bertekad untuk melaksanakan program sosial politik secara bertahap. Dalam Anggaran Dasar (Nizam Asasi) Al-Ihwan, antara lain menyebutkan: Al-Ihwan senantiasa mengutamakan kemajuan bertahap dalam pembangunan, usaha produktif, dan kerja sama dengan para pecinta kebaikan dan kebenaran. Al-Ihwan tak ingin melukai siapa pun, apa pun agama, ras dan kebangsaannya.

Kegiatan Al-Ihwan mulai menarik perhatian pemerintah dan dunia luar, setelah mereka memindahkan pusat kegiatan dari Ismailiyah ke Kairo pada tahun 1932. Apalagi setelah Al-Banna mengirim surat kepada raja Mesir, Faruq (1936) dan sejumlah menteri kabinet, agar melaksanakan syariat Islam dan meninggalkan cara hidup yang tidak Islami.

Tahun 1352 H/1933 M beliau menerbitkan sebuah berita pekanan Ihwan yang dipimpin oleh Ustadz Muhibuddin Khatib (1303 – 1389 H/1886 – 1969 M). Kemudian tahun 1357 H/1938 M terbit majalah al-Nadzir. Lalu menyusul al-Syihab, tahun 1367 H/1947 M. Seterusnya majalah dan berita-berita Ihwan terbit secara teratur.

Situasi di Mesir pada 1930-1940-an, seperti kebobrokan moral, penetrasi budaya asing, pemerintah yang tidak tegas, dominasi Inggris yang begitu kuat dalam negeri, dominasi perusahaan -perusahaan asing, dan lain-lain, telah bersaham dalam membentuk sikap militansi Al-ihwan. Sebagai gerakan dan idiologi, sikap Al-ihwan ini berhubungan erat dengan krisis intelektual, sosial, ekonomi dan politik yang melanda Mesir sejak abad ke-19.Krisis-krisis ini sebagiannya adalah hasil dari berbagai kebijakan yang ditempuh oleh para penguasa Mesir sebelum ini, dalam bidang pendidikan, hukum dan politik melalui suatu proses westernisasi. Negara sejak abad 19 mengirim misi pendidikan ke luar negeri dan mengundang perancang dan tenaga ahli Barat ke dalam negeri. Sistem pendidikan Barat yang sekuler barangsur-angsur menggeser pendidikan tradisional, dan hukum sekular Barat menggantikan hukum syariat yang telah berlaku selama berabad-abad.

Politik pemerintah semakin cenderung untuk memelihara kepentingan Barat. Terusan Suez sebagai jalan perhubungan penting antara Barat dan Timur berada di tangan asing. Di Palestina kekuatan Zionis internasional semakin mengkristal untuk mendirikan negara nasional Yahudi yang mengancam eksistensi umat Islam dan bangsa Arab. Sementara itu, para penguasa Arab lebih banyak membuat kebijakan yang dapat mempertahankan kepentingan mereka daripada kepentingan rakyat. Di pihak lain, Al-Azhar sebagai lembaga keagamaan tertua di dunia Islam bersikap melempem dan sulit untuk dijadikan panutan bagi sebuah pembaruan yang sejalan dengan semangat Islam.

Sebagai organisasi pergerakan, Al-ihwan tak mau membiarkan kondisi yang tidak sejalan dengan tuntutan Islam itu berjalan terus. Melalui media dan sarana yang dimilikinya (surat kabar, majalah, pamlet, surat terbuka, pidato, khutbah, rapat umum dan lain-lain), organisasi ini memberikan imbauannya kepada rakyat dan pemerintah agar mengambil garis Islam dalam semua kebijakan.

Tahun 1948 Ihwan turut serta dalam perang Palestina. Mereka masuk dalam angkatan perang khusus. Peristiwa ini telah direkam secara rinci oleh ustadz Kamil Syarif dalam bukunya ‘Ihwanul muslimin fi Harbi Falasthin.

Kalau kemudian pemerintah melihat Al-ihwan sebagai ancaman, bukan semata karena imbauan kebaikan itu, tapi lebih karena sebagai organiasasi massa, Al-ihwan dapat memaksakan kehendaknya. Usaha yang dilakukannya bukan hanya bidang penerangan, pendidikan dan kebajikan semata, tetapi juga mencakup usaha -usaha ekonomi yang menjadi urat nadi organisasi, latihan bela diri dan bahkan pasukan para militer. Dalam perang melawan sekutu Inggris-Israel pada tahun 1948, misalnya, pasukan sukarelawan Al-ihwan terbukti tangguh dalam mematahkan kekuatan musuh.

Pada tanggal 8 Nopember 1948, Muhammad Fahmi Nagrasyi, perdana menteri Mesir waktu itu, membekukan gerakan Ihwan dan menyita harta kekayaannya serta menangkap tokoh-tokohnya.
Desember 1948, Naqrasyi diculik. Orang-orang Ihwan dituduh sebagai pelaku penculikan dan pembunuhan tersebut. Ketika jenazah Naqrasyi di usung, pendukung-pendukungnya berteriak-teriak, “Kepala Naqrasyi harus dibayar dengan kepala Hasan al-Banna.”

Kegiatan dan kejayaan yang dicapai al-ihwan al-Muslimin tidak disenangi oleh kerajaan dan pihak Inggris. Negara barat mendesak kerajaan Mesir supaya membubarkan Jamaah ihwanul Muslimin. Pasukan tentara al-ihwan yang berperang di Palestina telah menunjukkan keberanian dan komitmen yang luar biasa. Hal itu Justru menjadikan kegamangan dan kekhawatiran politik musuh.

Pada bulan November 1948, gencatan senjata telah diadakan Palestina. Pada 8 November 1948, Perdana Menteri Mesir mendeklarasikan pembubaran al-ihwan. Unit-unit tentara Mesir dan tentara al-ihwan yang berjuang di Palestina itu dipanggil balik. Berbagai-bagai tuduhan dan fitnah dilemparkan ke atas al-ihwan. Anggota-anggota al-ihwan ditangkap, dimasukkan ke dalam penjara dan mereka diseksa dengan teruk, malah ada yang dibunuh. Tindakan tersebut telah melumpuhkan sama sekali kegiatan al-lhwan.
Pada 12 Februari 1949 jam 5 petang, Hasan al-Banna bersama iparnya Abdul Karim Mansur, seorang pejabat, berada di rumah pejabat tersebut. Mereka menunggu Menteri Zaki Ali Basya yang dikatakan mewakili kerajaan untuk berunding, tetapi dia tak kunjung tiba. Akhirnya setelah selesai menunaikan solat Isya’ mereka memanggil taksi untuk pulang. Ketika baru saja menaiki teksi yang dipanggil, dua orang memakai penutup
kepala menuju ke arah taksi dan salah seorang daripada mereka terus melepaskan tembakan pistol dan kedua-dua mereka terkena tembakan itu.
Iparnya itu tidak dapat bergerak akibat terkena tembakan tersebut.Hasan al Banna walaupun terkena tujuh tebakan , beliau masih mampu berjalan masuk semula ke pejabat Jam’iyyah al Syubban al-Muslimin memanggil ambulan untuk membawa mereka ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit Qasral ‘Aini, mereka dikawal rapi oleh Jenderal Muhammad al-Jazzar dan tidak melarang memberikan perawatan kepada Hasan al-Banna. Pada pukul 12.50 tengah malam, Imam Asy Syahid Hasan al-Banna menghembuskan nafas yang terakhir akibat tumpahan darah yang banyak pada usia 43 tahun.

Setelah peristiwa itu tokoh-tokoh Al-ihwan ditangkap, aset organisasi disita, dan berbagai media massa mereka diberangus. Kejadian seperti itu terjadi berulang kali. Dari tahun 1940 sampai Desember 1948, pergerakan ini dilarang seutuhnya.

Tahun 1950 berdasarkan keputusan Dewan Tertinggi Negara, Ihwan direhabilitasi. Ketika itu Mesir diperintah oleh kabinet al-Nuhas. Dewan tersebut juga memutuskan bahwa pembekuan Ihwan selain tidak sah, juga inkonstitusional.

Tahun 1950 ustadz Hasan al-Hudhaibi (1306 -1393 H/1891 – 1973 M), terpilih menjadi Mursyid ‘Al-Mahdi Ihwanul muslimin. Ia adalah salah seorang tokoh kehakiman Mesir. Ia juga berkali-kali ditangkap. Tahun 1954, ia divonis hukuman mati, tetapi kemudian diringankan menjadi seumur hidup. Tahun 1971 ia dibebaskan terakhir kalinya.

Oktober 1951 konflik antara Mesir dan Inggris semakin memuncak. Ihwan melancarkan perang urat saraf melawan Inggris di Terusan suez. Peristiwa ini telah direkam oleh Kamil Syarif dalam bukunya ‘Al-Muqawamat al-Sirriyyah fi Qanat Suwes.

Tanggal 23 Juli 1952, pasukan Mesir di bawah pimpinan Muhammad Najib, bekerja sama dengan Ihwan melancarkan Revolusi Juli. Tetapi kemudian Ihwan menolak kerja sama dalam pemerintahan, karena mereka mempunyai pendapat dan pandangan yang jelas tentang metode revolusi.

Jamal Abdul nashir menganggap penolakan tersebut sebagai penolakan terhadap mandat revolusi. Kemudian kedua belah pihak terlibat serangkaian konflik dan permusuhan yang semakin hari semakin tajam. Akibatnya, tahun 1954, pihak pemerintah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap anggota Ihwan dan beribu-ribu orang dijebloskan ke dalam penjara.

Pada mulanya, Jamal Abdul Nasir dan Anwar Sadat sendiri adalah termasuk aktivis Al-ihwan. Namun kemesraan antara Al-ihwan dan Nasir serta Sadat segera berakhir, tak lama setelah yang pertama menjadi presiden. Di bawah pemerintahan Jamal Abdul Nasir, Al-ihwan mengalami penderitaan kembali. Para pengikutnya dipenjarakan dan beberapa di antaranya bahkan ada yang digantung. Buku-buku dan penerbitan mereka dilarang terbit.

Alasan pemerintah, karena orang Ihwan telah berupaya memusuhi dan mengancam kehidupan Jamal Abdul nashir di lapangan Mansyiyyah, Iskandariyyah. Bahkan pemerintah Mesir telah menghukum mati 6 anggota Ihwan.1. Abdulqadir Audah
2. Muhammad Farghali
3. Yusuf Thal’at
4. Handawi Duwair
5. Ibrahim Thayyib
6. Muhammad Abdullathif
Tahun 1965 – 1966 bentrokan antara Ihwan dan pemerintah Mesir terulang kembali untuk kedua kalinya. Pemerintah kembali melakukan penangkapan besar-besaran, melakukan penyiksaan serta memenjarakan anggota Ihwan. Bahkan tiga orang di antarannya telah dihukum gantung, yaitu :

Sayyid Quthb (1324 – 1387 H/1906 – 1966 M). Ia termasuk pemikir Ihwan nomor dua setelah Hasan al-Banna. Dan termasuk salah seorang tokoh Islam di zaman modern ini. Ditangkap tahun 1954 M dan disekap di dalam penjara selama 10 tahun. Tahun 1964 ia dikeluarkan dari penjara atas desakan presiden Irak, Abdussalam Arif. Namun tak lama kemudian ia diculik kembali untuk menghadapi hukuman mati. Demikian juga dengan Yusuf Hawasi dan
Abdulfattah Isma’il

Sejak itu Ihwan bergerak secara rahasia sampai Jamal Abdul nashir meninggal dunia 28 September 1970. Ketika Anwar Sadat berkuasa, orang-orang Ihwan mulai di lepas secara bertahap.

Akibat dari kondisi yang kurang menguntungkan itu, beberapa tokoh Al-ihwan banyak yang terpaksa lari ke luar negeri. Ada yang ke negara-negara Arab dan lainnya ke Eropa dan Amerika. Namun di mana pun mereka berada, mereka tidak melupakan perjuangan organisasi dan selalu melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan kondisi yang ada.

Dari situ, meski di dalam negeri (Mesir) Al-ihwan banyak mengalami hambatan, gagasan Al-ihwan tetap berkembang. Apalagi banyak di kalangan idiolog-idiolog Al-ihwan yang berbakat menulis dalam berbagai bidang. Sebut, misalnya ‘Audah, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Muhammad Al-Ghazali, Abdullah As-Samman, As-Siba’i, Mushthafa Ramadan, Fathi Yakan dan lain-lain.

Kemudian muncul dialog generasi kedua yang lebih berbentuk akademis semisal Yusuf Al-Qardhawi, ‘Isa ‘Abduh, Al-Jerisyi, At-Turabi, Asy-Syalabi dan seterusnya. Karya-karya mereka banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia. Dengan demikian, Al-ihwan telah memberikan sahamnya untuk sebuah pemahaman Islam pergerakan di seluruh dunia.

Sepeninggal Hudhaibi, Umar Tilmisani (1904?1986 M) terpilih menjadi Mursyid. Di bawah pimpinannya Ihwan menuntut hak-hak jama’ah secara utuh dan mengembalikan hak milik jama’ah yang dibekukan oleh Jamal Abdul nashir. Tilmisani menempuh jalan tidak konfrontatif dengan penguasa dan berkali-kali beliau menyerukan, “Bergeraklah dengan bijak dan hindarilah kekerasan dan ekstrimisme.”

Di luar Mesir banyak tikoh-tokoh Ihwan yang muncul, antara lain :
Syaikh Muhammad Mahmud Shawwaf, pendiri dan pengawas umum Ihwan di Irak.
Dr. Mushthafa al-Siba’i, pengawas umum pertama Ihwan di Suriah.
Gerakan Ihwan di Yordania berdiri tanggal 13 Ramadhan 1364 H. pemimpin pertamanya ialah Syaikh Abdullathif Abu Qurrah.
Di beberapa negara Arab pada waktu ini, seperti Sudan, Yordania, dan Palestina, kegiatan politis Islam Al-ihwan tampak menonjol. Di Sudan, berkat jasa Dr Hasan At-Turabi, idiologi terkenal Al-ihwan, beberapa program Islamisasi telah dapat dilaksanakan dalam negara, sekalipun mendapat tekanan yang berat dari negara-negara Barat, dan bahkan Mesir sendiri sebagai negara tetangga dan tanah kelahiran Al-Banna.

Di Yordania beberapa wakil Al-ihwan dapat duduk dalam parlemen dan beberapa posisi penting dalam pemerintahan. Di Palestina, di balik gerakan Al-Hammas yang menantang negara sekular yang ingin didirikan oleh Arafat juga dikabarkan berdiri aktivis -aktivis Al-ihwan.

Ihwanul Muslimin sebenarnya tidak lain dari sebuah organisasi pergerakan Islam yang berusaha menerapkan cara-cara hidup yang Islami, terutama kehidupan sosial-politik, melalui sebuah program yang selalu direvisi dari waktu ke waktu. Karena dominasi kebudayaan sekular yang begitu besar di dunia Islam, termasuk sekularisasi dalam pemerintahan, organisasi ini sering berada dalam konflik dengan kjekuatan-kekuatan sekular yang ada dalam masyarakat. Teologi mereka yang tidak memisahkan antara ijtihad dan jihad, agama dan politik, membuat nama mereka sering dihubungkan kepada aksi politik dan tindak kekerasan, baik secara sah atau tidak.
PEMIKIRAN DAN DOKTRIN-DOKTRINNYA
Pemahaman Ihwan terhadap Islam bersifat universal, tidak mengenal adanya pemisahan antara satu aspek dengan aspek lainnya.
Kaitanya dengan dakwah Ihwan, Syaikh Hasan al-Banna mengatakan, “Gerakan Ihwan adalah dakwah salafiyah, thariqah sunniyah, haqiqah shufiyyah, lembaga politik, klub olah raga, lembaga ilmiah dan kebudayaan, perserikatan ekonomi dan pemikiran sosial.”
Selanjutnya Syaikh Hasan al-Banna mengatakan bahwa ciri gerakan Ihwan adalah:1. Jauh dari sumber pertentangan.
2. Jauh dari pengaruh riya dan kesombongan.
3. Jauh dari partai politik dan lembaga-lembaga politik.
4. Memperhatikan kaderisasi dan bertahap dalam melangkah.
5. Lebih mengutamakan aspek aspek amaliyah produktif dari pada propaganda dan reklame.
6. Memberi perhatian sangat serius kepada para pemuda.
7. Cepat tersebar di kampung-kampung dan dikota-kota.
Selain itu Syaikh menyebutkan karakteristik Ihwan sebagai berikut :

- Gerakan Ihwan adalah gerakan Rabbaniyyah. Sebab azas yang menjadi poros sasarannya ialah mendekatkan manusia kepada Rabb-nya.

- Gerakan Ihwan bersifat ‘alamiyah (Internasional). Sebab arah gerakan ditujukan kepada semua umat manusia.

- Gerakan Ihwan bersifat Islami. Sebab orientasi dan nisbatnya hanya kepada Islam.
Selain itu juga Syaikh menetapkan tingkatan amal yang merupakan konsekuensi logis setiap anggota, yaitu :

1. Memperbaiki diri, sehingga menjadi pribadi yang kuat fisik, teguh dlam berakhlak, luas dalam berfikir, mampu mencari nafkah, lurus berakidah dan benar dalam beribadah.
2. Membentuk rumah tangga islami.
3. Memotifasi masyarakat untuk menyebarkan kebaikan, memerangi kemungkaran dan kerusakan.
4. Memerdekakan negara dengan membersihkan rakyatnyas dari berbagai bentuk kekuasaan asing kuffar di bidang poplitik, ekonomi ataupun mental spiritual.
5. Memperbaiki pemerintahan sehingga benar-benar menjadi pemerintahan yang islami.
6. Mengembalikan eksistensi negara-negara Islam dengan memerdekakan negerinya dan menghidupkan kembali keagungannya.
7. Menjadi guru dunia dengan menyebarkan Islam ke tengah-tengah umat manusia, sehingga tidak ada fitnah lagi dan Dien hanya benar-benar milik Allah.
“Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan Nur (Dien)-Nya.” (Q.S. at-Taubah :32).
Tentang tahapan dakwah Hasan al-Banna membaginya menjadi tiga tahap :
· Tahap pengenalan.
· Tahap pembentukan.
· Tahap pelaksanakan.
Dalam Risalah Ta’alim, Hasan al-Banna berkata, “Rukun Bai’at kita ada sepuluh. Karena itu hafallah baik-baik. Yaitu: Faham, Ikhlas, Amal, Jihad, Berkorban, Tetap pada pendirian, Tulus, Ukhuwah dan percaya diri.” Kemudian beliau berkata, “Wahai saudaraku yang sejati! Ini merupakan garis besar dakwah Anda. Anda dapat menyimpulkan prinsip-prinsip tersebut menjadi lima kalimat berikut :

1. Allah tujuan kami.
2. Rasulullah SAW. teladan kami.
3. Al-Qur’an dustur (undang-undang)kami.
4. Jihad jalan kami.
5. Mati sahid dalam fisabilillah adalah puncak cita-cita kami yang tertinggi.

Ciri-cirinya dapat disimpulkan menjadi lima kata, yaitu : sederhana, membaca Al-Qur’an, shalat, sikap kesatria dan akhlaq.”

Ustadz Sayyid Quthb, dalam bukunya Khashaish al-Tashawwur al-Islami wa Muqawwimatuhu, memberikan gambaran tentang pemahamannya dan pemahaman Ihwan. Karakteristik konsep Islam itu berazaskan kepada :

1. Rabbaniyyah
2. Tetap
3. Seimbang
4. Positif
5. Realistik
6. Tauhid.

Setiap karakteristik diberi penjelasan tersendiri secara gamblang dan luas.
Lambang Ihwanul muslimin adalah dua bilah pedang menyilang melingkari Al-Qur’an, ayat Al-Qur’an Wa Uidlu dan tiga kata: haq (kebenaran), quwwah(kekuatan) dan hurriyyah (kemerdekaan).
AKAR PEMIKIRAN DAN SIFAT IDIOLOGINYA

Ihwanul muslimin telah mengadopsi dakwah salafiyyah menjadi gerakan dakwahnya. Ia menekankan kepada pentingnya penelitian dan pembahasan terhadap dalil serta pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membersihkan diri dari segala bentuk kemusrikan untuk mencapai kesempurnaan tauhid.

Dakwah Ihwan banyak dipengaruhi oleh Syaikh Abdulwahhab, Sanusiyyah dan Rasyid Ridha. Pada umumnya dakwah tersebut merupakan kelanjutan dari Madrasah Ibnu Taimiyyah (wafat 702 H/1328 M), yang juga merupakan kelanjutan Madrasah Imam Ahmad bin Hambal.
Ihwan merupakan tashawwuf sebagai sarana pendidikan dan peningkatan jiwa seperti pernah dilakukan para ahli tashawwuf terdahulu yang aqidahnya benar dan jauh dri segala bentuk bid’ah, khurafat, menghina diri dan sifat negatif.

Hasan al-Banna merangkum semua pemahaman tersebut dalam dakwahnya. Ditambah pula dengan konsepsi-konsepsi yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan lingkungan. Sehingga dakwahnya mampu menghadapi berbagai arus yang melanda Mesir dan kawasan lain.

PENYEBARAN DAN KAWASAN PENGARUHNYA

Gerakan Ihwan dimulai di Isma’iliyyah kemudian beralih ke Kairo. Dari Kairo tersebar ke berbagai pelosok dan kota do Mesir. Akhir tahun 40-an, cabang Ihwan di Mesir sudah mencapai 3000 cabang. Tiap cabang memiliki anggota yang cukup banyak.

Gerakan tersebut kemudian meluas ke negara-negara Arab. Ia berdiri kukuh di Suriah, Palestina, Yordania, libanon, Irak, Yaman dan lain-lain. Dewasa ini anggota dan simpatisannya tersebar di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia aktivis-aktivis Ihwanul Muslimin mendirikan Partai Keadilan Sejatera (PKS) atau paling tidak menerapkan pemikiran dan metode dakwah dalam harokahnya.

Salah satu pencapaian Al-Ihwan yang paling signifikan adalah terbentuknya generasi baru Muslim yang memahami Islam secara benar, meyakininya secara mendalam, mempraktikkannya dalam diri sendiri dan keluarganya, berjuang meninggikan kalimatnya, menerapkan syari’atnya, dan menyatukan umatnya.

B. Karakteristik

1. Mempunyai peraturan dan struktur organisai yang baku.

2. Aktif dalam amar makruf nahi mungkar.

3. Fikihnya mengikuti mazhab Syafii tapi tidak mengikat ke anggotanya.

4. Tidak puritan dan adaptif dengan masalah aktual progressif-kekinian.

5. System Tarbiyah kadernya telah mapan dan baku.

6. Menerapkan beberapa keluarga menjadi satu ikatan Usroh yang merupakan sel terkecil dari Harokah.

7. Memasuki wilayah politik.

8. Seterateginya elastis, menjadi gerakan bawah tanah ketika tertekan.

9. Bergabung dengan parlemen

10. Toleran dalam masalah ikhtilaf.

11. Tidak ofensif menyerang pemikiran harokah yang lain.

12. Melakukan aktivitas hampir di seluruh aspek sosial-kemasyarakatan.

C. Kiprahnya

1. Mendirikan Percetakan dan penerbitan.

2. Mendirikan badan / yasasan sosial kemasyarakatan.

3. Aktif dalam tarbiyah pembinaan kader melalui Halaqoh-Usroh.

4. Aktif dalam amar makruf nahi munkar..

5. Aktif memberikan ceramah/seminar/pengajian.

6. Mendirikan Partai Politik dan ikut serta dalam pemilu.

IV. Hizbut Tahrir (Partai Pembebas)

A. Latar Belakang Sejarahnya

Hizbut Tahrir didirikan di Al-Quds pada tahun 1372 H (1953 M) oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama, pemikir, politisi dan pernah menjadi Qadhi (hakim) di pengadilan Syariat di Al-Quds.

Sebagian kalangan mengatakan bahwa pendiri Hisbut Tahrir pada mulanya termasuk aktivis atau simpatisan Ihwanul Muslimin. Setelah terbunuhnya Imam Hasan Al Bana, pemimpin Ihwanul Muslimin pada tahun 1949 boleh dikatakan aktivitas Ihwanul Muslimin mengalami stagnasi, apalagi sebagian besar tokoh-tokoh utama Ihwan banyak yang ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Mesir. Tekanan hebat yang dilakukan oleh pemerintah Mesir membuat Ihwan merubah kebijaksanaannya yaitu lebih lunak dan bergerak dibawah tanah.

Melunaknya sikap Ihwan dan aktivitasnya yang bergerak dibawah tanah kurang disetujui oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, maka beliau pun memutuskan mendirikan Hizbut Tahrir yang garis kebijaksanannya terang-terangan dan tegas menyatakan diri sebagai partai politik yang bertujuan untuk membebaskan negara-negara Islam dari kolonialisme-penjajahan bangsa-bangsa eropah, membebaskan Baitul Makdis dari cengkeraman Zionis Israel, membebaskan negeri-negeri Islam dari pemerintahan sekuler, dari pemerintahan monarki regional menuju Khilafah Islam international.

Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam. Politik merupakan kegiatannya, dan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir bergerak di tengah-tengah umat, dan bersama-sama mereka berjuang untuk menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, serta membimbing mereka untuk mendirikan kembali sistem Khilafah Islamiah dan menegakkan hukum yang diturunkan Allah dalam realitas kehidupan.

Hizbut Tahrir merupakan organisasi politik, bukan organisasi kerohanian (seperti tarekat), bukan lembaga ilmiah (seperti lembaga studi agama atau badan penelitian), bukan lembaga pendidikan (akademis), dan bukan pula lembaga sosial (yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan). Ide-ide Islam menjadi jiwa, inti, dan sekaligus rahasia kelangsungan kelompoknya.

Hizbut Tahrir bermaksud membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah, membebaskan umat dari ide-ide, sistem perundang-undangan, dan hukum-hukum kufur, serta membebaskan mereka dari cengkeraman dominasi dan pengaruh negara-negara kafir. Hizbut Tahrir bermaksud juga membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah SWT dapat diberlakukan kembali.

TUJUAN HIZBUT TAHRIR

Hizbut Tahrir bertujuan melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini berarti mengajak kaum muslimin kembali hidup secara Islami dalam Darul Islam dan masyarakat Islam. Di mana seluruh kegiatan kehidupannya diatur sesuai dengan hukum-hukum syara’. Pandangan hidup yang akan menjadi pedoman adalah halal dan haram, di bawah naungan Daulah Islam, yaitu Daulah Khilafah, yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang diangkat dan dibai’at oleh kaum muslimin untuk didengar dan ditaati agar menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Di samping itu Hizbut Tahrir bertujuan membangkitkan kembali umat Islam dengan kebangkitan yang benar, melalui pola pikir yang cemerlang. Hizbut Tahrir berusaha untuk mengembalikan posisi umat ke masa kejayaan dan keemasannya seperti dulu, di mana umat akan mengambil alih kendali negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia ini, dan negara Khilafah akan kembali menjadi negara nomor satu di dunia –sebagaimana yang terjadi pada masa silam– serta memimpin dunia sesuai dengan hukum-hukum Islam.

Hizbut Tahrir juga bertujuan untuk menyampaikan hidayah (petunjuk syari’at) bagi umat manusia, memimpin umat Islam untuk menentang kekufuran beserta segala ide dan peraturan kufur, sehingga Islam dapat menyelimuti bumi.

KEGIATAN HIZBUT TAHRIR

Kegiatan Hizbut Tahrir adalah mengemban dakwah Islam untuk mengubah situasi masyarakat yang rusak menjadi masyarakat Islam. Hal ini dilakukan dengan mengubah ide-ide rusak yang ada menjadi ide-ide Islam, sehingga ide-ide ini menjadi opini umum di tengah masyarakat serta menjadi persepsi bagi mereka. Selanjutnya persepsi ini akan mendorong mereka untuk merealisasikan dan menerapkannya sesuai dengan tuntutan Islam.

Juga dengan mengubah perasaan yang dimiliki anggota masyarakat menjadi perasaan Islam –yakni ridla terhadap apa yang diridlai Allah, marah dan benci terhadap apa yang dimurkai dan dibenci oleh Allah– serta mengubah hubungan/ interaksi yang ada dalam masyarakat menjadi hubungan/ interaksi yang Islami, yang berjalan sesuai dengan hukum-hukum Islam dan pemecahan-pemecahannya.

Seluruh kegiatan yang dilakukan Hizbut Tahrir adalah kegiatan yang bersifat politik, di mana Hizbut Tahrir memperhatikan urusan masyarakat sesuai dengan hukum-hukum serta pemecahannya secara syar’i, karena politik adalah mengurus dan memelihara urusan masyarakat sesuai dengan hukum-hukum Islam dan pemecahan-pemecahannya.

Kegiatan-kegiatan yang bersifat politik ini tampak jelas dalam kegiatannya mendidik dan membina umat dengan tsaqafah (kebudayaan) Islam, meleburnya dengan Islam, membebaskannya dari aqidah-aqidah yang rusak, pemikiran-pemikiran yang salah, serta persepsi-persepsi yang keliru, sekaligus membebaskannya dari pengaruh ide-ide dan pandangan-pandangan kufur.

Kegiatan politik ini tampak juga dalam aspek pergolakan pemikiran (ash shiro’ul fikri) dan dalam perjuangan politiknya (al kifahus siyasi). Pergolakan pemikiran tersebut terlihat dalam penentangannya terhadap ide-ide dan aturan-aturan kufur. Kegiatan ini nampak pula dalam penentangannya terhadap ide-ide yang salah, aqidah-aqidah yang rusak, atau persepsi-persepsi yang keliru, dengan cara menjelaskan kerusakannya, menampakkan kekeliruannya, dan menjelaskan ketentuan hukum Islam dalam masalah tersebut.

Adapun perjuangan politiknya, terlihat dari penentang-annya terhadap kaum kafir imperialis untuk memerdekakan umat dari belenggu dominasinya, membebaskan umat dari cengkeraman pengaruhnya, serta mencerabut akar-akarnya yang berupa pemikiran, kebudayaan, politik, ekonomi, maupun militer dari seluruh negeri-negeri Islam.

Perjuangan politik ini juga tampak jelas dalam kegiatannya menentang para penguasa, mengungkapkan pengkhianatan dan persekongkolan mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap mereka serta berusaha menggantinya tatkala mereka mengabaikan hak-hak umat, tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, melalaikan salah satu urusan umat, atau menyalahi hukum-hukum Islam.

Seluruh kegiatan politik tersebut dilakukan tanpa menggunakan caca-cara kekerasan (fisik/senjata). Akan tetapi sebatas aktivitas menyampaikan ide-ide (konsep-konsep) dengan lisan atau tulisan, sesuai jejak dakwah yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Jadi kegiatan Hizbut Tahrir secara keseluruhan adalah kegiatan yang bersifat politik, baik sebelum maupun sesudah mengambilalih pemerintahan (melalui umat).

Kegiatan Hizbut Tahrir bukan di bidang pendidikan, karena ia bukanlah madrasah (sekolah). Begitu pula seruannya tidak hanya bersifat nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk. Akan tetapi kegiatannya bersifat politik, dengan cara mengemukakan ide-ide (konsep-konsep) Islam beserta hukum-hukumnya untuk dilaksanakan, diemban, dan diwujudkan dalam kenyataan hidup dan pemerintahan.

Hizbut Tahrir mengemban dakwah Islam agar Islam dapat diterapkan dalam kehidupan dan agar Aqidah Islamiyah dapat menjadi dasar negara dan dasar konstitusi serta undang-undang. Karena Aqidah Islamiyah adalah aqidah aqliyah (aqidah yang menjadi dasar pemikiran) dan aqidah siyasiyah (aqidah yang menjadi dasar politik) yang melahirkan aturan untuk memecahkan problem manusia secara keseluruhan, baik di bidang politik, ekonomi, budaya, sosial, dan lain-lain.

METODE DAKWAH HIZBUT TAHRIR

Metode yang ditempuh Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwah adalah hukum-hukum syara’, yang diambil dari thariqah (metode) dakwah Rasulullah SAW, sebab thariqah itu wajib diikuti. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah).” (QS Al Ahzab : 21)

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS Ali Imran : 31)

“Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambilah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.” (QS Al Hasyr : 7)

Dan banyak lagi ayat lain yang menunjukkan wajibnya mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah SAW, menjadikan beliau suri teladan, dan mengambil ketentuan hukum dari beliau.

Berhubung kaum muslimin saat ini hidup di Darul Kufur –karena diterapkan atas mereka hukum-hukum kufur yang tidak diturunkan Allah SWT– maka keadaan negeri mereka serupa dengan Makkah ketika Rasulullah SAW diutus (menyampaikan risalah Islam). Untuk itu fase Makkah wajib dijadikan sebagai tempat berpijak dalam mengemban dakwah dan mensuriteladani Rasulullah SAW.

Dengan mendalami sirah Rasulullah SAW di Makkah hingga beliau berhasil mendirikan suatu Daulah Islam di Madinah, akan tampak jelas beliau menjalani dakwahnya dengan beberapa tahapan yang jelas ciri-cirinya. Beliau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang tampak dengan jelas tujuan-tujuannya. Dari sirah Rasulullah SAW inilah Hizbut Tahrir mengambil metode dakwah dan tahapan-tahapannya, beserta kegiatan-kegiatan yang harus dilakukannya pada seluruh tahapan ini, karena Hizbut Tahrir mensuriteladani kegiatan-kegiatan yang dilakukan Rasululah SAW dalam seluruh tahapan perjalanan dakwahnya.

Berdasarkan sirah Rasulullah SAW tersebut, Hizbut Tahrir menetapkan metode perjalanan dakwahnya dalam 3 (tiga) tahapan berikut :

Pertama, Tahapan Pembinaan dan Pengkaderan (Marhalah At Tatsqif), yang dilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang mempercayai pemikiran dan metode Hizbut Tahrir, dalam rangka pembentukan kerangka tubuh partai.

Kedua, Tahapan Berinteraksi dengan Umat (Marhalah Tafa’ul Ma’a Al Ummah), yang dilaksanakan agar umat turut memikul kewajiban dakwah Islam, hingga umat menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan.

Ketiga, Tahapan Pertarungan Pemikiran untuk menentang kepercayaan/ideologi, aturan dan pemikiran kufur. Menentang segala bentuk akidah yang rusak, pemikiran keliru, pemahaman yang salah dan sesat dengan cara mengungkapkan kepalsuan, kekeliruan dan kontradiksi dengan Islam sekaligus membersihkan umat dari segala bentuk pengaruh dan implikasinya.

Keempat, Tahapan Perjuangan Politik menghadapi negara-negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi negeri-negeri Islam, menghadapi segala bentuk penjajahan, baik itu berupa pemikiran, politik, ekonomi, militer dan mengungkap makar sekaligus membongkar konspirasi negara-negara kafir. Perjuangan politik juga dilakukan dengan menentang para penguasa negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam yang lain dengan cara membongkar kejahatan dan kebobrokan mereka, menyampaikan nasehat, kritik dan mencoba mengubah perilaku mereka setiap kali memakan, tidak menunaikan hak-hak umat, melalaikan urusan umat dan meyimpang dari hukum syariat Islam.

Kelima, Tahapan Pengambilalihan Kekuasaan (Marhalah Istilaam Al Hukm), yang dilaksanakan untuk menerapkan Khilafah Islam secara menyeluruh dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia dan kemudian berkhidmat melayani kemaslahatan umat sesuai dengan hukum syariat Islam.

KEANGGOTAAN HIZBUT TAHRIR

Hizbut Tahrir menerima keanggotaan setiap orang Islam, baik laki-laki maupun wanita, tanpa memperhatikan lagi apakah mereka keturunan Arab atau bukan, berkulit putih ataupun hitam. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai untuk seluruh kaum muslimin dan menyeru mereka untuk mengemban dakwah Islam serta mengambil dan menetapkan seluruh aturan-aturan Islam, tanpa memandang lagi kebangsaan, warna kulit, maupun madzhab mereka. Hizbut Tahrir melihat semuanya dari pandangan Islam.

Cara mengikat individu-individu ke dalam Hizbut Tahrir adalah dengan memeluk Aqidah Islamiyah, matang dalam Tsaqafah Hizbut Tahrir, serta mengambil dan menetapkan ide-ide dan pendapat-pendapat Hizbut Tahrir. Dia sendirilah yang mengharuskan dirinya menjadi anggota Hizbut Tahrir, setelah sebelumnya ia melibatkan dirinya dengan Hizbut Tahrir; ketika dakwah telah berinteraksi dengannya dan ketika dia telah mengambil dan menetapkan ide-ide serta persepsi-persepsi Hizbut Tahrir. Jadi ikatan yang dapat mengikat anggota Hizbut Tahrir adalah Aqidah Islamiyah dan Tsaqafah Hizbut Tahrir yang terlahir dari aqidah ini. Halaqah-halaqah (pembinaan) wanita dalam Hizbut Tahrir terpisah dengan halaqah laki-laki. Yang memimpin halaqah-halaqah wanita adalah para suami, mahramnya, atau para wanita

B. Karakteristik

  1. Mempunyai peraturan dan struktur organisai yang baku.
  2. Aktif dalam amar makruf nahi mungkar.
  3. Tidak puritan dan adaptif dengan masalah aktual progresif-kekinian.
  4. System tarbiyah kadernya telah mapan dan baku.
  5. Memasuki wilayah politik.
  6. Bersikap keras dalam meng kritisi pemerintahan.
  7. Tidak Bergabung dengan parlemen
  8. Mengeluarkan fatwa-fatwa tentang masalah progresif kekinian.
  9. Tidak ofensif menyerang pemikiran harokah yang lain.

C. Kiprahnya

  1. Mendirikan Percetakan dan penerbitan.
  2. Aktif menulis artikel dan buku buku.
  3. Aktif dalam tarbiyah pembinaan kader melalui Halaqoh Hizb.
  4. Aktif dalam amar makruf nahi munkar.
  5. Aktif memberikan ceramah/seminar/pengajian.
  6. Mendirikan Partai Politik (global) tapi tidak ikut serta dalam pemilu.

sumber http://ahmadfaruq.blogdetik.com

5 comments on “All About Harokah

  1. 5 Februari 2009
    Ahlus Sunnah Wal Jamaah
    Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:22

    Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

    Istilah ini pertama kali muncul berdasarkan hadis Nabi tentang Iftiraq (perpecahan umat) :
    “umatku ini akan terpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok, semuanya akan masuk neraka kecuali satu saja. Para sahabat bertanya : “Siapa mereka itu wahai Rasulullah ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Mereka itu yang mengikuti sunnahku dan jamaah para sahabatku pada hari ini” [HR Tirmidzi dan Ath-Thabrani]

    Ahlus Sunnah = mengikuti sunnah Nabi
    Wal Jama’ah = dan jama’ah para sahabat, serta selalu bersatu dalam jama’ah kaum muslimin.

    Bani Umayah pernah mengklaim sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah untuk propaganda kekuasaannya, karena kenyataannya mayoritas kaum muslimin bersatu dibawah kepemimpinan khalifah dari kalangan mereka. Propaganda itu untuk menyudutkan kelompok-kelompok yang menentang dan memberontak terhadap Khalifah, yaitu kelompok Syiah dan Khawarij.

    Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah kemudian dipopulerkan oleh Imam Abu Hasan Asy’ari (260 H – 326 H) untuk memberi identitas kepada para pengikut theologi Asy’ariyah. Istilah itu untuk membedakan dengan kelompok Mu’tazilah dan berbagai aliran theologi sesat lainnya : Jabariyah, Qadariyah, Jahmiyah, Musyabibah, Mujasimah, Mu’atilah.

    Pada perkembangan selanjutnya, Ahlus Sunnah Wal Jamah dikodifikasikan dengan lebih jelas oleh Imam Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi (wafat 429 H) dalam bukunya Al Farq Bain Al Firaq (perbedaan diantara aliran-aliran), beliau merumuskan ada delapan kelompok yang termasuk golongan Ahlus Sunnah Waljamaah yaitu:

    1. Mutakallimin (ulama kalam/theologi) yaitu orang yang memahami secara pas masalah-masalah keesaan Tuhan, kenabian, hukum- hukum, janji dan ancaman, pahala dan ganjaran, syarat ijtihad, Imamah, dan pimpinan ummat, dengan mengikuti metodologi aliran as-Shifatiah (menetapkan sifat-sifat Tuhan) yang tidak terseret ke dalam faham antropomorfis (tasybih) dan ta’thil (meniaakan sifat2 Allah) serta bid’ah kaum Syi’ah, Khawarij dan sederet golongan bid’ah lainnya.
    2. Fuqaha (ulama fiqih) yaitu para Imam Mazhab Fiqh, baik dari ahlur ra’yi maupun ahlul Hadits, yang menganut aliran al-Shifatiah (menerima sifat2 Allah) dalam masalah teologi menyangkut Tuhan dan sifat-sifat yang azali, membersihkan diri dari faham Qadariah dan Mu’tazilah. Menetapkan adanya ru’yah (melihat Tuhan di hari kemudian), kebangkitan, pertanyaan kubur, telaga, jembatan, syafa’at dan pengampunan dosa selain syirik serta menetapkan kekekalan nikmat bagi ahli sorga dan kekelan siksa terhadap orang-orang kafir dalam neraka. Disamping itu, ia mengakui kekhalifaan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, dan tetap menghormati Salaf, menetapkan wajibnya shalat Jum’at di belakang para Imam yang tidak terkena bid’ah dan wajibnya menetapkan hukum dari Qur’an, hadits dan Ijma’. Dan mengatakan sahnya menyapu dua khuf (sejenis sepatu), jatuhnya
    thalaq tiga, mengharamkan mut=92ah, dan memandang wajib mentaati seorang pemimpin selama bukan maksiat.

    3. Muhaditsin (ulama hadis) yaitu mereka yang ahli dalam melacak jalur-jalur Hadits dan Atsar dari Nabi, mampu membedakan antara yang shahih dan tidak, menguasai al-Jahr wat-Ta’dil (sebab-sebab kebaikan dan kelemahan seorang perawi Hadits) dan tidak terlibat dalam perilaku bid’ah yang sesat.
    4. Ahlul Lughot (ulama bahasa Arab) yaitu mereka yang ahli di bidang kesusasteraan, Nahwu Sharaf, dan mengikuti jejak pakar bahasa semisal al-Khalil, Abu Amr bin Al ‘Ala, Sibawaihi, al-Farra’, al-Akhfasy, al-Ashma’i, al-Muzany, Abu Ubaid dan sederet tokoh-tokoh lainnya dari Kufah dan Bashrah, yang tidak tercampur ilmunya dengan bid’ah kaum Qadariah atau Rafidah atau Khawarij.
    5. Mufassirin (ulama tafsir) yaitu mereka yang mengetahui aneka ragam qira’at Qur’an dan orientasi penafsirannya dan pena’wilannya sesuai dengan aliran Ahlussunnah waljama’ah tanpa terpengaruh kepada pena’wilan para pengikut hawa nafsu yang sesat.
    6. Mutasawwifin (ulama tasawuf) yaitu para Zuhad Sufi yang giat beramal dengan tulus ikhlas dan menyadari sepenuhnya bahwasanya baik pendengaran, penglihatan dan hati semuanya dipertanggungjawabkan di depan sang Khaliq yang takkan bisa lalai sebiji atom pun dari pandangannya. Olehnya itu, mereka giat beramal tanpa banyak bicara, konsisten dalam ketauhidan, menafikan tasybih serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

    7. Mujahidin yaitu mereka yang bertempat di pos-pos pertahanan kaum Muslimin untuk menjaga kemanan negara dari serangan musuh, menjaga kehormatan ummat Islam baik materil maupun moril dengan berupaya menumbuhkan di pos-pos pertahanan mereka aliran Ahlussunnah waljama’ah.

    8. Semua orang di semua negara yang di dalamnya dikuasai oleh syi’ar Ahlussunnah waljama’ah dan yang mengikuti ketujuh kelompok diatas.

    Selanjutnya Imam Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi (wafat 429 H) dalam bukunya yang sama Al Farq Bain Al Firaq pada bab lima merumuskan 15 arkanul din (rukun/ pokok agama) bagi Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yaitu dasar-dasar atau ushulnya ialah:

    1. Rukun Yang Pertama,
    Yang disepakati dikalangan mereka rukun pertamanya mengithbatkan hakikat-hakikat dan ilmu-ilmu yang mereka ijma’kan tetapnya ilmu-ilmu itu dengan makna-makna yang ada pada para ulama dan dianggap sesat mereka yang menafikan ilmu dan lain-lain sifat (a’rad) seperti yang berlaku pada golongan “Sophists” (ini boleh terkena pada pemikiran pascamodernisme) yang menafikan ilmu dan hakikat-hakikat benda-benda yang ada. Demikian pula sesatnya mereka yang menganggap semua pegangan dan kepercayaan sebagai sah walau pun yang saling berlawanan dan bercanggahan.
    Ulama ahli Sunnah membahagikan ilmu manusia kepada yang bersifat badihiah, yang hissi, dan istidlali – mereka yang menafikan ilmu yang bersifat badihi dan hissi – melalui pengamatan pancaindera – sebagai golongan degil.
    Mereka yang menafikan ilmu dari tilikan akal (al-nazar) dan istidlali (dengan mengambil dalil pemikiran) , kalau ianya seperti golongan Sumniyah yang mengingkari penilikan akal dalam ilmu akliah ia kafir mulhid, seperti golongan dahriah atau materialist, yang berpegang kepada sediakalanya alam, penafian adanya Tuhan Pencipta alam, berserta dengan fahaman membatalkan semua agama-agama (dan ini juga menyentuh pemikiran pascamodernisme sekarang).
    Kalau orang demikian berpegang kepada tilikan akal dalam ilmu akliah dan menolak kias dalam cawangan hukum Syara’ seperti mazhab Zahiriah, itu tidak membawa kepada kekufuran.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan pancaindera yang mengesani perkara-perkara zahir yang boleh dikesani olehnya (al-mahsusat) ialah pemandangan mata bagi mengesani apa yang boleh dilihat, perasa yang mengesani seperti rasa makanan, penciuman bagi mengesani bau, sentuhan bagi mengesani panas dan sejuk, basah dan kering, sifat lembut dan kasar.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan apa-apa yang dicapai melalui pancaindera ini berupa sebagai makna-makna (al-ma’ani) yang berdiri dengan alat-alat pancaindera itu. (Ilmu yang berpunca daripada pengesanan melalui pancaindera dan tilikan akal boleh diperpanjangkan dengan perlaksanaan kaedah saintifik, penyelidikan, dan pemikiran serta rumusan ilmu pengetahuan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan zaman sekarang sampailah kepada ICT dan seterusnya).
    Mereka mengajarkan bahawa khabar berita yang mutawatir – yang sampai melalui punca yang terlalu banyak yang tidak memungkinkan salahnya – adalah jalan ilmu yang daruri – tidak boleh tidak – yang sah bila cukup syarat-syaratnya pada mereka. Termasuk ke dalam contoh ini ialah pengetahun kita tentang para nabi dan raja-raja sebelum kita dalam sejarah. Adapun sahnya penegasan tentang pangkat kenabian para anbiya itu maka itu sah melalui hujah-hujah nazariah atau tilikan akal. Maka dikirakan kafir mereka yang mengingkari ilmu dari kaedah atau jalan riwayat mutawatir.
    Mereka memperincikan ciri-ciri riwayat yang mutawatir, yang mustafid, dan yang bersifat ahad, yang terakhir dengan periwayat seorang atau terlalu sedikit.
    Berita ahad pada Ahlis-Sunnah bila sahih sandarannya dan matannya tidak mustahil pada akal, maka mesti diamalkan ajarannya. Dengan kaedah ini para ulama fiqh mensabitkan kebanyakan hukum Syariat dalam ibadat, mu’amalat, dan lain-lain bab haram dan halal.
    Mereka menganggap sesat golongan-golongan yang menggugurkan wajib beramal dengan riwayat ahad seperti golongan Syiah Rafidah, Khawarij, dan lain-lain golongan yang mengikut hawa nafsu mereka.
    Khabar mustafid adalah ditengah-tengah antara mutawatir dan ahad – mesti berilmu dengannya dan mesti beramal dengannya. Termasuk di bawah kaedah ini ialah ilmu tentang beberapa ma’jizat Nabi s.a.w. seperti terbelah bulan, bertasbihnya anak batu, meratapnya pelepah tamar, cukupnya makanan sedikit bagi orang ramai dan seterusnya.
    Khabar mustafid banyak terdapat dalam hukum Syara’ seperti nisab zakat, had khamar, ilmu tentang menyapu dua kasut panjang, hukum rejam, dan yang sepertinya yang disepakati ulama fiqh tentang penerimaan terhadapnya; dianggap sesat mereka yang menyalahi mereka dalam hal ini seperti golongan Khawarij, yang mengingkari rejam.
    Dan dikirakan kafir mereka yang mengingkari ru’ya atau memandang Allah di Syurga, Kolam nabi di akhirat, syafa’ah dan azab kubur.
    Sabitnya Quran, zahirnya, dan mu’jizatnya yang menyebabkan ianya tidak boleh ditentang itu melalui riwayat mutawatir yang menjadikannya ilmu daruri.
    Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Allah mentaklifkan para hambaNya mencapai ma’rifat terhadapNya, dan mereka diwajibkan tentangnya, juga mereka disuruh berma’rifat dalam hubungan dengan RasulNya, dan KitabNya, serta beramal dengan apa yang ditunjukkan oleh Kitab dan Sunnah nabiNya.
    Dianggap kafir mereka yang menegaskan bahawa Allah tidak menyuruh ma’rifat seseorang itu, seperti yang diperpegangi oleh Thumamah, dan al-Jahiz, dan segolongan daripada Syiah Rafidah.
    Mereka bersepakat bahawa usul Hukum Syariat ialah Quran, Sunnah, dan Ijma’ golongan Salaf. Mereka anggap kafir pihak yang menegaskan – seperti golongan Syiah Rafidah – bahawa tidak ada hujah sekarang ini pada Quran dan Sunnah kerana pada dakwaan mereka para Sahabat telah mengubah sebahagian dari Quran itu dan melakukan “tahrif” pada setengah daripadanya.
    Mereka anggap kafir golongan Khawarij yang menolak semua hadith-hadith Sunan yang dinukilkan oleh para periwayatnya oleh kerana mereka mengatakan para penukil hadith itu – termasuk Sahabat – menjadi kafir.
    Mereka menganggap kafir al-Nazzam yang menolak hujah ijma’ dan hujah mutawatir, dan yang berpegang kepada harus berlakunya persepakatan umat Islam atas kesesatan dan kemungkinan berlaku pembohongan di kalangan mereka yang terlibat dalam riwayat yang mutawatir.

    2. Rukun Yang Kedua.
    Tentang baharunya alam ini, yang mereka sepakati ialah alam itu ialah sekelian yang selain dari Allah. Maka sekelian yang lain dari Allah dan sifat-sifatNya yang azali adalah makhluk yang diciptakanNya. Pencipta alam bukan makhluk, bukan dicipta, bukan dari jenis alam, bukan dari jenis sesuatu bahagian atau juzu’ alam. Mereka bersepakat alam ini terdiri dari zat dan sifat (jauhar dan ‘arad).
    Mereka mengajarkan tiap jauhar – iaitu atom – tidak boleh dibahagi (Sekarang ini ianya boleh dibahagi- proton, neutron, dan sebagainya, dengan entiti-entiti baharu seperti “quarks” dan seterusnya dalam fizik quantum).
    Mereka mengajarkan adanya para malaikat, jin, dan syaitan-syaitan daripada makhluk-makhluk dalam alam. Mereka aggapkan kafir mereka yang mengingkari ini semua seperti golongan ahli falsafah dan puak Batiniah.
    Mereka menganggapkan sesat golongan yang mengajarkan fahaman serba-dua (al-thanawiyah) iaitu jisim terdiri daripada nur atau cahaya, dan zulmah atau kegelapan; yang baik daripada nur, yang jahat daripada zulmah.
    Mereka bersepakat tentang baharunya ‘arad pada semua jisim-jisim, dan mereka menganggap tiap-tiap ‘arad itu baharu pada tempatnya ‘arad itu tidak berdiri sendirinya.
    Ahlis-Sunnah bersepakat tentang fananya seluruh alam ini dan mereka mengajarkan kekalnya syurga dan neraka, syurga dengan ni’matnya dan neraka dengan azabnya melalui jalan Syara’.
    Mereka menganggap kafir golongan Jahmiah yang mengajarkan syurga dan neraka itu binasa.
    Mereka menganggap kafir Abul-Hudhail yang berpendapat akan terputusnya ni’mat syurga dan azab neraka;

    3. Rukun Yang Ketiga
    Berkenaan Dengan Pencipta Alam, semua peristiwa yang berlaku mesti ada yang melakukannya dan yang menjadikannya. Ahlis-Sunnah menganggap kafir Thumamah dan pengikutnya dari golongan Qadariah yang mengajarkan bahawa perbuatan-perbuatan itu timbul sendiri – al-mutawallidah – tanpa pembuatnya. Mereka mengajarkan Pencipta alam hanya menjadikan jisim-jism dan ‘arad sahaja, bukan perbuatan-perbuatan.
    Mereka menganggap kafir Ma’mar dan para pengikutnya dari golongan Qadariah yang mengajarkan Allah tidak menciptakan sesuatupun daripada ‘arad-‘arad yakni sifat-sifat yang ada pada jisim-jisim. Ia hanya menjadikan jisim-jisim sahaja. Jisim-jisimlah yang menjadikan ‘arad-‘arad sendirinya.
    Golongan pelampau atau ghulat dari kalangan Syiah Rafidah mengajarkan bahawa ‘Ali adalah jauhar makhluk, yang baharu dijadikan, kemudian ia menjadi Tuhan Pencipta Alam dengan meresap masuk – hulul – roh Tuhan ke dalamnya. Mereka ini mengajarkan Tuhan tidak ada kesudahan dan hadNya.
    Hasyim bin Hakam al-Rafidi mengajarkan Tuhan yang disembahnya tujuh jengkal dengan jengkalnya sendiri.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan mustahil Tuhan itu ada rupa bentuk dan anggota, khilaf bagi golongan ghulat Rafidah dan para pengikut Daud al-Hawari yang mengajarkan bahawa Tuhan ada, mempunyai rupa bentuk seperti rupa manusia.
    Ahlis-Sunnah bersepakat mengajarkan bahawa Tuhan tidak dikandung ruang atau tempat, dan tidak berlalu atasNya perjalanan masa; ini berlawanan dengan pegangan kaum Syihamiyah dan Karramiyah yang mengajarkan bahawa Tuhan bersentuh dengan ‘Arasy.
    Dinukilkan oleh Ahlis-Sunnah bahawa baginda ‘Ali rd menyataan bahawa Allah menjadikan ‘Arasy bagi menzahirkan QudratNya, bukan bagi menjadi tempat untuk ZatNya (izharan li-Qudratihi la makanan li Dhatihi). Katanya lagi: Telah ada Ia dan tiada tempat (bagiNya), dan Ia sekarang sebagaimana telah adaNya dahulu.
    Ahlis-Sunnah menafikan adanya kecelaan, kesahan, dan kesakitan pada Tuhan. Mereka menafikan gerak dan diam padaNya. Ini berlawanan dengan Syiah Rafidah yang mengajarkan bahawa tempatNya baharu menjadi daripada gerakNya.
    Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Allah Maha Kaya tidak memerlukan pertolongan makhlukNya, dan Ia tidak mendapat manafaat daripada makhlukNya untuk DiriNya, dan Ia tidak menolak kemudaratan dariNya melalui makhlukNya. Ini berlawanan dengan dakwaan para Majusi yang mengajarkan bahawa Allah menjadikan para malaikat untuk menolak kesakitan daripada Syaitan terhadapNya.
    Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Pencipta Alam adalah Esa. Ini berlawanan dengan Majusi yang mengajarkan ada dua yang kadim, iaitu Nur dan Zulmah.
    Ini juga berlawanan dengan Rafidah yang mengajarkan bahawa Allah menyerahkan tadbiran alam kepada ‘Ali, ialah Pencipta Yang Kedua (al-Khaliq al-Thani).

    4. Rukun Yang Keempat
    Berkenaan Dengan Sifat-Sifat Allah: IlmuNya, QudratNya, HayatNya, IradatNya, Sama’Nya, BasarNya, dan KalamNya, yang semuanya Sifat-Sifat Yang Azali dan Kekal.
    Mu’tazilah menafikan semua Sifat-Sifat Azali bagi Allah: mereka mengajarkan tidak ada bagi Allah sifat Qudrat, Ilmu, Hayat, Basar, dan tidak ada PencapaianNya bagi semua yang boleh didengar.Mereka mensabitkan bagiNya kalam yang baharu.
    Kata Ahlis-Sunnah: menafikan sifat bermakna menafikan apa yang disifatkan, sebagaimana menafikan perbuatan bermakna menafikan pembuat.
    Ahlis-Sunnah bersepakat Kuasa Allah berlaku atas semua yang ditakdirkan, dengan QudratNya yang satu. Dengan Qudrat yang satu berlaku semua yang ditakdirkan.
    Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Ilmu Allah adalah satu dengan Ilmu itulah Ia mengetahui semua maklumat secara terperinci tanpa pancaindera, cara badihiah, dan mengambil dalil.
    Kaum Rafidah di kalangan Syiah mengajarkan Allah tidak mengetahui sesuatu sebelum jadinya.
    Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Sifat Basar dan Sama’ Allah meliputi semua yang boleh dilihat dan didengar dan Allah berterusan melihat DiriNya dan Mendengar KalamNya.
    Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Allah boleh dilihat oleh orang mukmin di akhirat. Mereka berpendapat harus melihatNya dalam tiap-tiap hal dan bagi tiap-tiap yang hidup melalui jalan akal. Dari mereka mengajarkan wajib orang mu’min melihatnya secara khusus di akhirat melalui jalan khabar dalam nas. Ini berlawanan dengan pendapat Qadariah dan Jahmiyah yang mengajarkan mustahil Ianya boleh dilihat.
    Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Kehendak Allah – Iradat dan Masyi’ahNya – tertakluk atas segala perkara.
    Mereka mengajarkan bahawa tidak ada yang berlaku dalam alam melainkan dengan KehendakNya, apa yang dikehendakiNya jadi, apa yang tidak dikehendakiNya, tidak menjadi.
    Golongan Qadariah Basrah berpendapat ada Allah kehendaki apa yang tidak menjadi, dan ada yang menjadi apa yang tidak dikehendakiNya.
    Ahlis-Sunnah bersepakat Hayat Tuhan tanpa roh dan makanan; dan semua arwah adalah makhluk. Ini berlawanan dengan Nasrani yang mendakwa sediakalanya bapa, anak dan roh (dalam tiga oknum mereka).
    Mereka bersepakat bahawa kalamullah adalah SifatNya yang azali, dan itu bukan makhluk, bukan baharu.

    5. Rukun Yang Kelima
    Berkenaan Dengan Nama-Nama Allah, Nama-Nama Allah pada Ahlis-Sunnah adalah perkara tauqif, iaitu samaada ianya diambil daripada al-Quran atau Sunnah yang sahih atau ijma’ umat tentangnya; tidak dibolehkan qias tentangnya.
    Berlawanan dengan pihak seperti Mu’tazilah Basrah yang membolehkan qias. Al-Jubba’I misalnya menyesatkan bila ia memberi nama Muti’ (yang taat) kepada Allah melalui jalan qias kerana katanya Allah memberi kehendak hambaNya.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan tentang adanya Sunnah yang menyebut nama Tuhyan sebanyak sembilan puluh sembilan, dan sesiapa yang membilang-bilangnya masuk syurga. Maksudnya bukan hanya menyebut dan membilang tetapi mempunyai ilmu tentangnya dan beriktikad tentang makna-maknanya.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa Nama-Nama Tuhan ada tiga bahagian: sebahagian yang menunjukkan ZatNya, seperti al-Wahid (Yang Esa), al-Ghani (Yang Maha Kaya), al-Awwal (Yang Kadim tanpa permulaan), al-Akhir (Yang Kekal tanpa kesudahan), al-Jalil (Yang Maha Hebat), al-Jamil (Yang Maha Indah), dan lain-lain yang Ia berhak bersifat dengannya.
    Sebahagian lagi yang memaksudkan Sifat-SifatNya yang azali yang bersekali dengan ZatNya seperti al-Hayy (Yang Maha Hidup), al-Qadir (Yang Maha Berkuasa), al-‘Alim (YangMaha Mengetahui), al-Murid (Yang Maha Berkehendak), as-Sami’ (Yang Maha Mendengar), al-Basir (Yang Maha Melihat), dan lain-lain Nama daripada Sifat-Sifat Yang berdiri dengan ZatNya.
    Sebahagian lagi Nama-Nama yang timbul daripada perbuatan-perbuatanNya seperti al-Khaliq (Yang menjadikan alam), ar-Razig (Yang Maha Mengurnia rezeki), al-‘Adil (Yang Maha Adil), dan yang sepertinya.
    Bagi golongan pascamodernis yang menolah naratif agung- akidah seperti ini dalam agama – dan golongan materialis, ini semua tertolak sebagai bahan-bahan tanpa makna yang tidak perlu diambil kira. Ini perlu diberi respons dan perlu dihadapi dengan berkesan).

    6. Rukun Yang Keenam.
    Tentang Keadilan Ilahi dan Hikmat KebijaksanaanNya. Mereka mengajarkan bahawa Allah menjadikan jisim-jisim dan ‘arad-arad yang baiknya dan yang buruknya semua sekali (kalau sekarang boleh dikatakan Ia menjadikan semua atom-atom, neutron-neutron, proton, elektron, quark-quark, serta lain-lainnya seperti yang ada ini semua, samaada dalam bentuk gelombang atau zarrah, dengan sifat-sifatnya semua sekali).
    Bahawa Allah menjadikan usaha para hambaNya, tidak ada yang menjadikannya selain daripada Allah. Ini berlawanan dengan golongan Qadariah yang menegaskan Allah tidak menjadikan sesuatupun daripada usaha para hambaNya, dan berlawanan dengan golongan Jahmiyah yang mengajarkan bahawa hamba tidak melakukan usaha dan tidak berkuasa atas usaha mereka.
    Pada Ahlis-Sunnah sesiapa yang berpegang kepada ajaran bahawa para hamba menjadikan usaha mereka, ia Qadariyah, syirik dengan Tuhannya, kerana mendakwa para hamba menjadikan seperti Tuhan mennjadikan ‘arad-‘arad seperti gerak-gerak dan diam dalam ilmu dan iradat, kata-kata dan suara.
    Dan – mereka mengajarkan – sesiapa yang menegaskan bahawa hamba tidak ada upaya untuk berusaha, ia tidak melakukan amal, serta tidak melakukan usaha, maka ia Jabariyah. Sesiapa yang berpegang kepada ajaran bahawa hamba berusaha bagi amalnya dan Allah pencipta usahanya, maka ia Ahlis-Sunnah.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa hidayah adalah dari Allah dari dua segi: iaitu segi menerangkan yang benar dan menyeru kepadanya, serta membentangkan hujah-hujah dan dalil untuknya. Dari segi in maka sah dinisbahkan hidayah kepada para Rasul a.s.s dan da’I kepada agama Allah kerana mereka memberi panduan yang benar kepada Allah. Ini penafsiran terhadap ayat yang bermaksud “Sesungguhnya tuan hamba menyeru kepada Jalan Yang Lurus” (Surah al-Shura: ayat 52).
    Segi keduanya: hidayah pertunjuk Allah terhadap para hambaNya dalam erti menjadikan bimbingan hidayat dalam hati para hamba sebagaimana yang ada dalam ayat yang bermaksud “Maka sesiapa yang Allah kehendaki untuk memberi hidayat kepadanya, ia membukakan dadanya bagi menerima agama Islam, dan sesiapa yang Ia kehendaki supaya dibiarkan dalam kesesatan Ia menjadikan dadanya sempit…” (Surah al-An’am: ayat 126). Hidayat dalam aspek ini hanya Allah sahaja yang berkuasa melakukannya.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa sesiapa yang mati maka itu kerana ajalnya, dan Allah Maha Kuasa untuk memanjangkan umurnya.
    Ahlis-Sunnah mengajar tentang rezeki iaitu sesiapa yang makan atau meminum sesuatu itu rezekinya, samaada halal atau haram, itu berlawanan dengan golongan Qadariah yang menegaskan bahawa manusia kadang-kadang makan apa yang bukan rezeki baginya.

    7. Rukun Yang Ketujuh
    Berkenaan Dengan Kenabian dan Kerasulan.. Mereka mengajarkan hakikat adanya kenabian dan kerasulan serta mereka menegaskan kebenaran adanya para Rasul a.s.s yang diutuskan Allah kepada para hambaNya. Ini berlawanan dengan ajaran Brahminisme (juga golongan materialis dan pascamodernis) yang menafikan itu walaupun mereka percaya kepada Tuhan Yang menjadikan alam.
    Ahlis-Sunnah membezakan antara Rasul dan Nabi. Nabi ialah setiap orang yang turun wahyu kepadanya dari Allah melalui malaikat dan ia diperkuatkan dengan mu’jizat-mu’jizat yang menyalahi adat. Rasul ia sesiapa yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut serta dikhaskan baginya syariat yang baharu, ataupun atau ia datang memansukhkan sebahagian daripada syariat yang terdahulu daripadanya.
    Ahlis-Sunnah menganggapkan kafir orang yang mengaku nabi samaada sebelum Islam seperti Zardasyt, dan Mazdak dan sebagainya, dan yang selepas Islam seperti Musailamah al-Kazzab, Sajah, dan seterusnya.
    Ahlis-Sunnah menganggap kafir golongan yang menisbahkan kenabian bagi imam-imam atau mengaku mereka itu Tuhan seperti golongan al-Bayaniah, al-Mansuriah, al-Khattabiyah, dan yang menjalani perjalanan mereka. (Termasuk ke dalam kategori ini golongan-golongan sesat yang mengaku Tuhan dalam diri mereka, atau pemimpin mereka menerima wahyu daripada Jibril, atau pemimpin mereka mi’raj, bersemayam atas ‘Arasy dan seterusnya, termasuk juga mereka yang mengaku adanya imam-imam maksum).
    Mereka mengajarkan: para Nabi a.s.s lebih afdhal daripada para malaikat yang berlawanan dengan pendapat al-Husain bin al-Fadl berserta dengan kebanyakan daripada golongan Qadariah yang mengajarkan malaikat lebih utama daripada para Rasul a.s.s.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa para Nabi lebih afdal daripada aulia, ini berlawanan dengan mereka yang berpendapat para aulia lebih afdal daripada anbia.
    Mereka mengajarkan para nabi maksum iaitu bersih daripada dosa. Ini berlawanan dengan pegangan golongan Hisyamiah daripada firkah Syiah Rafidah yang berpegang kepada pendapat para nabi boleh berdosa tetapi mereka mengajarkan bahawa para imam itu maksum bersih daripada dosa.

    8. Rukun Yang Kelapan
    Tentang Mu’jizat Dan Karamah. Mereka mengajarkan bahawa mu’jizat ialah perkara zahir yang menyalahi adat timbul pada seseorang nabi dalam menghadapi kaumnya dan kaumnya lemah untuk menghadapinya, dan ini membenarkan dakwaannya sebagai nabi; maka wajib ditaati nabi yang demikian.
    Mereka mengajarkan harus zahirnya kekeramatan dari para aulia yang menunjukkan benarnya hal mereka itu.
    Golongan Qadariah mengingkari adanya karmah aulia kerana mereka tidak mendapati orang yang mempunyai karamah dalam golongan mereka.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan Quran ada mu’jizatnya dalam bentuk susunannya; ini berlawanan dengan pendapat Qdariah, seperti an-Nazzam, yang menyatakan bahawa tidak ada mu’jizat dalam susunan sistem al-Quran.
    Mereka mengajarkan ada mu’jizat Nabi Muhammad s.a.w. dalam bentuk terbelahnya bulan, bertasbihnya anak batu di tangannya, keluarnya air di celah-celah jarinya, memadainya makanan sedikit untuk orang yang sedemikian ramai, dan yang sepertinya. Golongan Qadariah seperti al-Nazzam mengingkari yang demikian itu.

    9. Rukun Kesembilan
    Tentang Syariat Islam Dan Rukun-Rukunnya. Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa Islam terdiri daripada lima rukun, iaitu syahadah, perlaksanaan sembahyang lima waktu, pembayaran zakat, puasa Ramadhan, dan ibadat haji ke Baitullahil-Haram.
    Mereka mengajarkan sesiapa yang menggugurkan sesuatu rukun yang wajib daripada yang lima ini dan mentakwilkannya seperti yang dilakukan oleh golongan al-Mansuriah, dan al-Janahiah dari golongan ghulat Syiah Rafidah, maka ia kafir. (Ini sama seperti setengah golongan sesat yang menggugurkan wajib sembahyang kononnya kerana makam rohani yang tinggi yang dicapai oleh mereka).
    Mereka mengajarkan sembahyang lima waktu, dan mereka menganggap kafir orang yang menggugurkan setengah daripadanya, seperti Musalamah al-Kazzab yang menggugurkan wajibnya sembahyang Subuh dan Maghrib; ia menggugurkannya itu sebagai mahar bagi perkahwinannya dengan isterinya Sajah yang juga mengaku nabi; maka ia menjadi kafir mulhid. (Ini sama dalam setengah perkara dengan golongan semasa yang mengajarkan sembahyang itu bukan lima waktu, dan caranya bukan seperti yang biasa diamalkan Ahlis-Sunnah, kerana golongan ini mahu berpegang kepada Quran sahaja mengikut tafsiran sendiri bukannya mengikut sistem ilmu atau epistemologi Sunni).
    Ahlis-Sunnah mengajarkan wajib sembahyang Jumaat dan mereka menganggap kafir golongan Khawarij dan Syiah Rafidah yang mengajarkan tidak ada sembahyang Jumuat sehingga zahir imam mereka yang mereka sedang nanti-nantikan. (Maka tidak benar ajaran yang membolehkan orang-orang bersuluk tidak sembahyang Jumaat dengan alasan bersuluk, kerana dikatakan penyakit hati yang memerlukan suluk lebih besar daripada penyakit badaniah yang membolehkan orang mukallaf meninggalkan sembahyang Jumaat).
    Ahlis-Sunnah mewajibkan zakat emas dan perak, wang, lembu kerbau, biji-bijian, makanan utama seperti tamar dan seterusnya, dan sesiapa yang mengatakan tidak wajib zakat dalam perkara-perkara tersebut, ia menjadi kafiir. Dijauhkan Allah.
    Mereka mengajarkan wajib puasa pada bulan Ramadhan bila masuk bulan Ramadhan dengan ru’yah.
    Mereka anggapkan sesat Rafidah yang berpuasa sebelum kelihatan anak bulan sehari dan berbuka sehari sebelum dibolehkan berbuka.
    Mereka mengajarkan wajib menunaikan haji sekali seumur hidup bila seseorang itu ada kemampuan melakukannya dan aman jalannya.
    Mereka menganggap kafir golongan yang mengatakan tidak wajib ibadat haji seperti golongan Batiniah. Tetapi mereka tidak menganggap kafir pihak yang mengatakan umrah tidak wajib kerana ada khilaf antara imam-imam tentang wajibnya.
    Mereka mengajarkan syarat-syarat sah sembahyang yang terdiri daripada menutup aurat, masuk waktunya, mengadap kiblat, setakat yang mungkin.
    Sesiapa yang menggugurkan syarat-syarat ini atau sesuatu daripadanya walhal itu mungkin dilakukan maka ia kafir.
    Mereka mengajarkan bahawa jihad menghadapi para seteru Islam adalah wajib sehingga mereka tunduk dalam Islam, atau menunaikan jizyah.
    Mereka mengajarkan harus berjual beli dan haram riba.
    Mereka menganggap sesat golongan yang mengharuskan riba kesemuanya.
    Mereka mengharuskan nikah dan mengharamkan zina; mereka menganggapkan kafir golongan al-Mu’badiyah dan al-Mahmarah dan al-Khurramiyah yang mengharuskan zina. (Ini menyentuh golongan yang mengamalkan ‘nikah batin’ dalam kalangan golongan sesat yang mengajarkan ‘ilmu hakikat’).
    Ahlis-Sunnah mengajarkan wajib dilaksanakan hukum-hukum had atas zina, perbuatan meminum arak, mencuri, dan menuduh zina.
    Mereka anggap kafir golongan yang mengatakan tidak wajib had kerana minum arak, dan hukum rejam kerana zina seperti golongan Khawarij.
    Mereka mengajarkan bahawa punca-punca Syariah ialah al-Quran, Sunnah dan Ijma’ Salaf.
    Mereka anggap kafir golongan Khawarij yang menolak hujah-hujah ijma’ dan sunah-sunah, juga mereka anggap kafir golongan Syiah Rafidah yang mengajarkan tidak ada hujah dalam semua perkara tersebut. Yang menjadi hujah hanya ajaran imam ghaib yang mereka sedang nanti-nantikan.

    10. Rukun Yang Kesepuluh
    Tentang perintah dan larangan dalam Syara’. Mereka mengajarkan bahawa perbuatan orang-orang mukallaf terbahagi kepada lima bahagian, iaitu yang wajib, haram, sunat, makruh, dan harus. (Diikuti dengan definisi-definisinya).

    11. Rukun Yang Kesebelas
    Berkenaan Dengan Hilangnya Para hamba dan hukum mereka di Akhirat. Mereka mengajarkan Allah berkuasa membinasakan seluruh alam dan membinasakan setengah jisim dan mengekalkan yang lainnya.
    Mereka mengajarkan bahawa Allah akan mengembalikan semula hayat manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang mati di dunia, ini berlawanan dengan golongan yang mengatakan bahawa Allah menghidupkan semula manusia sahaja tidak yang lain-lainnya.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa Syurga dan Neraka adalah makhluk yang dijadikan, berlawanan dengan pendapat golongan yang mengatakan bahawa kedua-duanyua bukan makhluk.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa ni’mat Syurga kekal dan azab Neraka kekal atas ahli-ahlinya yang terdiri daripada mereka yang tidak membawa iman dan yang munafik. Ini berlawanan dengan pegangan mereka yang mengatakan bahawa Syurga dan Neraka tidak kekal, akan fana.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan yang kekal dalam neraka ialah mereka yang tidak membawa iman, berlawanan dengan pendapat Khawarij dan Qadariah yang mengajarkan kekal di dalamnya tiap-tiap orang yang masuk ke dalamnya.
    Mereka mengajarkan golongan Qadariah dan Khawarij – yang telah dijelaskan sifat-sifatnya – kekal dalam Neraka. Dijauhkan Allah.
    Mereka mengajarkan tetap ada soal dalam kubur dan ada fitnah dan azab di dalamnya bagi mereka yang berkenaan. Mereka memutuskan bahawa mereka yang mengingkari azab kubur akan diazabkan di dalamnya.
    Mereka mengajarkan adanya Kolam Nabi, Sirat, dan Mizan.
    Mereka mengajarkan adanya syafaat dari Nabi s.a.w. dan daripada mereka yang salih dari umatnya bagi mereka yang berdosa di kalangan Muslimin dan orang yang ada sebesar zarah iman dalam kalbunya. Mereka yang mengingkari syafaat tidak akan mendapat syafaat.

    12. Rukun Yang Kedua Belas
    Berkenaan Dengan Khilafah dan Imamah. Imamah, atau khilafah wajib atas umat Islam supaya pihaknya menjalankan hukum dan amanah-amanah, menjaga dan menguatkan kubu-kubu pertahanan, serta menghantar tentera jihad, membahagi-bahagikan fay’ – iaitu harta yang didapati bukan melalui peperangan, dan menyelesaikan masalah penzaliman ke atas mereka yang dizalimi.
    Diikuti dengan syarat-syarat imamah: ilmu, keadilan, bangsa Quraisy.

    13. Rukun Yang Ketiga Belas
    Berkenaan dengan Iman, Islam. Mereka mengajarkan asal iman ialah ma’rifah, tasdiq (pembenaran) dengan hati. Mereka mengajarkan wajib taat dalam perkara yang wajib dan sunat dalam perkara yang sunat.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan keimanan tidak hilang dengan berlakunya dosa, tetapi hilang dengan berlakunya kekufuran. Dijauhkan Allah. Orang yang berdosa dia mu’min, bukan kafir, walaupun ia menjadi fasik kerana dosanya.
    Ahli Sunnah mengajarkan tidak halal membunuh orang mu’min melainkan kerana salah suatu daripada yang tiga: murtad, zina selepas kahwin, atau hukum qisas kerana orang itu membunuh orang.
    Ini berlawanan dengan golongan Khawarij yang mengharuskan bunuh tiap-tiap orang yang melakukan maksiat.

    14. Rukun Yang Keempat Belas
    Berkenaan Dengan Para Wali dan Imam-Imam. Ahlis-Sunnah mengajarkan para malaikat maksum daripada semua dosa berdasarkan ayat yang bermaksud: ”Mereka tidak derhaka terhadap Allah tentang perkara yang diperintahkan kepada mereka dan mereka lakukan apa yang disuruh” (Surah at-Tahrim: ayat 6).
    Kebanyakan mereka dalam Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa para nabi a.s.s. melebihi kedudukan para malaikat, berlainan daripada mereka yang menyatakan bahawa para malaikat melebihi kedudukan para nabi. Pendapat ini menyebabkan pegangan bahawa malaikat Zabaniah penjaga Neraka itu melebihi kedudukan ulul-‘azmi di kalangan para rasul.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan: para nabi melebihi para wali, ini berlawanan dengan golongan Karramiah yang mengajarkan para wali melebihi nabi.
    Ahlis-Sunnah mengajarkan: keutamaan sepuluh orang Sahabat yang diputuskan oleh Nabi bahawa mereka ahli syurga terdiri daripada empat khalifah, kemudian Talhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, dan ‘Abd al-rahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah. Allah meredhai mereka.
    Mereka mengajarkan: terutamanya mereka yang menjadi ahli perang Badar berserta dengan Nabi dan diputuskan bahawa mereka ahli Syurga (Ini semua berlawanan dengan golongan yang mengkritik dan mencela para sahabat terdiri daripada golongan Syiah Rafidah dan lainnya, dan juga pengarang-pengarang moden yang suka mengkritik para Sahabat dan melanggar adab-adab dalam hubungan dengan mereka, yang pembelaan tentang mereka itu banyak dibuat oleh Qadi ‘Iyad rh dalam kitabnya al-Shifa).

    15. Rukun Yang Kelima Belas
    Berkenaan Dengan Hukum Tentang Para Musuh Islam. Ahlus-Sunnah mengajarkan: Para musuhnya ada dua: yang sebelum Islam dan yang lahir zaman Islam dan yang menunjukkan secara zahirnya mereka Orang Islam.
    Mereka yang sebelum Islam terdiri daripada pelbagai golongan: para penyembah berhala dan patung;
    Yang mengikut aliran hululiah yang mengajarkan roh Tuhan masuk meresap dalam bentuk-bentuk yang cantik; para penyembah matahari, bulan, bintang-bintang semuanya atau setengah daripadanya;
    Yang menyembah malaikat dan memanggilnya sebagai anak-anak perempuan Allah; yang menyembah Syaitan (menyentuh “satanic cult” sekarang); menyembah lembu; menyembah api;
    Pada Ahlis-Sunnah mereka yang menyembah berhala, manusia, dan malaikat, bintang, api, dan sebagainya haram berkahwin dengan wanita mereka.
    Tentang jizyah boleh diterima daripada Ahlil-Kitab dan mereka yang ada sesuatu kitab seperti Ahlil-Kitab.
    Mereka yang tidak membawa iman sebelum Islam: golongan “sophist” – as-sufista’iyah – yang mengingkari adanya hakikat ilmu, termasuk golongan al-Sumniyah yang mengajarkan alam ini kadim, dan mereka mengingkari tilikan akal dan pengambilan dalil dalam pemikiran, dengan dakwaan bahawa tidak ada yang boleh diketahui melainkan yang melalui pancaindera sahaja.
    Termasuk golongan Materialist klasik – dahriyah – yang mengajarkan alam ini kadim.
    Termasuk golongan yang mengajarkan kadim benda awal alam (hayula al-‘alam)
    Termasuk golongan ahli falsafah yang mengajar alam ini kadim dan mereka menolak adanya Tuhan Maha Pencipta; antara, mereka ialah Pythagoras. (Antara ahli sains moden tidak sedikit yang materialist dan menolak adanya Tuhan dan alam rohani). Muslimin bersepakat bahawa semua golongan tersebut tidak boleh dimakan sembelihan mereka dan wanita mereka tidak boleh dikahwini oleh Muslimin. (Diikuti dengan pendetailan hukum tentang jizyah dari mereka, perkahwinan dengan wanita mereka dan sebagainya).
    Tentang mereka yang tidak membawa iman dalam daulah Islam dan berselindung dengan zahir Islam mereka, dan memperdaya Muslimin secara rahasia: mereka ialah golongan Syiah ghulat rafidah al-Sababiah, al-Bayaniyah, al-Muqanna’iyyah, al-Mansuriah, al-janahiah, al-Khattabiyah, dan lainnya yang berpegang kepada mazhab hulul dan batiniah; juga mereka yang berpegang kepada tanasukh al-arwah – berpindah-pindahnya roh masuk ke dalam badan manusia – terdiri daripada para pengikut ibn Abil-Auja’ juga mereka yang mengikut ajaran Ahmad bin Ha’it dari golongan Mu’tazilah.
    Juga termasuk: mereka yang berpegang kepada ajaran Yazidiah dari golongan Khawarij yang menegaskan bahawa Syariat Islam menjadi mansukh dengan adanya nabi dari golongan orang bukan Arab. Demikian seterusnya. (Termasuk ke dalam golongan ini mereka yang mendakwa Syariat Islam “tergantung” kerana Imam Mahadi belum datang; maka diharuskan oleh mereka itu zina, arak, dan sebagainya). Golongan ini semua tidak halal dimakan sembelihan mereka dan wanita mereka tidak boleh dikahwini oleh Muslimin.
    Ringkasnya Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa orang-orang yang menunjukkan amalan dan pegangannya dalam Ahlis-Sunnah ialah mereka yang bebas daripada amalan-amalan dan pegangan-pegangan golongan-golongan yang terkeluar daripada Islam, dan yang terdiri daripada mereka yang mengikut hawa nafsu, walaupun mereka dinisbahkan kepada Islam seperti Qadariah, Murjiah, Syiah Rafidah, Khawarij, Jahmiah, Najjariah dan Mujassimah.

    http://ahmadfaruq.blogdetik.com/ahlus-sunnah-wal-jamaah/

  2. 5 Februari 2009
    Tasawuf
    Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 19:33

    Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

    Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq.

    Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)

    Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195

    Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)

    Imam Shafi’i : ”Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:

    1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.

    2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.

    3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf

    [Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.]

    Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 :

    “Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah satunya Demi Allah Aku menasehatimu”.

    Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)

    Imam Ahmad (r) : “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)

    Imam Haris Al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)

    Imam Haris Al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawuf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.

    Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)

    Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]

    Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)

    Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf : “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].

    Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)

    Dalam suratnya al-Maqasid : “Ciri jalan sufi ada 5 : menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]

    Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)

    Imam Fakhr ad-Din ar-Razi : “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]

    Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)

    Ibn Khaldun : “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]

    Tajuddin as-Subki

    Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata: “Mereka dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.

    Jalaluddin as-Suyuti

    Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”

    Ibn Taimiya (661-728 H./1263-1328 CE)

    Majmu Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita. Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa’i, and Shaikh Bayazid al- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume 10: “…Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:” Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?”. Dan Allah menjawab: “Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”. Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, ” Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya”. Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd (pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid al-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul Saw.

    Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasawuf

    Berikut adalah pendapat Ibn Taimiah tentang definisi Tasauf dari strained, Whether you are gold or gold-plated copper.” Sanai. Following is what Ibn Taymiyya said about the definition of Tasawwuf, from Volume 11, At-Tasawwuf, of Majmu’a Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah, Cairo: “Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikan secara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yang berhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan).” “Tasauf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya. Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkan Allah: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)” Dia melanjutkan mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan kanan (ashabus-syimal).”

    Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)

    Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh Sufyan ath-Tsawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen) Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh” ‘

    Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab (1115-1201 H./1703-1787 CE)

    Dari Mu ammad Man ar Nu’mani’s book (p. 85), Ad- ia’at al-Mukaththafa Didd ash-Shaikh Mu ammad ibn c’Abdul Wahhab: “Shaikh ‘Abdullah, anak shaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf: ‘Anakku dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasauf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya tasauf diperlukan.” Dalam volume 5 dari Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab entitled ar-Rasa’il ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal. 12, 61, and 64 dia menyatakan: “Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn ‘Arabi atau Ibn al-Farid karena interpretasi sufinya”

    Ibn ‘Abidin

    Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].

    Shaikh Rashid Rida

    Dia berkata,”tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].

    Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi

    Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah” “Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasauf” “Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”

    Abul ‘Ala Mawdudi

    Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.” Ringkasnya, tasauf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.

    http://ahmadfaruq.blogdetik.com/tasawuf/

  3. Seri Harokah Islam: 4. Wahabi dan Salafi Mar 26, ’08 3:47 AM
    untuk

    Nama Abdulah bin Abdul Wahab yang dikenal dengan gerakan Wahabi, sebenarnya bukan istilah baku dalam literatur Islam. Banyak kalangan menilai bahwa gerakan Wahabi merupakan pelopor kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah[1] di Sudan, Sanusiyah[2] di Libia, Pan Islamismenya Jamaluddin Al-Afghani , Muhamamd Abduh di Mesir dan gerakan lainnya di benua India.

    Di kemudian hari gerakan ini terus berkembang dan tersebar tidak saja di Hijaz sendiri, bahkan sampai ke daerah lainnya. Pada akhirnya, istilah salafi melekat kuat hingga sekarang sebagai penerus gerakan Wahabi. Namun seiring dengan perjalanan waktu, dakwah ini mengalami pasang surut dan tampak adanya kesan saling tarik menarik di antara kader-kadernya. Tak jarang terlontar tuduhan sebagian kader sudah tidak konsisten lagi dengan jalur dakwah yang diemban, bahkan tudingan jumud dan apatis dilontarkan.

    Riwayat Singkat Penggagas Gerakan Wahabi

    Muhamad bin Abdul Wahhab At-Tamimi al-Najdi (1703-1791 M) lahir di Uyainah, daerah sebelah barat kota Riyadh. Ayahnya pernah menjabat ketua jabatan agama setempat, sedang kakeknya pernah menjabat qadhi (mufti besar).

    Abdul Wahab pernah belajar di Mekah selama beberapa waktu, kemudian meneruskan ke Madinah dan berguru pada dua ulama besar yang kelak membentuk pemikirannya, yaitu Syaikh Abdulah bin Ibrahim An-Najdi dan Syaikh Muhamamd Hayah Al-Sindi.

    Setelah menyelesaikan studinya, beliau meneruskan ke Basrah. Di Kota ini ia mempelajari hadits, fiqh dan ushul fiqh dan lainnya.

    Abdul Wahhab memulai dakwahnya di Basrah, tetapi dakwahnya tidak mendapat simpati. Beliau kemudian mengembara ke beberapa negeri muslim. Dakwahnya disambut ketika berada di Dir’iyyah. Bahakan dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat, Muhamamd bin Su’ud yang berkuasa pada tahun 1139-1179 H. Gerakan ini terus berkembang dan menjadi semacam gerakan nasional di seluruh wilayah Saudi Arabia hingga hari ini.

    Pokok Ajaran Muhamad bin Abdul Wahhab

    Abdul Wahhab muncul menjadi pelopor gerakan ishlah (reformasi) yang muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan berpikir di dunia Islam (abad ke 12 Hijriyyah). Dakwah ini menyerukan agar akidah Islam dikembalikan kepada makna dasarnya dengan membersihkan keimanan dari syirik, bid’ah, khuradfat dan dari segala manifestasinya. meraka melarang membangun bangunan di atas kuburan, menyelimutinya atau memasang lampu di dalamnya. Mereka juga melarang orang meminta kepada kuburan, orang mati, dukun, peramal, dan tukang sihir. Mereka juga melarang tawassul dengan menyebut nama orang shaleh seperti kalimat “bi jaahi rasul” atau keramatnya syaikh fulan dan fulan.

    Dakwah ini telah membangun umat Islam di bidang akidah yang telah lama jumud akibat kemunduran Islam. Mereka memperhatikan pengajaran dan pendidikan umum serta merangsang para ulama dan cendikiawan untuk kembali membuka literatur dari sumber yang mu’tabar, sebelum menerima sebuah pemikiran baru. Mereka tidak mengharamkan taqlid, namun meminta agar umat ini mau lebih jauh meneliti dan merujuk kembali pada nash dan dalil dari kitabullah dan sunnah Rasul SAW serta pendapat para ulama salafusshalih. diantara tokoh ulama yang sering mereka jadikan rujukan adalah Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

    Definisi Salafiyah

    Perkataan Arab ‘salaf’ sendiri secara harfiah berarti ‘yang lampau.’ Biasanya ia dihadapkan dengan perkataan ‘khalaf, yang berarti ‘yang belakangan’. [3]

    Yusuf Qardhawi berpendapat pada kenyataanya, tidak ada institusi formal yang menjadi tempat bernaung kaum salafiyun, sebab mereka adalah aliran umum yang tidak terbentuk dalam perkumpulan-perkumpulan, kecuali di beberapa negara dan beberapa waktu saja. Sebutlah misalnya Jamaah Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah di Mesir dan Sudan ataupun Jum’iyyah Ihya’ At-Turats di Kuwait.[4]

    Istilah salafiyun adalah terminology baru yang tidak tahu kapan tersebar penggunaannya. Jauh sebelum ini istilah tersebut bisanya diidentikkan dengan ahlul hadits, ahlul a’tsar, atau para pengikut Ahmad bin Hambal yang mewarisi aliran ahlul hadits sebagai antonim dari ahlul kalam dalam akidah, serta ahlu ra’yi dalam fiqih. Sepajang sejarah, banyak perbedaan serta pertentangan teori (kadang juga praktek) yang terjadi antara para pengikut Ahmad bin Hambal dan pengikut-pengikut aliran lain, baik itu dari kalangan Al-Asy’ariyah maupun Al-Maturidiyyah.

    Kendati demikian, hampir semua pakar gerakan Islam sepakat bahwa salafiyah di era modern ini adalah terlahir dari buah pikiran tokoh Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab. Suatu pergerakan pembaharuan di bidang agama, khususnya ketauhidan. Untuk menempuh tujuanya, syaikh Muhamad bin Abdul Wahhab telah menempuh berbagai macam cara, kadang lembut, kadang kasar, sesuai dengan sifat orang yang dihadapinya. Diantaranya adalah[5]:

    1. Berdakwah lewat surat.

    Ia mengirim surat ke Nejd melarang masyarakat bergantung kepada selain Allah. Surat itu juga dikirim ke ulama di Mesir, Syiria, Irak, Hindia, Yaman dan lainnya.

    2. Berdakwah secara terang-terangan

    Dilakukan dengan menyerukan masyarakat untuk menjauhi bid’ah dan menghancurkan tempat mangkalnya kemusrikan, khurafat dan takhayul. Diantara yang telah dihancurkan adalah makam Zaid bin Al-Khatab, saudara kandung Umar bin Khattab.

    3. Berdakwah lewat politik dan senjata

    Bersama Muhamad bin Saud ia membentuk beberapa batalyon yang dipersenjatai bahan peledak, disertai sejumlah pasukan cadangan untuk menyerbu negeri-negeri tetangga dalam rangka menyuburkan dakwah kepada akidah salafus shalih.

    Wahabi Masa Kini

    Para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab menamakan diri mereka dengan salafiyun atau muhammadiyun. Adapun sebutan Wahabiyun diberikan oleh kaum orientalis agar orang menjauh dan terkesan mereka berupaya membuat madzab baru, madzhab kelima yang bertentangan dengan madzab Islam yang empat.

    Di timur tengah sendiri, aliran salafi terpolarisasi ke dalam beberapa kelompok, diantaranya:

    1. Kelompok Salafiyah Politik

    Dengan alasan universalitas risalah Islam, kelompok ini lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang akidah. Mereka adalah kelompok yang terpengaruh oleh pemikiran Ikhwanul Muslimin. Mereka bisa disebut salafiyun sururiyun, dengan merujuk pada dai syiria Muhamad Surur Zain Al-Abidin, seorang mantan anggota Ikwan yang memisahlan diri,. Kelompom ini yang menentang keberadaan AS dan intervensi militer pada Perang Teluk II.

    2. Salafiyun Al-Albaniyun

    Kelompok ini mengikuti Syaikh Al-Muhandits Nashiruddin Al-Albani. Mereka memerangi fanatisme madzhab, madzhab-madzab fikih, taklid dan loyalitas terhadapnya, sekalipun oleh kalangan awam. Tetapi pada saat yang bersamaan, mereka juga mentaklid semua pendapat Syaikh Nasiruddin Al-Albani.

    3. Salafiyun Al-Jamiyun

    Inilah kelompok yang paling kasar. Tokohnya adalah Syaikh Rabi’ Al-Madkhali. Kelompok ini sering menyerang dan menyalahkan ulama dan dai yang bertentangan dengan mereka. Termssuk Imam An-Nawawi dan Al- Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani hanya karena mereka seorang penganut Asy-‘ariyah. Begitu pula ulama modern saat ini, seperti Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Syaikh Muhamad Al-Ghazali, Dr. Yusuf Qardhawi, Muhammad Imarah, Ali Ath-Thanthawi dan seterusnya. Kelompopk ini telah menulis beberapa buku yang menyerang para ulama, membeberkan kejelekan-kejelekan mereka serta melemparkan tuduhan terhadap pemikiran maupun tingkah laku ulama yang bebeda dengan pemikiran mereka.

    4. Pengikut Syaikh bin Bazz

    Mereka ini masih dalam kelompok yang belum terorganisir.

    Dengan demikian maka gerakan Wahabi banyak variasinya, tidak bisa dituduh sembarangan, harus ditegaskan dulu Wahabi yang mana.

    Konteks Indonesia.

    Dalam konteks Indonesia, pengikut manhaj dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab sangat sangat pesat pekembangannya. Di era pra kemerdekaan dan pasca kemerdekkaan, pemikiran Wahabi banyak mempengaruhi pemikiran Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Namun demikian, kehadiran Wahabi setelah tahun 90-an semakin merebak dan fenomenal dengan aliran Wahabi terbaru yang menamakan diri sebagai jamaah salafiyah. Penyebutan sebagai salafi sebagai wujud entitas keberadaan mereka , yang menganggap apa yang dilakukan ketiga organisasi Islam di Indonesia tidak mewakili lagi paham Wahabi yang asli. Aliran ini tampil dengan ciri khas nya; berjanggut, gamis, celana di aas tumit dan kajian-kajian tauhidnya yang semarak di berbagai pelosok.

    Gerakan salafi modern ini seperti pendahulunya menitikberatkan pada orisinalitas ibadah. Mereka sangat anti terhadap penyakit TBC dan hal lain yang berbau modernitas. Terkadang mereka terjebak pada pola membidahkan dan mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan pola perjuangnnya.

    Di Indonesia, gerakan salafi sendiri terpecah ke dalam beberapa kelompok. ada yang kelompok politis yang dipimpin oleh mantan komandan laskar Jihad Ustad Ja’far Umar Thalib. Ada juga kelompok-kelompok yang apolitis, yakni mereka yang murni mengurusi masalah tauhid belaka. Mereka cenderung mengikuti fatwa para ulama Saudi yang melarang mengkritik pemerintah bagaimanapn diktatornya, selama ia masih shalat.

    [1] Pendiri gerakan ini adalah Muhammad Ahmad Al-Mahdi (1845-1885), seorang pengikut tarekat Qadiriyah. Berupaya mengusir tentara Inggris dan Imperium Utsmani di Sudan.

    [2] Pendiri gerakan ini adalah Muhamamd Mahdi As-Sanusiyah, Mursyid Tarekat As-Sanusiyah di Libya.

    [3] Nurcholis Madjid, “ Menangkap Kembali Dinamika Islam Klasik: Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etika.” www. paramadina. com

    [4] Al-Shafwah Al-Islamiyyah min Al-murahaqah ila Ar rusydi, (Beirut: Dar el Syuruq, 2002), hal. 79.

    [5] Dr. Mustafa Ar-rafi’i, “Ad-dakwah wa ad Duat fil Islam”, (Kuwait, Al-Maktab Al-Islami, 1993).

  4. NII

    Mau share pengalaman ghan, semoga membantu.. panjang bgt gpp ya hehe..

    Asalkan waspada dan hati-hati serta tidak mudah percaya, insyaAllah gak akan terbodohi.

    Dulu kira2 tahun 2004-an saya pernah ketemu dengan teman lama (sebutlah namanya “Rika ” biar lebih gampang ceritanya) yang sebelumnya menelepon meminta saya untuk menjadi koresponden seputar film untuk majalah independen kawannya. Kami janjian di mc’d orion/rawamangun, disana saya ketemu Rika dan temennya… singkat kata saya diajak ke tempat orang (yang katanya) memiliki majalah tsb.. saya pergi dengan temennya Rika naik motornya dia, sedangkan Rika menyusul naik angkot, sebelumnya rika mengaku belum pernah ketemu apalagi kerumah orang ini sekalipun.

    Saya diajak naik motor muter2 kaya obat nyamuk sampe tiba di tengah jalan yang diapit sawah, trus muter2 jaauuuuh bgtt sampe masuk ke sebuah komplek perumahan dan berhenti di sebuah rumah. Disana udah ada rika, lagi duduk sambil minum teh sambil ngobrol2 sama 1 orang cowo. Hebat kan??? Jalanan rawa mangun tengah hari yang lumayan penuh, tapi dia (yg katanya belum pernah kesana) bisa sampe duluan naik angkot.. sedangkan saya yg naik motor dengan orang yang sudah biasa kesana bisa telaaaatt bgtt sampenya (saya tahu karena liat di gelas rika minuman dah mo abis) hawhaw saya udah merasa dibodohi tapi “diem aja dulu ah.. kepingin tau” kata saya dalam hati.

    Kami ngobrol2 di teras depan seputar usaha bakmie yang dia dirikan dan telah memiliki banyak sekali cabang, serta relasi-relasinya yang menduduki banyak posisi penting di perusahan dan lain-lain, termasuk tawaran menggiurkannya yang bilang akan membantu promosi musik yg saya buat dan mainkan… Ditengah pembicaraan kami tiba² seorang cewe cantik sexy datang mengantar minuman untuk saya, anehnya itu cewe ‘main mata’ pas ngasih minuman… “wah ada yang aneh nih…dalam kondisi gw berandalan begini koq bisa di lirik cewe, cakep bgt pula” pikir saya saat itu yg merasa janggal karena jarang dilirik cw yg kurang cakep apalagi yg cakep bgt hahaha… Sampai akhirnya tiba2 topik pembicaraan kami menyangkut soal Al-Quran dan agama islam. “Kalo ngobrolin Al-Qur’an didalem aja yuk.. gak enak disini” kata si orang yang tidak mau menyebutkan namanya itu saat berkenalan berjabat tangan.

    Kami masuk ke sebuah kamar ber-ac yang amat sangat tertutup rapat, sampai² jendela aja disemen. Kami berempat duduk di karpet menghadap white board panjang lebar, masing2 diberi 1 buah al-Quran terjemahan. Si orang itu (sebutlah namanya si “o’on” biar gampang ceritanya hehe). Si o’on menyuruh kita semua membuka dan membaca terjemahan ayat yang dia sebutkan.. kemudian memaksakan “isi” menurut tafsirannya sendiri kepada saya… tapi selalu terbantah, karena setap si o’on menyuruh saya membaca sebuah ayat, selalu saya baca dari 2-3 ayat sebelumnya dan 2-3 ayat setelahnya, dan tafsiran dia selalu berlawanan dengan ayat sebelumnya atau setelahnya, atau berlawanan dengan ayat dari surat lain yang ia sebutkan. Hal itu berlanjut hingga ia menggambar sebuah analogi untuk menerangkan bahwa “kita semua masih kafir”, dan alhamdulillah Allah selalu memberikan saya fikiran untuk mengartikan analogi yg dia buat dengan sudut pandang yg berbeda.

    mereka akan membodohi anda dengan kalimat ini:

    si O’on: “kita semua masih kafir, karena hidup dibawah aturan yg dibuat manusia UUD 1945 dan Pancasila.. bukan dibawah Al-Qur’an dan hukum Islam! Karena manusia dilarang membuat aturan apapun, yang mempunyai kuasa itu” hanya Allah”.
    Saya: “Apakah Pancasila dibuat untuk menentang Hukum Al-Qur’an dan Islam, ataukah dibuat dengan mempertimbangkan penuh aturan-aturan yg ada dalam Islam?? Jika dibuat untuk menentang, bagian yg mana” Saya sebut sila 1 sampe ke 5 dan saya tanya bagian mana yang berlawanan dengan Islam?
    si O’on: meneng bae.
    Saya: “Jika memang manusia dilarang membuat peraturan apapun, ayat atau hadits apa yg menjadi dasarnya?”
    si O’on: Meneng bae again.
    Saya: “Bagaimana dengan Fiqh?”
    si O’on: meneng as always.
    *Orang yang tadinya mengaku sudah katam dalam mempelajari Al-Quran dan bersikap seperti seorang ustadz yang kepenuhan ilmu² Islam, ternyata gak tau apa-apa soal Agama yang mulia ini. Inilah kawan… Ayat yang mereka pakai itu selalu ayat2 yang sama, yang juga dulu dipake untuk membodohi mereka dan kebanyakan dari mereka tidak tahu apa-apa soal Islam.. kecuali dari “combat kit” yang sudah dirancang oleh atasannya.

    Kemudian mereka akan berusaha membodohi anda dengan analogi² gambar..
    Berikut analoginya (mungkin perlu diwaspadai):

    Si O’on (sambil gambar): “negara indonesia itu ibarat sebuah tong sampah yang kotor, dan orang beriman itu ibarat apel yang terbungkus dengan rapat didalam tong sampah tersebut. Walaupun tertutup rapat, namun kita sebut apa apel tsb? sampah!”
    Saya (pinjem spidolnya):”Okeh mas kita pake analoginya.. sekarang kita ganti apel/orang beriman tersebut dengan berlian yang sama sekali tidak tertutup rapat. Walaupun berlian itu ada di dalam tong sampah, tercampur dengan sampah, terkena kotoran-kotoran.. masih berupa berlian tidak? ataukah kita juga akan menyebut berlian tersebut adalah sampah dan kita menjadi jijik karenanya?? Tidak khan?! Itu saja dari penglihatan kita yang terbatas, apalagi dari Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat siapa saja hamba-Nya yg beiman!”

    Dan banyak sekali hal yang kami debatkan…mereka akan memutar logika anda agar sehingga pada akhirnya ada akan berkata “oh iya yah.. bener juga”. Tidak berhenti berfikir dan memohon perlindungan-Nya adalah kunci agar tidak tersesat.
    Oh iya.. ditengah diskusi kami itu, saya sempat minta izin ke kamar mandi dan saya melihat dari pintu yang terbuka sedikit, sebuah ruangan dengan meja panjang dan banyak orang laki² dan perempuan duduk disitu. Mereka tidak pernah keluar ruangan sejak awal saya datang. “Wah dikeroyok ni gw” pikir saya saat itu.

    Si o’on yang tadinya ramah, sekarang emosi, mukanya selalu merah memukul-mukul spidol ke lantai setiap saya debat dengannya. Saya yang juga sudah terlanjur emosi dan membuat dia terlihat sangat marah dan tersinggung saat saya bilang “Ga usah pake analogi²an segala buat ngebodohin gw, sini spidolnya gw bikinin lo analogi”. Akhirnya wajah emosinya berubah menjadi wajah bingung saat saya tanya tentang tujuan awal saya datang kesini: KORESPONDEN FILM yang sejak awal tidak pernah disinggung sama sekali. Tadinya saya pikir saya tidak akan keluar hidup² dari situ, tapi saat itu tekad jihad sudah bulat, jadi saya pindah tempat duduk disebelah si o’on, siap2 nyandera dia kalo ada apa-apa hahaha..
    Alhamdulillah saya berhasil keluar dengan dalih sudah punya janji dengan orang lain, dan si o’on sebagai orang yang mengerti Islam pasti mengetahui apa arti “janji” didalam Islam, kata saya padanya. Hujan lebat saya keluar dari situ ke pangkalan ojek (ternyata saya ada di kali malang) dan saya laporkan sama mereka kalo di rumah itu ada aliran sesat hahaha… trus pulang deh.
    Si Rika dan kawannya? mereka adalah pengikut si o’on.

    Tidak lama setelah itu, ex.GF saya juga mengalami hal tersebut, dikenalkan dengan orang di Kalibata mall oleh seorang teman, singkat cerita dibawa dengan mata tertutup didalam mobil kijang ke daerah utan kayu jakarta, tapi akhirnya tidak terjerumus, dia menghilang untuk beberapa hari, ngumpet. Saat saya telp no.kawannya itu, sudah tidak aktif.

    Semoga dapat membantu untuk lebih waspada.

    Diposkan oleh Aji Cemerlang di 07.36 7

    http://nii-alzaytun.blogspot.com/

  5. NII, Komando Jihad dan Orde Baru
    9 Agustus 2010

    Berbicara tentang Komando Jihad, tidak bisa lepas dari gerakan NII (DI/TII) pimpinan SM Kartosoewirjo (SMK). Karena, seluruh tokoh penting yang terlibat di dalam gerakan Komando Jihad ini, adalah petinggi NII (DI/TII) pimpinan SMK yang dieksekusi pada September 1962 di sebuah pulau di Teluk Jakarta.

    Boleh dibilang, gerakan Komando Jihad merupakan salah satu bentuk petualangan politik para pengikut SMK pasca dieksekusinya sang imam. Sebelumnya, pada Agustus 1962, seluruh warga NII (DI/TII) yang jumlahnya mencapai ribuan orang, mendapat amnesti dari pemerintah. Termasuk, 32 petinggi NII (DI/TII) dari sayap militer, belum termasuk Haji Isma’il Pranoto (Hispran) dan anak buahnya, yang baru turun gunung (menyerah kalah kepada pasukan Ali Moertopo) pada 1974.

    Dari 32 petinggi NII (DI/TII) yang telah menyerah[1] kepada pihak Soekarno tanggal 1 Agustus 1962 itu, sebagian besar menyatakan ikrar bersama, yang isinya:
    “Demi Allah, saya akan setia kepada Pemerintah RI dan tunduk kepada UUD RI 1945. Setia kepada Manifesto Politik RI, Usdek, Djarek yang telah menjadi garis besar haluan politik Negara RI. Sanggup menyerahkan tenaga dan pikiran kami guna membantu Pemerintah RI cq alat-alat Negara RI. Selalu berusaha menjadi warga Negara RI yang taat baik dan berguna dengan dijiwai Panca Sila.” [2]

    Sebagian kecil di antara mereka tidak mau bersumpah setia, yaitu Djadja Sudjadi, Kadar Shalihat, Abdullah Munir, Kamaluzzaman, dan Sabur. Dengan adanya ikrar tersebut, maka kesetiaan mereka kepada sang Imam telah bergeser, sekaligus mengindikasikan bahwa sebagai sebuah gerakan berbasis ideologi Islam, NII (DI/TII) sudah gagal total. Dan sisa-sisa gerakan NII pada saat itu (1962) dapat dikata sudah hancur lebur basis keberadaannya.

    Setelah tiga tahun vakum, ada di antara mereka yang berusaha bangkit melanjutkan perjuangan, namun dengan meninggalkan karakter militeristik dan mengabaikan struktur organisasi kenegaraan NII. Mereka inilah yang meski sudah menerima amnesti namun tidak mau bersumpah-setia sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar mantan petinggi NII lainnya.

    Gerakan tersebut menamakan diri sebagai gerakan NII Fillah (bersifat Non Struktural). Kepemimpinan gerakan dijalankan secara kolektif oleh Kadar Shalihat dan Djadja Sudjadi. Munculnya kelompok Fillah atau NII non struktural ini, ditanggapi serius oleh pihak militer NKRI. Yaitu, dengan menciptakan “keseimbangan”, dengan cara melakukan penggalangan kepada para mantan “mujahid” NII yang pernah diberi amnesti dan telah bersumpah setia pada Agustus 1962 lalu.

    Melalui jalur dan kebijakan Intelijen, pihak militer memberikan santunan ekonomi sebagai bentuk welfare approach (pendekatan kesejahteraan) kepada seluruh mantan “mujahid” petinggi NII yang menyerah dan memilih menjadi desertir sayap militer NII.

    Nama-nama Tokoh Penting di Belakang Gerakan Komando Jihad.

    Nama Danu Mohammad Hasan[3] yang pertama kali dipilih Ali Murtopo untuk didekati dan akhirnya berhasil dibina menjadi ‘orang’ BAKIN, pada sekitar tahun 1966-1967. Pendekatan intelijen itu sendiri secara resmi dimulai pada awal 1965, dengan menugaskan seorang perwira OPSUS bernama Aloysius Sugiyanto.[4] Tokoh selanjutnya yang menyusul dibidik Ali Murtopo adalah Ateng Djaelani Setiawan.

    Tokoh lain yang diincar Ali Murtopo dalam waktu bersamaan yang didekati Aloysius Sugiyanto adalah Daud Beureueh mantan Gubernur Militer Daerah Istimewa ACEH tahun 1947 yang memproklamirkan diri sebagai Presiden NBA (Negara Bagian Aceh) pada 20 September 1953, dan menyerah, kembali ke NKRI Desember tahun 1962.

    Selanjutnya pendekatan terhadap para mantan petinggi sayap militer DI-TII yang lain yang berpusat di Jawa Barat dilakukan oleh Mayjen Ibrahim Aji, Pangdam Siliwangi saat itu.[5] Mereka yang dianggap sebagai “petinggi NII” oleh Ibrahim Aji itu di antaranya: Adah Djaelani dan Aceng Kurnia. Kedua mantan petinggi sayap militer DI ini pada saat itu setidaknya membawahi 24-26 nama (bukan ulama NII). Sedangkan mereka yang dianggap sebagai mantan petinggi sayap sipil DI yang selanjutnya menyatakan diri sebagai NII Fillah –antara lain adalah Kadar Shalihat, Djadja Sudjadi dan Abdullah Munir dan Kamaluzzaman– membawahi puluhan ulama NII.

    Pengaruh dan Akibat Kebijakan Intelijen Ali Murtopo – ORDE BARU.

    Baik menurut kubu para mantan petinggi sayap militer maupun sayap sipil NII, politik pendekatan pemerintah orde baru melalui Ibrahim Aji yang menjabat Pangdam Siliwangi tersebut, sangat diterima dengan baik, kecuali oleh beberapa pribadi yang menolak uluran pemerintah tersebut, yaitu Djadja Sudjadi[6] dan Abdullah Munir. Para mantan tokoh sayap militer dan sayap sipil DI selanjutnya menjadi makmur secara ekonomi. Hampir masing-masing individu mantan tokoh DI tersebut diberi modal cukup oleh Letkol Pitut Suharto berupa perusahaan CV (menjadi kontraktor) dilibatkan dalam proyek Inpres, SPBU atau agen Minyak Tanah.

    Kebijakan OPSUS dan Intelijen selanjutnya menggelar konspirasi dengan meminta para mantan laskar NII tersebut mengkonsolidasikan kekuatan melalui reorganisasi NII ke seluruh Jawa dan Sumatra. Pada saat itu Ali Murtopo masih menjabat Aspri Presiden selanjutnya menjadi Deputi Operasi Ka BAKIN dan merangkap Komandan OPSUS ketika mendekati detik-detik digelarnya ‘opera’ konspirasi dan rekayasa operasi intelijen dengan sandi: “Komando Jihad” di Jawa Timur.

    Dalam waktu yang bersamaan Soeharto menyiapkan Renstra (Rencana Strategis) Hankam (1974-1978) sebagaimana dilakukan ABRI secara sangat terorganisir dan sistematis melalui penyiapan 420 kompi satuan operasional, 245 Kodim sebagai aparat teritorial dan 1300 Koramil sebagai ujung tombak intelijen dalam gelar operasi keamanan dalam negeri yang diberi sandi Opstib dan Opsus.

    Sementara, pada saat yang bersamaan di tahun 1971-1973 tersebut Ali Murtopo juga melindungi sekaligus menggarap Nurhasan al-Ubaidah Imam kelompok Islam Jama’ah yang secara kelembagaan telah dinyatakan sesat dan terlarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, namun pada waktu yang sama justru dipelihara serta diberi kesempatan seluas-luasnya melanjutkan kiprahnya dengan missi menyesatkan ummat Islam melalui lembaga baru LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam) di bawah naungan bendera Golkar dan berganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berlanjut hingga sekarang.

    Dari sinilah pendekatan itu berkembang menjadi makin serius dan signifikan, ketika Ali Murtopo mengajukan ide tentang pembentukan dan pembangunan kembali kekuatan NII, guna menghadapi bahaya laten komunis dari utara maupun dalam rangka mengambil alih kekuasaan. Ide Ali Murtopo ini selanjutnya diolah Danu Mohammad Hasan dan dipandu Letkol Pitut Suharto, disambut Dodo Muhammad Darda, Tahmid Rahmat Basuki (anak SMK) dan H.Isma’il Pranoto (Hispran).

    Keberadaan dan latar belakang Letkol Pitut Suharto yang memiliki kedekatan hubungan pribadi dengan Andi Sele di Makassar, juga dengan H. Rasyidi [7] di Gresik Jawa Timur, pada tahun 1968 akhirnya ditugaskan Ali Murtopo untuk mengolah hubungan dan keberadaan para mantan petinggi NII yang sudah dirintisnya sejak 1965 tersebut dengan kepentingan membelah mereka menjadi 2 faksi.

    Faksi pertama diformat menjadi moderat untuk memperkuat Golkar, dan faksi kedua diformat bagi kebangkitan kembali organisasi Neo NII.

    Keterlibatan Pitut Suharto yang akhirnya dinaikkan pangkatnya menjadi pejabat Dir Opsus di bawah Deputi III BAKIN terus berlanjut, Pitut tidak saja bertugas untuk memantau aktifitas para mantan tokoh DI tersebut, tetapi Pitut sudah terlibat aktif menyusun berbagai rencana dan program bagi kebangkitan NII, baik secara organisasi maupun secara politik termasuk aksi gerakannya.

    Ketika BAKIN membuat program pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah –seperti Mesir, Syria, Libya dan Saudi Arabia yang diantara alumnnya kemudian terkait dengan konflik Moro (MNLF) dan kelompok perlawanan Aceh– Pitut Suharto-lah yang ditunjuk Ali Murtopo untuk mengelola (membimbing, memantau, mengurus dan menyelesaikan) masalah tersebut, sekalipun keberangkatan para kader aktifis Indonesia ke Negara-negara Timur Tengah tersebut terbukti hanya untuk mempelajari pola-pola gerakan Islam di sana, sembari mempelajari syari’ah sebagai cover, dan melakukan pelatihan militer.

    Tetapi antisipasi yang dilakukan pihak pemerintah Indonesia pada saat itu terlampau maju dan cepat, sekitar tahun 1975 keberadaan kedutaan Libya di Jakarta dipaksa tutup. Tetapi skenario Opsus terhadap kebangkitan organisasi NII terus digelindingkan. Bahkan Pitut Suharto (pihak intelijen/orde baru) justru menggunakan isu politik Libya di mata Barat dan bangkitnya NII tersebut dijadikan sebagai isu sentral terkait dengan “bahaya laten kekuatan ekstrim kanan” di Indonesia.

    Kebijakan Abbuse of Power Intelijen Ali Murtopo.

    Bersamaan dengan kebijakan itu (memanfaatkan situasi politik terhadap Libya tersebut) strategi Opsus yang dilancarkan melalui Pitut Suharto berhasil meyakinkan para Neo NII tersebut untuk sesegera mungkin menyusun gerakan jihad yang terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra untuk melawan dan merebut kekuasaan Soeharto. Semakin cepat hal tersebut dilaksanakan semakin berprospek mendapat bantuan persenjataan dari Libya, yang sudah diatur Ali Murtopo.

    Berkat panduan Letnan Kolonel TNI AD Pitut Suharto[8] kegiatan musyawarah dalam rangka reorganisasi NII yang meliputi Jawa-Sumatra tersebut berlangsung beberapa hari, hal itu justru dilaksanakan di markas BAKIN jalan Senopati, Jakarta Selatan. Di sinilah situasi dan kondisi (hasil rekayasa BAKIN-Ali Murtopo dan Pitut Suharto melalui kubu Neo NII Sabilillah di bawah Daud Beureueh, Danu Mohammad Hasan, Adah Djaelani, Hispran dkk) berhasil didesakkan kepada kubu Fillah yang dipimpin secara kolektif oleh Djaja Sudjadi, Kadar Shalihat dan Abdullah Munir dkk untuk memilih kepemimpinan.

    Hasil musyawarah kedua kubu (Fillah dan Sabilillah ini) yang dilakukan pada tahun 1976 ini menetapkan, kepemimpinan NII diserahkan kepada Tengku Daud Beureueh sekaligus membentuk struktur organisasi pemerintahan Neo NII yang terdiri dari Kementrian dan Komando kewilayahan (dari Komandemen Wilayah hingga Komandemen Distrik dan Kecamatan) namun tanpa dilengkapi dengan Majelis Syura maupun Dewan Syura.

    Provokasi dan jebakan OPSUS terhadap para mantan tokoh DI berhasil, Struktur organisasi NII kepemimpinan Daud Beureueh berdiri dan berlangsung di bawah kendali Ali Murtopo yang saat itu menjabat sebagai Deputi Operasi Ka BAKIN melalui Kolonel Pitut Suharto.

    Gerakan dakwah agitasi dan provokasi neo NII Sabilillah disponsori Pitut Suharto dan Ali Murtopo mulai berkembang ke seantero pulau Jawa. Muatan dakwah, agitasi dan provokasi para tokoh Neo NII bentukan Ali Murtopo-Pitut Suharto hanya berkisar seputar pentingnya struktur organisasi NII secara riil.

    Karenanya kegiatan seluruh anggota kabinet Neo NII adalah melakukan rekrutmen melalui pembai’atan secepatnya untuk mengisi posisi pada struktur wilayah (Gubernur sekaligus sebagai Pangdam = Komandemen Wilayah) dan posisi pada struktur Distrik (Bupati sekaligus sebagai Kodim = Komandemen Distrik) seraya menebar janji akan segera memperoleh supply persenjataan dari Libya sebanyak satu kapal[9] yang akan mendarat di pantai selatan Pulau Jawa.

    Sasaran rekrutmen (pembai’atan) dilakukan hanya sebatas mengisi posisi pada komandemen distrik struktur Neo NII, maka sasaran rekrutmen dipilih secara tidak selektif di antaranya adalah para tokoh pemuda Islam dan ulama atau kiai yang nota bene sangat awam politik maupun organisasi.

    Tugas rekrutmen untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan oleh H. Isma’il Pranoto dan H. Husein Ahmad Salikun. Di Jawa Timur aktifitas rekrutmen bagi kebangkitan Neo NII yang dilakukan oleh H. Isma’il Pranoto tersebut sama sekali tidak terlihat ada tindak lanjut apapun, baik yang berbentuk pelatihan manajemen dakwah dan organisasi maupun yang bersifat fisik baris berbaris, menggunakan senjata atau merakit bom. Tetapi hanya terhitung selang sebulan atau dua bulan kemudian, aparat keamanan dari Laksus tingkat Kodam, Korem dan Kodim menggulung dan menyiksa mereka tanpa ampun.

    Jumlah korban penangkapan oleh pihak Laksusda Jatim yang digelar pada tanggal 6-7 Januari 1977 terhadap para rekrutan baru H. Isma’il Pranoto mencapai sekitar 41 orang, 24 orang di antaranya diproses hingga sampai ke pengadilan.

    H. Ismail Pranoto divonis Seumur Hidup, sementara para rekrutan Hispran yang juga disebut sebagai para pejabat daerah struktur Neo NII tersebut, baru diajukan ke persidangan pada tahun 1982, setelah “disimpan” dalam tahanan militer selama 5 tahun, dengan vonis hukuman yang bervariasi. Ada yang divonis 16 tahun, 15 tahun, 14 tahun hingga paling ringan 6 tahun penjara.

    H. Ismail Pranoto disidangkan perkaranya di Pengadilan Negeri Surabaya tahun 1978 dengan memberlakukan UU Subversif PNPS No 11 TH 1963 atas tekanan Pangdam VIII Brawijaya saat itu, Mayjen TNI-AD Witarmin[10]. Sejak itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa makar dari kalangan Islam.

    Nama Komando Jihad sendiri menurut H. Isma’il Pranoto merupakan tuduhan dan hasil pemberkasan pihak OPSUS, baik pusat maupun daerah (atas ide Ali Murtopo dan Pitut Suharto). Sementara penyebutan yang berlaku dalam tahanan militer Kodam VIII Brawijaya – ASTUNTERMIL di KOBLEN Surabaya, mereka dijuluki sebagai jaringan Kasus Teror Warman (KTW).

    Sementara keberadaan Pitut Suharto sendiri sejak tanggal 6 Januari 1977 – saat dimulainya penangkapan terhadap H. Isma’il Pranoto dan orang-orang yang direkrutnya sebagai kelompok Komando Jihad– Pitut justru pergi menyelamatkan diri dengan menetap di Jerman Barat, dan baru kembali ke Indonesia setelah 6 atau 7 tahun kemudian.

    Di Jawa Tengah sendiri aksi penangkapan terhadap anggota Neo NII rekrutan H. Isma’il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun oleh OPSUS, seperti Abdullah Sungkar maupun Abu Bakar Ba’asyir dan kawan-kawan berjumlah cukup banyak, sekitar 50 orang, akan tetapi yang diproses hingga sampai ke pengadilan hanya sekitar 29 orang. Penangkapan terhadap anggota Neo NII wilayah Jawa Tengah rekrutan H. Isma’il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun berlangsung tahun 1978-1979.

    Di Sumatera, aksi penangkapan secara besar-besaran berdasarkan isu Komando Jihad ini terjadi sepanjang tahun 1976 hingga tahun 1980, dan berhasil menjaring dan memenjarakan ribuan orang.

    Sementara penangkapan terhadap para elite Neo NII –yang musyawarah pembentukan strukturnya dilakukan di markas BAKIN (jalan Senopati, Jakarta Selatan)– seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, Aceng Kurnia, Tahmid Rahmat Basuki Kartosoewirjo, Dodo Muhammad Darda Toha Mahfudzh, Opa Musthapa, Ules Suja’i, Saiful Iman, Djarul Alam, Seno alias Basyar, Helmi Aminuddin Danu[11], Hidayat, Gustam Effendi (alias Ony), Abdul Rasyid dan yang lain dengan jumlah sekitar 200 orang, mereka ditangkap Laksus sejak akhir 1980 hingga pertengahan 1981.

    Namun dari sekitar 200 orang anggota Neo NII yang ditangkap OPSUS tersebut, hanya sekitar 30 elitenya saja yang dilanjutkan ke persidangan, selebihnya dibebaskan bersyarat oleh OPSUS termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9 [12], kecuali satu nama tokoh yang dibebaskan tanpa syarat, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang bernama Helmi Aminuddin bin Danu, salah seorang alumni program pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah (Madinah, Saudi Arabia) oleh Bakin.

    Akan tetapi isu dan dalih keterkaitan dengan bahaya kebangkitan NII, Komando Jihad dan Teror Warman berdasarkan hasil pengembangan penyidikan pihak keamanan terhadap mereka yang pernah ditangkap maupun yang diproses ke pengadilan, oleh pihak OPSUS digunakan terus untuk melakukan penangkapan-penangkapan secara berkelanjutan dan konsisten.

    Sekitar medio 1980 OPSUS Jawa Timur melakukan penangkapan terhadap 5 tokoh pelanjut Komandemen Wilayah Jawa Timur, Idris Darmin Prawiranegara. Kemudian dilanjutkan dengan penangkapan berikutnya pada medio 1982, terhadap orang-orang baru yang direkrut Idris Darmin di wilayah jawa timur dengan jumlah sekitar 26 orang.

    Kesimpulan
    Secara substansi, makna kebangkitan Neo NII yang lahir dibidani dan buah karya operasi intelijen OPSUS tersebut, sangat tidak layak untuk dinilai dan atau diatasnamakan sebagai wujud perjuangan politik berbasis ideologi Islam (apalagi sampai dikategorikan sebagai jihad suci fii sabilillah).

    Misi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan para mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan dalam rangka memperoleh materi dan kedudukan politis, kemudian bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) dengan para tokoh intelijen BAKIN yang benci terhadap Islam. Dengan demikian gerakan Komando Jihad, Kebangkitan Neo NII maupun para mantan tokoh sayap militer DI tersebut sulit dinilai sebagai perjuangan yang murni untuk tegaknya Islam.

    Perjuangan dan usaha para pihak atau pribadi yang dilakukan karena semangat dan ketulusan untuk memperjuangkan Islam, yang tidak didorong dalam rangka memperoleh jabatan politis atau sarana materi sebagaimana halnya sikap dan tindakan para mantan tokoh sayap sipil DI tersebut, menunjukkan posisi mereka sebagai korban pengkhianatan para mantan tokoh sayap militer DI sendiri dalam berpolitik.

    Seluruh bentuk kerugian atau efek negatif yang menimpa masyarakat Neo NII adalah karena provokasi dan agitasi para mantan tokoh sayap militer DI, yang secara sadar dan sukarela menyetujui dan mendukung kebijakan intelijen OPSUS (orde baru). Oleh karenanya merekalah yang harus bertanggungjawab atas hancurnya gerakan dakwah Islam dan citra negatif citra negatif dakwah. Dalam hal ini, ada tiga pihak yang harus bertanggung jawab :

    Pihak ke I adalah aparat teritorial pemerintah Orde Baru, mulai dari tingkat Kodim, Korem hingga Kodam yang pada masa itu disebut sebagai aparat Laksusda (DanSatgas Intel atau Intel Balak = Intelijen Badan Pelaksana) yang bertugas melakukan penangkapan, penyiksaan hingga pemberkasan terhadap jaringan gerakan Islam (Neo NII, Komando Jihad, Teror Warman, Teror Imran* dan Usrah) yang menjadi target obyek operasi intelijen. Pihak berikutnya adalah para pemrakarsa, pembuat skenario dan sutradara dari operasi intelijen yang dirancang oleh sayap intelijen yang berkuasa penuh di bawah struktur Kopkamtib.

    Pihak ke I bisa juga disebut sebagai kekuatan bayangan dari struktur kekuasaan yang ada saat itu namun diformat memiliki kewenangan penuh untuk merancang program, mekanisme dan pengelolaan (mengendalikan) terhadap perjalanan sistem politik, ekonomi dan pemerintahan yang berlaku. Pihak ke I sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dan menerima order, baik dari penguasa domestik maupun asing, mengingat hukum Politik, kepentingan kekuasaan dan intelijen selalu mengglobal, sesuai peta dan kubu ideologi yang eksis di dunia atau berlaku universal.

    Oleh karena itu pihak ke I diberi kewenangan luar bisa, baik dalam menyusun grand ’scenario’ hingga tingkat pelaksanaan (juklak) yang dilakukan secara rahasia dan rapi, selanjutnya dikordinasikan penerapan aturan mainnya dengan lemhannas dan departemen-departemen maupun kementrian. Dengan demikian tugas, peran dan keberadaan pihak ke I menurut garis besar haluan negara merupakan hal yang legal dan wajar, sekalipun untuk kepentingan itu harus mengorbankan apa saja (abuse of power: terhadap demokrasi dan HAM) atau membuat sandiwara dan rekayasa apa saja. Itulah hukum yang berlaku dalam dunia politik, kepentingan kekuasaan dan intelejen.

    Selanjutnya, pihak ke I lainnya adalah mereka yang menjadi inisiator membangkitkan neo NII, dalam rangka memberikan stigma negative terhadap umat Islam, menciptakan beban psikologis kepada umat Islam Indonesia yang hingga kini diposisikan sebagai produsen gerakan radikal bahkan pelaku teror. Sebagai aparat negara seharusnya mereka menggali potensi rakyat dan memberdayakan potensi tersebut ke tempat semestinya, bukan justru dijadikan instrumen politik untuk menggapai kekuasaan dan atau mempertahankan kekuasaan.

    – Pihak ke II adalah pihak yang secara sengaja dan sadar menjalin hubungan dengan pihak ke I, yang dikenal dan dipahami sebagai pejabat intelejen militer sekaligus sebagai pejabat pemerintah dan Negara yang licik dan kejam.

    – Pihak ke III, adalah orang-orang yang bersedia direkrut dan memposisikan dirinya sebagai pihak yang secara sadar telah terdorong dan termotivasi untuk berjihad secara ikhlas di jalan Islam namun terperosok dan terlanjur masuk ke dalam struktur gerakan Neo NII. Posisi mereka adalah sebagai korban tak sadar dari abuse of Power, sistem dan kebijakan politik maupun intelejen Orde Baru.

    Keterangan Tambahan Mengenai Teror Imran:

    Munculnya kasus Jama’ah Imran pada pertengahan tahun 1980 berlangsung melalui proses yang berdiri sendiri. Dalam artian, tidak ada keterkaitan dan tidak ada hubungan –baik secara ideologi maupun sikap politik– dengan eksistensi gerakan Neo NII atau Komando Jihad dan Teror Warman.

    Memang sempat terjadi “interaksi” antara anggota Jama’ah Imran dengan beberapa elite KW-9 (Komandemen Wilayah 9) dalam struktur Neo NII atau Komando Jihad hasil ciptaan Ali Murtopo dan Pitut Suharto tersebut.

    Bentuk “interaksi” yang terjadi pada akhir 1980-an itu, bukanlah “interaksi” yang kooperatif tetapi justru saling kecam dan saling ancam. Hal ini terjadi, karena H.M. Subari (alm) yang merupakan elite (orang struktur) Neo NII KW-9 pernah mengatakan, “dalam satu wilayah tidak boleh ada 2 Jama’ah dan 2 Imam yang berlangsung secara bersamaan, kecuali salah satunya harus dibunuh.”

    FOOTNOTE
    [1] Padahal, amanat/wasiat sang imam (SMK) adalah tidak boleh menyerah.

    [2] Rahmat Gumilar Nataprawira, RUNISI (Rujukan Negara Islam Indonesia). Dipertegas juga oleh pernyataan lisan dari Abdullah Munir dan tertulis dari Abdul Fatah Wirananggapati (pemegang amanah KUKT dari SMK 1953).

    [3] Mantan Panglima Divisi atau Komandan Resimen DI-TII, pada saat sidang pengadilan Militer – MAHADPER, Agustus 1962 mengaku salah dan memberi kesaksian yang isinya menyalahkan sikap dan kebijakan politik SM Kartosoewiryo. Hubungan ini kemudian memberi OPSUS buah menguntungkan yang tidak disangka-sangka. “Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu,” kenang Sugiyanto, “dan di bulan Maret 1966, kami menggunakan dia dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta.” Selanjutnya sejak tahun 1971, Danu Muhammad Hasan dan Daud Beureueh sering terlihat di jalan Raden Saleh 24 Jakarta Pusat (salah satu kantor Ali Murtopo), terkadang di Jalan Senopati (Kantor BAKIN), ada kalanya di Tanah Abang III (Kantor CSIS).

    [4] Menurut Sugiyanto hubungan ini kemudian memberi OPSUS bunga menguntungkan yang tidak disangka-sangka. “Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu,” kenang Sugiyanto, “dan di bulan Maret 1966, kami menggunakan dia dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta.” (lebih jelasnya lihat Kenneth Conboy, Intel: Inside Indonesia’s Inteligence Services).

    [5] Seperti pengakuan Ules Suja’i: “Soal pak Adah yang santer diisukan menerima jatah minyak dari militer, memang dulu itu saya tahu pak Adah pernah menerima jatah minyak dan oli dari RPKAD (KOPASSUS sekarang, pen), karena setiap pasukan itu kan memiliki jatah dari Pertamina, nah oleh RPKAD jatah tersebut diberikan ke pak Adah. Itu mah lewat perjuangan. Saya sendiri dengan pak Adah memang pernah dipanggil oleh Ibrahim Aji mendapat surat supaya dibantu oleh Pertamina lalu masuk ke Pertamina pusat jawabannya kurang memuaskan, malah kalau saya sendiri sampai ke WAPERDAM sampai ketemu Khaerus Shaleh, ya Alhamdulillah berhasil.”

    [6] Djadja Sudjadi akhirnya tewas dibunuh Ki Empon atas perintah Adah Djaelani. Ironisnya, hingga akhir hayatnya Ki Empon meninggal dalam keadaan miskin dan serba susah sedangkan Adah Djaelani hidup terpandang dan lumayan sejahtera sebagai petinggi yang lebih dihormati dari AS Panji Gumilang di lingkungan mabes NII di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu.

    [7] H. Rasyidi, adalah bapak kandung Abdul Salam alias Abu Toto alias Syaikh A.S. Panji Gumilang, yang kini menjadi syaikhul Ma’had Al-Zaytun yang dikenal sebagai “mabes” NII yang kental dengan nuansa misteri intelejen. Abu Toto alias Abdul Salam Panji Gumilang sendiri sejak mahasiswa menjadi kader intelejen kesayangan Pitut Suharto.

    [8] Pitut Suharto pensiun dengan pangkat Kolonel, kini berdomisili di Surabaya.

    [9] Janji serupa ini juga berulang pada diri Nur Hidayat, provokator kasus Lampung (Talangsari) yang terjadi Februari 1989. Nur Hidayat dkk ketika itu yakin sekali bahwa rencana makarnya pasti berhasil karena akan mendapat bantuan senjata satu kapal yang akan mendarat di Bakauheni, Lampung.

    [10] Witarmin, menurut penuturan H Isma’il Pranoto di masa pergolakan DI-TII adalah sebagai komandan Batalyon 507 Sikatan yang sempat dilucuti oleh pasukan TII di bawah komando H. Ismail Pranoto.

    [11] Helmi Aminuddin adalah putera Danu Mohammad Hasan, alumni Universitas Madinah, yang dikirim Bakin ke Saudi Arabia dalam Program pemberangkatan para pemuda ke Timur Tengah, yang ketika kembali ke Indonesia aktive dalam pergerakan.

    [12] Pada tahun 1984, para para elite NII Komandemen Wilayah IX (yang ditangkap OPSUS pada pertengahan tahun 1980 hingga pertengahan tahun 1981, bersama dengan para pimpinan Neo NII, Adah Djaelani-Aceng Kurnia) dibebaskan bersyarat dari Rumah tahanan militer Cimanggis, tanpa melalui proses hukum (Pengadilan), mereka itu adalah: Fahrur Razi, Royanuddin, Abdur Rasyid, Muhammad Subari, Ahmad Soemargono, Amir, Ali Syahbana, Abdul Karim Hasan, Abidin, Nurdin Yahya dan Muhammad Rais Ahmad, dan Anshory; kecuali Helmi Aminuddin bin Danu M Hasan yang dibebaskan tanpa syarat.

    Mohamad Fatih.

    Referensi:

    * Dengel,Holk H., Darul Islam dan Kartosuwiryo (terj.), Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.
    * Jackson, Karl D., Kewibawaan Tradisional, Islam dan Pemberontakan: Kasus Darul Islam Jawa Barat, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989.
    * Kansil, C.S.T. dan Julianto S.A., Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia, Jakarta: Erlangga, 1982.
    * Kuntowidjojo, Dinamika Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia, Yogyakarta: Shalahuddin Press, 1985.
    * Van Dijk, C. Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (terj.), Jakarta: Pustaka Grafiti Utama, 1989.
    * Horikoshi, Hiroko, “The Darul Islam Movement in West Java : An Experience in Historical Process”, Indonesia, Nr.20, 1975.
    * Simatupang, T.B. dan Lapian, “Pemberontakan di Indonesia: Mengapa dan Untuk Apa”, Prisma, 1978.
    * Basri, Jusmar, Gerakan Operasi Militer VI: Untuk Menumpas DI-TII di Jawa Tengah, Jakarta: Mega Bookstore dan Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata SAB., n.d.
    * Dinas Sejarah Militer TNI-AD, Penumpasan Pemberontakan DI-TII/SMK di Jawa Barat, Bandung: Dinas Sejarah TNI-AD.
    * Komando Daerah Militer VII Diponegoro, Staf Umum I, Bahan Perang Urat Syaraf Terhadap Gerombolan D.I. Kartosuwirjo.
    * Wawancara dengan beberapa tokoh terkait peristiwa Komando Jihad.

    * Share/Bookmark

    Dikirim ke dalam Umum | 1 Komentar »
    KEMANA ARAH AL ZAYTUN DAN PROGRAM PENDIDIKANNYA ?
    29 Juli 2010

    Dalam program NII KW9, pendidikan bagi jamaah dibagi menjadi dua, yaitu formal dan non formal. Pendidikan formal adalah yang berbasis di Ma’had Al Zaytun sedangkan pendidikan non formal di teritorial dilakukan dalam bentuk silaturahmi, tazkiyah, itishol, ta’lim dan irsyad dari malja (kantor) ke malja di seluruh kontrakan se-Jawa. Dari pendidikan tersebut diharapkan lahir generasi siap pakai untuk mengambil alih tugas kenegaraan dari pejabat di NKRI. Hal yang kemudian terbukti sebagai hal yang jauh dari harapan.

    Sebagai presiden merangkap menteri pendidikan NII, Syaikh A.S. Panji Gumilang menggulirkan program one pipe education yang berarti tingkatan S1, S2 dan S3 ditempuh ditempat yang sama bagi mahasiswa di Al Zaytun. Parogram lainnya adalah dengan menggalang para mas’ul untuk bersekolah kembali dan mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Terbuka (UT) Pondok Cabe yang dikerjasamakannya dengan mendapatkan komisi 30% dari SPP setiap mahasiswa. Untuk program UT, tidak kurang dari 6.000 mas’ul dari seluruh Jawa ikut serta untuk kembali menjadi mahasiswa. Kelak, mereka diharapkan menjadi ahli dalam bidang politik dan kenegaraan.

    Namun, apa lacur. Sejak berdirinya hingga kini, program Al Zaytun mengalami penurunan drastis. Program one pipe education-nya tumbang lantaran tidak ada peminat. Mahad Aly atau universitas Al Zaytun ditutup DIKTI karena bermasalah dalam kualitas maupun kuantitas siswa. Masih di Al Zaytun, siswa yang akan masuk ke jenjang madrasah dan Tsanawiyah pun jauh dari harapan. Yang mendaftar dan diterima hanya berkisar pada angka 120-200 orang saja, itupun berasal dari anak-anak anggota NII. Hasil pendidikannya yang telah lulus tidak mampu bersaing di dunia luar. NCC memberikan catatan kepada lulusan Al Zaytun yang kerap memberikan masukan tentang kiprah para alumninya. Keluh mereka, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan janji Panji Gumilang. Jangankan bisa berbicara 9 bahasa sesuai janjinya, juz amma yang seharusnya menjadi syarat masuk Al Zaytun saja sudah lupa ketika lulus. Alasannya, terlalu banyak main dan pengajaran para asatidz yang tidak fokus. Belum lagi permasalahan yang berkutat pada masalah keuangan yang justru menjadi bisnis sampingan para asatidz dan dewan guru.

    Lain lagi pendidikan di teritorial. Para mas’ul yang menjadi mahasiswa UT harus menelan pil pahit. Pasalnya uang SPP mereka yang telah disetorkan ke Al Zaytun untuk pembayaran uang semester tidak disetorkan ke UT hingga setiap mahasiswa dianggap menunggak uang kuliah dan tidak bisa ikut ujian. Uang SPP sebesar Empat milyar bukan angka yang sedikit. Akibatnya, semua masul yang menjadi mahasiswa harus meninggalkan kuliahnya dan menggugurkan angan-angan mereka untuk menjadi pengganti pejabat RI bila futuh kelak akibat ulah pemimpinnya sendiri.

    Bila pilar utama yang menjadi dagangan NII KW9 dan Al Zaytun-nya selama ini telah terkapar lunglai tak berdaya, lalu apa yang menjadi alasannya untuk terus berkarya. Apakah beralih pada pembangunan gedung serta pembangunan sektor ekonomi tanpa pendidikan yang berorientasi pada keuntungan?. Mungkin saja. Karena toh bangunan itu pula yang menjadi simbol kebesaran Panji Gumilang hingga menghadiahkan dirinya sendiri nama ke-100 dari asmaul husna, Al Muqti. Program perkebunan, jati emas, perikanan dan peternakan sapi yang dikembangkannya terbungkus dengan titel Al Muqti dan premis ”ma’sum”-nya seorang imam, mampu membutakan semua jamaah NII akan kegagalan yang telah terlihat jelas didepan mata. Atau alternatif lain, mungkin hanya menjadi underbow partai besar yang membayar. Toh NKRI masih toleran kepada Al Zaytun karena didukung oleh tokoh-tokoh besar yang pada dasarnya membutuhkan banyak hal dari Al Zaytun, dari uang, suara hingga money laundering. Selain itu, NKRI juga masih butuh kambing hitam suatu saat untuk segala pembiaran yang telah dibuatnya jika kelak masyarakat muslim meminta pertangungjawaban pemerintah akan korban-korban NII KW9.

    Terakhir, satu hal yang menjadi ikatan utama semua program NII adalah repelita yang telah berakhir sejak bulan Shafar tahun 1430 atau tahun 2009 lalu. Seharusnya tahun 2009 merupakan tahap akhir perjuangan jamaah NII yang menghadiahkannya dengan futuh. Tapi toh, kalkulasi politik Panji Gumilang meleset. Yang harus dipahami jamaah NII adalah bahwa setelah shafar1430 tidak ada lagi program repelita yang mencanangkan futuh. Bahkan tidak ada keputusan apapun yang digagas dalam syuro untuk menyusun titik akhir perjuangan. Yang berarti, program pencarian dana tidak akan pernah ada akhirnya. Dan jamaah yang ada akan terus menjadi sapi perah hingga mengenyangkan perut-perut tuannya. Bila hanya menghasilkan generasi taat buta dan lemah, pendidikan apa yang telah dibuat Panji Gumilang beserta anteknya?. Pantas bila Allah menghancurkannya secara perlahan untuk menjadi ibroh bagi para jamaahnya yang terbutakan dari Islam.
    Dicky Cokro.. NCC

    * Share/Bookmark

    Dikirim ke dalam Umum | 3 Komentar »
    JEJAK AKTIFIS NII JAKARTA DI JAWA TENGAH
    28 Juli 2010

    Indikator kesulitan pemasukan dana serta perekrutan jamaah di kalangan NII KW9 untuk wilayah Jakarta Raya sudah mulai terlihat sejak dua tahun terakhir. Hingga bulan Juli 2010, NCC mencatat penurunan drastis perekrutan jamaah dan pemasukan dana NII Jakarta. Per bulan Juli 2010 saja, pembaitan hanya berkisar 5-6 orang per hari, jauh dari quota hijrah, 20 orang perhari untuk pria dan 20 orang per dua hari untuk wanita. Begitu juga untuk pendanaan yang biasanya mampu menghasilkan 10,5 Milyar, kini hanya mencapai kisaran 4-5 Milyar saja, itupun tidak sepenuhnya dari jamaah. Penurunan tersebut menjadikan perekrutan jamaah dan pencarian dana ini paling banyak ditopang dari dua distrik NII di Jakarta, yaitu Distrik Pulogadung dan Distrik Cilandak. Dua distrik tersebut memiliki latar belakang jamaah yang berbeda, Pulogadung terdiri dari jaringan buruh sedangkan Cilandak jaringan mahasiswa. Modus pencarian dana yang digunakan pun berbeda, Pulogadung menggunakan pola relawan yang meminta sumbangan dari masyarakat RI di setiap ATM, SPBU, Mal bahkan dari rumah ke rumah dengan membawa proposal serta amplop dengan cover yayasan yatim piatu. Dilain tempat, Cilandak masih mengunakan pola penipuan kepada orang tua serta pengembangan sentra ekonomi dari restoran, koperasi, Event Organizer (Daun Production) serta NAC Motivational Training yang dimotori oleh Arief Adinoto.

    Kondisi sulit ini menjadi perhatian pimpinan NII wilayah Jakarta. Apalagi dengan kenyataan bahwa beberapa daerah sudah hampir hancur, baik dalam struktural maupun kekuatan jamaahnya. Beberapa daerah yang sudah dalam tahap krisis adalah NII Daerah Jakarta Barat, Jakart Pusat, Jakarta Utara, Bekasi serta Tangerang. Sementara Banten Utara maupun Selatan hanya berjalan di tempat walau tidak mengalami penurunan drastis. Dari keprihatinan ini, pada syuro awal tahun 1413 H, para pimpinan NII wilayah Jakarta menyerukan untuk mencontoh gerakan NII di Jawa Tengah yang mampu menghasilkan dana besar dengan kemampuan jamaah yang relatif lebih kecil dari Jakarta. Hal itu pun diamini oleh semua daerah di wilayah Jakarta dengan mengadopsi sistem pencarian dana di Jawa Tengah dengan membentuk yayasan-yayasan yatim piatu dan mengerahkan jamaah untuk menjadi relawan. Selain itu, setiap distrik juga membentuk tim khusus yang bergerak untuk mencari dana dan mulai melakukan pembelian tanah-tanah untuk pembangunan rumah-rumah serta pertanian. Program ini dilakukan di Jakarta Timur dengan nama ”Seribu Kampung Harapan”. Sementara Jakarta Selatan membentuk Event Organizer selain Daun Production untuk meraih dana lewat pelaksanaan acara-acara di instansi pemerintah maupun swasta. Beberapa waktu lalu, pada hari AIDS sedunia, mereka melaksanakannya dengan melobi pihak Indosat dan Pemda Jakarta. Selian itu juga membentuk lembaga-lembaga pendidikan non formil yang bersifat profit oriented sekaligus menjadi wadah perekrutan.

    Untuk masalah perekrutan, wilayah Jakarta menginstruksikan untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai daerah penopang. NII Jawa Tengah sendiri sejauh ini telah mapan dalam perekrutan. Besarnya angka pendanaan ternyata juga ditopang dari selektifnya perekrutan. Dari beberapa sumber NCC yang masih berstatus jamaah NII aktif di Jawa Tengah, fokus perekrutan adalah pada eksekutif muda, pengusaha dan mahasiswa dengan latar belakang ekonomi baik. Jaringan inilah yang semakin membesar dan memberikan banyak masukan dana bagi NII di Jawa Tengah.

    Untuk NII Jakarta seperti distrik Cilandak dan Pulogadung, perluasan jaringan thaifah (istilah untuk kelompok yang bergerak diluar teritorial asli mereka) di beberapa wilayah di Jawa Tengah bukan hal baru. Untuk Cilandak misalnya, mereka telah memiliki thaifah di beberapa kota di Jawa Tengah. Diikuti selanjutnya dengan distrik Pulogadung. Namun, gerakan Cilandak lebih masif dan cepat penyebarannya. Dari Cilandak, adalah Onder Distrik (ODO-setingkat kecamatan dalam struktur NII) dari Cilandak Barat, khususnya desa 05 (932205) dan 08 (932208) yang telah memiliki jaringan jamaah yang aktif merekrut di Jawa Tengah. Sumber NCC mengatakan bahwa jumlah jamaah aktif di Jawa Tengah yang dikontrol dari Jakarta, terutama dua desa dari Cilandak Barat, telah mencapai ratusan personil. Mereka tersebar di beberapa kota, yaitu Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Malang, Surabaya dan Lampung. Di setiap kota yang telah memiliki jaringan, jamaahnya terdiri dari mahasiswa dari kampus setempat. Kampus-kampus yang telah memiliki jamaah NII di Jawa Tengah dan akan terus menjadi target perekrutan adalah UNS 11 Maret, UMS, UGM, AMIKOM, UNES, UNDIP, UMP, UNBRAW, sedangkan di Lampung mereka telah merekrut beberapa mahasiswa UNILA. Namun, melihat luasnya cakupan ruang gerak mereka, maka sangat memungkinkan universitas lain di wilayah Jawa Tengah juga sudah disusupi.

    Divisi investigasi NCC sejak dua tahun lalu telah menerima beberapa laporan tentang anak hilang dan kasus penipuan NII dengan berbagai modus di wilayah Jawa Tengah. Beberapa diantaranya telah melapor ke polisi, terutama untuk anak hilang di Solo. Sedangkan di Yogyakarta tahun 2010 ada kasus penangkapan 3 orang personil NII karena kasus penipuan. Belum lagi laporan biasa yang setiap hari mengalir ke NCC tentang gencarnya perekrutan NII di kalangan mahasiswa di Jawa Tengah.

    Hal ini sebenarnya bukan semata-mata masalah NCC. Ini seharusnya sudah menjadi masalah negara dan masalah agama yang seyogyanya dilakukan oleh pihak kepolisian dan ulama. Namun, sepertinya itu menjadi suatu hal yang mustahil saat ini untuk mengharapkan tindakan mereka. Maka jatuh kewajiban bagi setiap muslim untuk menjadikan masalah ini sebagai fardhu ain dan menjadi amal jariyah bagi setiap diri, Insya Allah, demi menghentikan gerak langkah gerakan perusak aqidah ini dimanapun mereka berada. Caranya dengan hal yang termudah, akses informasi, sampaikan ke orang terdekat lalu sosialisasikan secara meluas. Bila mampu, ambil tindakan, dengan melapor ke polisi dan MUI. Walaupun mereka belum bergerak, paling tidak banyak laporan masyarakat tentang kasus NII, sehingga tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk diam. Kalaupun tetap diam, kita doakan agar Allah menyadarkan. Bagi pihak kampus, lakukan imunisasi bagi mahasiswa baru, karena mereka akan menjadi target utama perekrutan sejak mereka mulai aktif di kampus. Bagi keluarga korban yang anaknya terindikasi ikut NII, laporkan kasusnya ke pihak kampus agar rektorat menjadi waspada. Bagi seluruh mahasiswa muslim di Jawa Tengah, WASPADA!! Musuh sedang mengintai titik lemah kalian, jangan lengah!!. Rapatkan barisan, bulatkan tekad, satukan kata, LAWAN!! Allahu Akbar!.

    Dicky Cokro NCC

    * Share/Bookmark

    Dikirim ke dalam Umum | Tak Ada Komentar »
    SUMMARY TABLIGH AKBAR ”MENGUAK TABIR MISTERI PERGERAKAN NII” 26 JULI 2010
    27 Juli 2010

    Memenuhi undangan dari SKI FKIP UNS SOLO pada 26 Juli 2010, tim NCC mengirimkan delegasi untuk menjadi salah satu pembicara dalam tabligh akbar yang bertajuk ”Menguak Tabir Misteri Pergerakan NII”. Dalam acara tersebut seharusnya dihadiri tiga pembicara, namun karena alasan teknis, perwakilan dari MUI tidak dapat hadir. Sehingga acara berlangsung dengan dua pembicara, yaitu Al Ustadz Dr. H. M. Muinudinillah Basri, M.A. yang mewakili tokoh Islam di Solo dan Sukanto S.IP dari tim NCC.

    Tabligh akbar yang berlangsung di masjid Nurul Huda itu dihadiri lebih dari 400 peserta yang berasal dari mahasiswa UNS. Beberapa diantaranya yang hadir diduga sebagai anggota NII KW9, tapi tak berselang lama mereka keluar dari masjid setelah para narasumber berbicara dengan lugas tentang seluk beluk NII KW9.

    Dimulai dari pukul 8.30 hingga 11.00, tabligh akbar berlangsung serius dan ”keras”. Ustadz Muinudinillah dengan sederet hujjah yang syar’i, baik dari Al Qur’an dan Sunnah, mengulas semua kejanggalan maupun kesesatan gerakan NII KW9 yang sebelumnya dipaparkan Sukanto. Dengan tegas beliau menyatakan bahwa ajaran NII KW9 dengan mengutak-atik Al Qur’an serta merubah ketentuan pasti yang diturunkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Muhammad Rasulullah merupakan sikap kufur yang akan membawa mereka ke neraka Jahannam. Beliau pun menggarisbawahi tentang shalat yang dibagi menjadi dua dalam terminologi NII KW9, yaitu shalat ritual (shalat lima waktu) serta shalat universal (aktifitas melaksanakan program NII) merupakan kekufuran. Menurutnya, shalat adalah ketentuan yang telah jelas dan merupakan kewajiban yang tidak bisa digugurkan dengan ketentuan dari manusia. Walaupun kemudian ajaran NII KW9 mendasarkan sikap mereka pada periodisasi Makiyah dan Madaniyah, menurut ustadz Mu’in, hal itu tidak memiliki dasar yang jelas. Beliau menambahkan bahwa istilah periode Makiyah dan Madaniyah adalah hanya istilah dalam perjuangan namun bukan berarti menggugurkan kewajiban shalat dan ibadah mahdah lain yang telah Allah tentukan dan dicontohkan oleh Rasulullah.

    Pada sesi tanya jawab terungkap beberapa fakta bahwa regenerasi aktivis NII KW9 sudah masuk ke berbagai kampus di Jawa Tengah secara umum dan Solo khususnya. Gerakan mereka telah meresahkan masyarakat kampus. Pasalnya, bukan saja merugikan pribadi-pribadi yang secara langsung menjadi aktifis NII, namun dampaknya juga besar terhadap orang tua mereka masing-masing serta civitas akademika tempat mereka menuntut ilmu. Beberapa mahasiswa yang terindikasi terjangkit virus NII dalam waktu singkat berubah drastis dalam sikap. Hal ini berdampak pada nilai akademisnya yang cenderung menurun. Bahkan ada aktifisnya yang harus mengambil cuti bahkan drop out demi beraktifitas penuh di NII. Modus-modus operandi NII di Solo tidak berbeda dengan Jakarta. Pola penipuan dengan alasan menghilangkan laptop teman serta menabrak mobil orang hingga harus meminta ganti dari orang tua mereka dengan jumlah kisaran puluhan juta rupiah membuat banyak orang tua terpaksa tapi tidak curiga memberikan dana sejumlah yang anaknya inginkan.

    Menutup sesi tanya jawab, Sukanto menegaskan akan pentingnya langkah antisipasi lewat sosialisasi meluas terhadap gerakan NII KW9. Pasalnya, tim NCC mendapati bahwa jaringan yang bergerak di Solo, terutama dikalangan mahasiswa, merupakan perpanjangan tangan dari NII Jakarta yang kini kesulitan dalam perekrutan. Sukanto juga menambahkan agar mahasiswa Solo serta pihak kampus melakukan gerakan secara proaktif terhadap gerakan NII. Jangan menunggu sikap dari MUI maupun kepolisian, karena itu akan menjadi harapan yang jauh panggang dari api. Hal senada juga disampaikan ustadz Mu’in. Beliau bahkan mempertanyakan lambannya sikap MUI dan kepolisian dalam mengambil langkah strategis untuk menghentikan gerakan NII yang telah memakan banyak korban. Sebagai closing statement, ustadz Mu’in memastikan bahwa gerakan NII merupakan gerakan yang musyrik dan penuh kekufuran. Maka untuk para korbannya harus diambil langkah penyadaran. Sedangkan bagi para pelakunya harus diambil tindakan tegas. Beliau juga menghimbau akan pentingnya imunisasi bagi para mahasiswa baru yang akan menjadi target perekrutan NII.

    Bagi kampus yang ingin mengadakan seminar bahaya NII alzaytun bisa menghubungi nomer layanan NCC

    Setiap acara seminar juga disiarkan LIve oleh http://radiokwk.com/

    By Dicky Cokro. NCC

    * Share/Bookmark

    Dikirim ke dalam Umum | Tak Ada Komentar »
    DISKUSI PUBLIK NII MASUK KAMPUS BERSAMA EX NII KW9 ALZAYTUN
    19 Juli 2010

    Bersama Mantan Aparat NII KW 9 Alzaytun dan Solidsaritas Keluarga Besar Korban NII ALZAYTUN (SIKAT)

    Start/ Kumpul Di Aula LPPI, Jl. Tambak No. 20 B
    Jakarta Pusat ( Samping RS Tambak )

    Pendaftaran Gratis :

    1. Via http://www.nii-crisis-center.com di 08985151228
    2. Sdr. Ridho/Zia Ulhaq LPPI ( Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam )
    3. Aliansi Mahasiswa untuk korban NII KW 9 ( Sukanto )
    Menghadirkan :
    1. Laksamana muda (Purn) TNI Wibisono (ex. Dansatgas Int. TNI )
    2. Dr. Eggi Sudjana, SH. MSI (Kuasa Gukum )
    3. KH. Kholil Ridwan, LC ( MUI Pusat )
    4. Prof. Dr. Syafii Mufid , APU ( BaLitbang DEpag )
    5. Suripto ( Pengamat Intelejen/ Anggota DPR F – PKS )
    6. Irjen. Pol Purn Saleh Saaf (Mantan Kabaintelkam/ Kepala Badan Inteljen Keamanan ) Mabes POLRI

    ACARA INI AKAN DISIARKAN LIVE OLEH RADIO STREAMING INTERNET KWK FM http://radiokwk.com/

    * Share/Bookmark

    Dikirim ke dalam Umum | 1 Komentar »
    PENGALAMAN DIREKRUT OLEH JARINGAN NII KW9 PESANTREN ALZAYTUN INDRAMAYU
    2 Juni 2010

    Pengalaman ini dialami oleh saudara & teman saya yang pernah masuk jaringan NII kw 9 karna dijerat oleh mereka yg telah masuk, pada tahap awal mereka yang merekrut memberikan berbagai kajian dan wawasan keagaman yang sangat menarik tanpa pernah memperlihatkan sisi kejanggalan. mereka berusaha terus menerus memupuk dan menanamkan rasa simpati sehingga akhirnya saudara saya yang sudah tergolong cukup dewasa pun masuk jaringan tersebut dengan sepenuh hati dan menaruh banyak harapan bahwa yang diikutinya akan membawa banyak perubahan yang positif baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kemaslahatan umat pada umumnya.
    Tapi harapan itu segera musnah ketika banyak sekali kejanggalan yg dirasakannya, mulai dari banyak kekangan terhadap aktivitasnya, kewajiban untuk menyerahkan sebagian besar penghasilannya dan yang paling berat dirasakannya yaitu Menganggap orang diluar kelompoknya adalah bukan pengikut islam/kafir. serta membolehkan untuk mengambil apa yang dimiliki orang diluar kelompoknya baik diketahui maupun tidak yang bisa diartikan jg membolehkan mencuri.
    sangat berat bagi saudara saya itu jika harus menganggap bahwa orang diluar kelompoknya telah diikutinya itu bukan orang islam yang sesungguhnya/kafir, saat itu semua keluarga terutama orang tuanya yang telah melahirkan merawat menafkahi sekaligus banyak mendidik tentang agama islam harus di vonis kafir. saat itu saudara saya tsb merasa benar-benar sangat galau antara harus mengikuti perintah orang2 yang merekrutnya sementara hati nuraninya berkata lain. tidak mungkin harus menganggap bahwa orang Islam sedunia diluar kelompoknya adalah orang kafir terutama orang tua yang telah mengenalkan dan mengajarkan tentang agama Islam.
    Tetapi kegundahan hatinya trsbt tidak cukup untuk segera menyadari tetang kesesatan kelompok yang telah diikutinya itu, karna disisi lain orang2 yg jadi pimpinan di kelompoknya itu tidak membiarkan saudara saya untuk banyak berinteraksi baik dengan teman2 maupun keluarganya. setiap saat selalu dipantau baik melalui handphone maupun didatangi langsung. setiap saat hari-harinya benar-benar selalu dalam kendali pimpinannya yang selalu mendoktrinasi.
    Nuraninya yang selalu merasa banyak kejanggalan merasa tidak berdaya karna pengaruh pimpinan di jaringannya itu jauh lebih intens mempengaruhinya dengan segala cara baik itu melakui ayat2 Qur’an maupun dengan segala retorikanya tentang perjuangannya yang akan segera Futuh. singkat cerita suatu waktu saudara saya yg telah masuk jaringan jaringan NII kw9 Al Zaytun itu hendak berusa merekrut saudara temannya. kebetulan tamannya yang akan direkrutnya itu seorang ustadz yang sudah tau betul mengenai NII kw9 Zaytun, akhir bukan saudara saya yang menceramahi tetapi malah diceramahi sama teman yang akan direkrutnya itu. sisi positif dari pertemuan keduanya itu adalah kembalinya menguat hati nurani saudara saya itu yang sebenarnya merasakan sekali banyak kejanggalan tentang ajaran yang telah diikutinya, tetapi karna selalu dibawah kendali pimpinan serta orang-orang yang menjeratnya akhirnya tidak berdaya.
    Disisi lain saudara saya jg sudah merasa berat dengan adanya kewajiban harus menyerah berbagai macam infak yg wajib untuk dipenuhinya hingga harus menyerahkan sebagian besar penghasilannya untuk diserahkan kepimpinannya. hingga akhirnya dengan nasehat temannya saudara saya itu memberanikan diri untuk keluar dan segera menjauh orang-orang dikelompoknya, sebagai resikonya saudara saya mengalami banyak sekali ancaman.
    Yang paling berkesan baginya yaitu ketika didatangi ke tempat kerjanya lalu diajak kebelakang dan diancam mau dibunuh karna mereka beralasan orang yang keluar dari kelompoknya darahnya sudah halal untuk di tumpahkan, tentu saja saudara saya trsbt syok hingga akhirnya jatuh sakit meskipun akhirnya benar-benar bisa terlepas sepenuhnya berkat dukungan dan nasehat temannya yang pernah mau ditilawah atau direkrutnya.
    Satu hal yang membuatnya merasa sangat bodoh, yaitu ketika merasa mendapat banyak ancaman tetapi tidak berani menceritakan hal tersebut kebanyak orang baik itu keluarga maupun lingkungan terdekat lainnya apalagi berani melaporkan masalahnya ke polisi.
    Itu semua karna selama didalam selalu di doktrin bahwa diluar kelompoknya adalah kafir hingga akhirnya secara psikologis dirinya merasa jauh dari keluarga teman2nya termasuk juga masyarakat. yang jelas sekarang saudara saya itu merasa sangat trauma dengan pengalamannya yang pernah terjerat NII KW 9 Al Zaytun. setelah saya banyak membaca di situs ncc ternyata banyak jg cerita lainnya dari yg pernah masuk. yang saya tulis ini hanya sepenggal dari pengalaman saudara saya, karna keterbatasan waktu saya tidak dapat menceritakan semuanya termasuk pengalaman teman saya sendiri yg pernah terjerat juga.

    INFO lENGKAP KLIK : http://www.facebook.com/pages/wwwnii-crisis-centercom/223278758297

    * Share/Bookmark

    Dikirim ke dalam Umum | 2 Komentar »
    SELURUH PELAKU TERORIS ADALAH SEMPALAN DARI JAMAAH DI TII / NII DAN NII KW9 PESANTREN ALZAYTUN INDRAMAYU
    13 Mei 2010

    Di Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (DI/NII) telah mewariskan keturunan baik ideologis ataupun biologis terhadap pelaku-pelaku teror saat ini. Secara resmi, organisasi DI/NII sudah lama tamat. Namun para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari lingkaran organisasi ini, misalnya Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir alias Gempur adalah putra dari M. Zainuri, tokoh Komando Jihad asal Jawa Timur yang ditangkap pada zaman Ali Moertopo. Abu Durjana alias Aenul Bahri adalah murid tokoh DI, Ustadz Dadang Hafidz. Hambali (DPO Teroris Yang di tangkap A.S ), Heri Gulun ( Pelaku Bom Kuningan ), Asmar latin Sani ( pelaku Bom Marriot ) juga berasal dari gemblengan NII. Pun Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir yang berasal dari lingkaran DI/NII. Lingkaran yang dimaksud adalah organisasi: keluarga besar DI/NII, dan ideologi: mendirikan sebuah negara Islam atau menegakkan syariat Islam di Indonesia.

    ketokohan Noordin sebagai gembong teror sebenarnya tidak terlepas dari geliat gerakan Negara Islam Indonesia (NII), yang juga populer dengan sebutan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini diproklamirkan oleh Sang Imam: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK).

    Seiring dengan penangkapan SMK pada tahun 1962 melalui sebuah operasi “Pagar Betis” yang cukup legendaris di kalangan aktivis NII, gerakan NII mulai terpecah menjadi beberapa faksi–meski ada yang bilang sebenarnya faksi itu hanya merepresentasikan basis wilayah gerakan saja.

    Nah, di era tahun 1970-an dan 1980-an, muncul beberapa nama tokoh NII lanjutan, seperti Adah Djaelani (Mamak), Abu Darda, Rahmat Tahmid Basuki (keduanya putra SMK), dan Ajengan Masduki yang berbasis di Priangan. Sementara di Jawa Tengah, muncul nama Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Menurut kalangan dalam NII, Abdullah Sungkar ketika itu adalah Amir NII Wilayah III Jateng, sedangkan Abu Bakar Baasyir adalah figur kepercayaan Abdullah Sungkar. Menurut kalangan dalam, baik Sungkar maupun Baasyir berbaiat kepada H. Ismail Pranoto (Hispran) pada tahun 1976–meskipun kemudian hal itu dibantah dalam pleidoi mereka.

    Sungkar dan Baasyir pun kemudian bahu membahu dengan para tokoh DI lain, seperti Danu Muhammad Hassan, Aceng Kurnia, Adah Jaelani, dan Gaos Taufik. Sebagai catatan, Danu Muhammad Hassan adalah ayah dari Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin. Ketika para tokoh DI ini dituduh melakukan beberapa aksi teror, seperti pemboman Gereja Methodis di Medan, pemerintahan Soeharto mulai mengambil tindakan represif. Lebih dari 700 anggota dan tokoh DI di Sumatera Utara, Palembang, Lampung, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur ditangkap. Mereka yang ditangkap di antaranya Haji Ismail Pranoto (Hispran), Gaos Taufik, Danu Muhammad Hassan, Muhammad Darda, Timsar Zubil dll. Mereka dituding terlibat gerakan Komando Jihad yang bercita-cita mendirikan NII.

    Basis gerakan DI pindah ke Jawa Tengah terutama Solo dan Yogyakarta. Aparat keamanan belum mengendus keterlibatan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir dalam gerakan Darul Islam. Abdullah Sungkar masih aktif berceramah, sementara Abu Bakar Ba’asyir lebih aktif mengurus pesantren. Ceramah-ceramah Sungkar dikenal keras. Salah satu tema paling ia sukai soal aqidah. Konsep aqidah Abdullah Sungkar sangat dipengaruhi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi.

    http://www.nii-crisis-center.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s