cropped-135138_3728352767799_528929299_o.jpg Sampingan

Sobat muda muslim, gimana Idul Fitri kemarin rame nggak? Hehehe kok nanya rame, emang bakar petasan. Iya maksudnya meriah nggak? Kumpul bareng keluarga dan keraban, serta teman-teman. Buat yang pulang kampung pasti seru di perjalanannya ya. Macet! Hihihi…nikmati dah macetnya, karena yang penting kamu bisa silaturahim dengan keluarga. Sip deh! Kami di gaulislam juga—meski telat ya—ngucapin selamat Idul Fitri. Maaf juga atas segala salah selama ini. Sukses dan barokah buat kuta semua ya.

Bro en Sis, gaulislam edisi pekan ini bahas tentang “putus asa”. Tema yang umum sebenarnya, tetapi saya coba kemas dengan lebih menarik. Oya, pernah nggak ngerasa penat, bosen, terus stress dalam menghadapi hidup? Pasti pernah kan? Bagi yang nggak pernah berarti hidupnya senang selalu, tertawa terus. Eh lama-lama jadi penghuni rumah sakit jiwa, (ujung-ujungnya stres juga). Hwahaha…

Benarkah semua yang kita usahakan selalu gagal, atau apa yang kita inginkan tidak terwujud. Apa iya seseram itu kehidupan kamu? Bukankah Allah telah memberi rizki bagi tiap-tiap mahklukNya? Atau kita yang kurang muhasabah (instropeksi diri)? Bisa jadi kegagalan demi kegagalan yang kita alami adalah suatu cobaan dari Allah Swt atau bahkan mungkin juga buah dari dosa-dosa kita di masa lalu? Hmm… wallahu’alam. Tetapi yang jelas dan pasti, kita harus instropeksi diri tiap saat, Bro.

Beberapa waktu lalu pas pengumuman kelulusan UN, ada banyak yang gembira, tapi nggak sedikit yang putus asa karena gagal lulus ujian. Gara-gara nggak lulus UN, ada yang nekat terjun ke sungai, naik ke atas menara listrik, sampai gantung diri di pohon tauge hehee, bercanda. Semoga kamu bukan salah satu di antara mereka ya!

Beberapa sekolah melalukan pembekalan bagi siswa-siswi nya untuk menghadapi Ujian Nasional dengan mengundang trainer atau motivator. Namun ini hanya awal sebagai penyemangat. Harusnya mereka juga disiapkan untuk menerima dua kemungkinan lulus atau tidak lulus. Sebab, kedua hal itu adalah ibarat dua sisi mata uang berbeda yang tidak mungkin terpisahkan, tul nggak?

Jangan putus asa, Bro! Dunia belum berakhir hanya karena nggak lulus Ujian Nasional, dunia belum berakhir kalo kehidupan ekonomi keluargamu belum juga menunjukkan grafik yang naik. Banyak hal positif dari kondisi yang kamu alami saat ini. Nggak lulus ujian itu biasa. Rejeki manusia bukan ditentukan sama sukses di bidang akademik atau gagal total, tetapi dari rahmat yang Allah Swt berikan. Kebahagiaan yang didapatkan kamu semua jauh lebih banyak ketimbang kondisi ekonomi keluargamu yang morat-marit. Itu semua adalah ujian. Apakah kita bisa bertahan dengan kesabaran, atau malah menjadi kufur karena putus asa. Kitalah yang harus bisa membuktikannya, dan berusaha untuk menjadi hamba yang pandai bersabar dan bersyukur. Ayo, kamu pasti bisa! Insya Allah.

Baca lebih lanjut

Putus Asa

from >> http://hajirikhusyuk.wordpress.com


Dari Anta:

Solo the spirit of Islam

Pengertian makrifat

Perkara yang wajib dima’rifati (dikenal secara utuh) dari tentang Alloh:

1 . Eksistensi Dzat-Nya.
2. Eksistensi Sifat-Sifat-Nya.
3. Eksistensi Asma-Nya.
4. Eksistensi Af’al-Nya.
5. Eksistensi Rububiyah-Nya.
6. Eksistensi Mulkiyah-Nya, dan
7. Eksistensi Uluhiyah-Nya.

1.         Eksistensi Dzat Alloh.

Dzat Alloh itu hanya ada satu, tidak dua, tidak tiga, dst. Langit dan bumi beserta seluruh isinya; manusia, hewan, binatang, tumbuhan, matahari, bulan, bintang, planet, orang Islam, kristen, hindu, budha,koh hu cu dan lain-lain; tuhannya hanya satu, yakni Alloh Qs 112:1-4

Mungkinkah… planet bumi yang hanya ada satu ini tuhannya lebih dari satu….?

Tidak ada sesuatupun yang memiliki titik sama seruapa, atau semisal dengan bentuk dan dimensi Dzat Alloh sehingga keberadaan; bentuk, dan dimensi Dzat Alloh tidak akan pernah terbayang oleh akal dan tidak akan pernah tersirat dalam hati.. Akan tetapi keberadaan Dzat Alloh akan bisa ditemukan hanya oleh Hamba-Nya yang memiliki Qolbun Salim (Hati atau Jiwa Yang Bersih), yakni bersih dari kemusyrikan.

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan (Bentuk Dzat) Dia. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat Qs 42:11.
Dan tidak ada sesuatupun yang semisal dengan (dimensi Dzat) Dia Qs 112:4.

2.    Eksistensi Sifat Alloh

Keberadaan Sifat Alloh adalah melekat pada Dzat-Nya. Sifat Alloh yang wajib diyakini oleh kita ada 13, yakni;
(1) WUJUD, artinya; Ada. Keberadaan Dzat Alloh tidak ada awalnya dan tidak ada yang menciptakan-Nyapertama kali. Jika keberadaan Dzat Alloh ada permulaan-Nya, maka berarti harus ada Dzat yang menciptakan pertama kali (DAOR); jika hal tersebut terjadi, maka berarti keberadaan Dzat Alloh itu LEMAH, jika Alloh Lemah maka MUSTAHIL.
(2) QIDAM, artinya; Terdahulu, dimana terdahulunya Dzat Alloh tidak ada Dzat yang menciptakan-Nya dan tidak ada awal-Nya. Jika keberadaan Dzat Alloh itu ada awal-Nya. maka keberadaan Dzat Alloh sangat membutuhkan terhadap Dzat yang telah mengadakan pertama kalinya, jika hal tersebut terjadi, maka berarti keberadaan Dzat Alloh itu bersifat LEMAH, Jika Alloh Lemah… maka itu mah bukan TUHAN.
(3) BAQO, artinya; Kekal, kekal-Nya Dzat Alloh tidak ada awal-Nya dan tidak akan pernah ada akhir-Nya.
(4) MUKHOLAFATULIL HAWADITS, artinya; Berbeda dengan sesuatu. Keberadaan Dzat Alloh tidak ada titik sama dengan sesuatu apa pun. Tidak ada sestupun yang serupa, semisal atau setara dengan keberadaan Dzat Alloh.
(5) QIYAMUHU BINAFSIH, artinya; Berdiri sendiri, Keberadaan atau eksistensi Dzat Alloh tidak memerlukan pihak lain untuk mengadakan diri-Nya, dan tidak memerlukan tempat untuk bertempat tinggal/bernaung/berlindung.
(6) WAHDANIYAT, artinya; Satu, Dzat Tuhan itu hanya ada satu, yakni Alloh saja. Diluar Alloh bukan Tuhan tapi makhluk hasil ciptaan Tuhan.
(7) QUDROT, artinya; Kuasa, keberadaan Dzat Alloh ialah berkuasa penuh untuk mengadakan dan mentiadakan segala sesuatu. Kekuasaan Alloh itu tidak ada awal-Nya, tidak kadang-kadang kuasa dan tidak akan pernah ada akhir-Nya.
(8) IRODAH, artinya Berkehendak, Keberadaan Dzat Alloh memiliki kehendak, keinginan, rencana (Program), Setiap kehendak, keinginan, rencana atau program Alloh pasti terjadi, tidak akan pernah gagal.
(9) ILMU, artinya Mengetahui, Pengetahuan Dzat Alloh bukan hasil belajar/riset, tidak ada awal-nya dan tidak akan pernah ada akhirnya.
(10) HAYAT, artinya; Hidup, Hidup-Nya Dzat Alloh tidak ada awal-Nya, tidak ada yang menghidupkan dan tidak akan pernah ada akhir-Nya.
(11) BASHOR, artinya; Melihat-Nya Dzat Alloh tidak terbatas oleh tempat, ruang dan waktu. Karena melihat.-Nya Dzat Alloh bukan dengan indra mata, tapi dengan sifat SAMA-NYA DIA.
(12) SAMA, artinya; Mendengar-Nya Dzat Alloh tidak terbatas oleh tempat, ruang dan waktu. Karena melndengar.-Nya Dzat Alloh bukan dengan indra telinga, tapi dengan sifat BASHOR-NYA DIA.
(13) KALAM, artinya Berbicara. Berbicara-Nya Dzat Alloh bukan dengan suara, isyarat atau kode, tapi dengan sifat KALAM-NYA DIA.

Kesimpulan:
TIDAK ADA SESUATU PUN YANG MEMILIKI TITIK SAMA DENGAN SIFAT-SIFAT YANG DIMILIKI OLEH DZAT ALLOH DENGAN SELURUH KESEMPURNAAN-NYA.

3.       Makrifat Terhadap Eksistensi Asma Alloh (Mengenal Nama-Nama Alloh).
1. Lafadz Alloh adalah merupakan nama Tuhan Sang Pencipta, Pemilik, Penggenggam, Pemelihara, Pengurus, Pengatur, Pengendali dan Penguasa Alam semesta; langit dan bumi beserta seluruh isinya. Tidak ada Tuhan kecuali Alloh dan diluar Alloh namanya bukan Tuhan, tapi makhluk hasil ciptaan Tuhan. Dan seluruh Kitab Suci yang telah diwahyukan kepada Para Rosul-Nya, menerangkan bahwa nama Tuhan itu ialah Alloh Qs 13:16. Alloh ialah satu-satunya Raja yang hak di abdi, dipuja, diagungkan, disanjung, dijadikan kekasih dan yang hak dijadikan idola oleh setiap makhluk yang ada di langit dan di bumi ini. Adapun untuk nama-nama lain dari Alloh yang ada dalam Asma’ul Husna, maka menunjukkan pula keberadaan sifat yang melekat pada Dzat Alloh dan merupakan kata berita yang menerangkan tentang keberadaan Sifat-Sifat Alloh.
2. Ar-Rohman (Maha Pengasih) Qs 2:163 / 13:30 / 20:5,109 / 50:33 / 78:38 .
3. Ar-Rohim (Maha Penyayang) Qs 1:3 / 4:64 / 27:30 / 34:2.
4. Al-Malik (Maha Merajai) Qs 3:26 / 59:23.
5. Al-Quddus (Maha Berih dari Noda dan Cacat) Qs 59:23 / 62:1.
6. As-Salam (Maha Penyelamat) Qs 59:23.
7. Al-Mu’min (Maha Pemelihara Keamanan) Qs 59:23.
8. Al-Muhaimin (Maha Penjaga) Qs 5:48 / 59:23.
9. Al-Aziz (Maha Perkasa) Qs 3:4 / 11:66 / 27:9 / 38:66 / 54:42 / 59:23.
10. Al-Jabbar (Maha Agung) Qs 59:23 .
11. Al-Mutakabbir (Maha Megah / Maha Angkuh) Qs 59:23.
12. Al-Kholiq (Maha Pencipta) Qs 6:102 / 15:28 / 40:62.
13. Al-Bari (Maha Pembuat) Qs 2:54 / 59:23.
14. Al-Mushowwir (Maha Pembentuk) Qs 3:6 / 40:64 / 59:24
15. Al-Ghoffar (Maha Pengampun) Qs 38:66 / 39:5 / 71:10.
16. Al-Qohhar (Maha Pemaksa) Qs 13:16 / 38:65 / 39:4.
17. Al-Wahhab (Maha Pemberi) Qs 3:8 / 38:9.
18. Al-Rozzak (Maha Pemberi Rizki) Qs 51:58.
19. Al-Fattah (Maha Membukakan) Qs 34:26.
20. Al-‘Alim (Maha Mengetahui) Qs 2:181,247 / 3:35 / 6:13.
21. Al-Qobidl (Maha Menggenggam dan Menahan) Qs 2:245.
22. Al-Basit (Maha Meluaskan / Melepaskan) Qs 17:30.
23. Al-Khofid (Maha Menjatuhkan / Merendahkan) Qs 56:23.
24. Ar-Rofi (Maha Mengangkat) Qs 2:253 / 3:55 / 58:11.
25. Al-Mu’iz (Maha Memberi Kemuliaan) Qs 3:26.
26. Al-Mudzil (Maha Memberi Kehinaan) Qs 3:26.
27. As-Sami’ (Maha Mendengar) Qs 2:181 / 6:13 / 17:1 / 40:20,56.
28. Al-Bashir (Maha Melihat) Qs 4:58 / 17:71 / 40:20,56 / 67:59.
29. Al-Hakam (Maha Penetap Hukum) Qs 5:58 / 6:114 / 10:109 / 12:40 / 13:41.
30. Al-‘Adlu (Maha Adil).
31. Al-Latif (Maha Halus / Lembut) Qs 6:103 / 12:100 / 67:14.
32. Al-Khobir (Maha Waspada) Qs 6:18,103 / 34:1 / 59:18 / 100:1.
33. Al-Halim (Maha Penghiba / Penyantun) Qs 9:114 / 17:44 / 64:17.
34. Al-‘Azhim (Maha Agung) Qs 3:74 / 56:96 / 69:52.
35. Al-Ghofur (Maha Kaya) Qs 2:235 / 34:2 / 48:14 / 64:14.
36. Asy-Syakur (Maha Pembalas) Qs 35:30 / 64:17.
37. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) Qs 2:255 / 4:34 / 22:62 / 40:12.
38. Al-Kabir (Maha Besar) Qs 13:9 / 22:62 / 40:12.
39. Al-Hafizh (Maha Pemelihara) Qs 11:57 / 12:64 / 42:6 / 50:52.
40. Al-Mukit (Maha Memberi Kecukupan).
41. Al-Hasib (Maha Penghitung) Qs 4:6 / 6:62.
42. Al-Jalil (Maha Luhur) Qs 55:27.
43. Al-Karim (Maha Pemurah) Qs 27:40.
44. Ar-Roqib (Maha Peneliti / Mengawasi) Qs 4:1 / 33:52.
45. Al-Mujid (Maha Mengabulkan) Qs 2:186 / 11:61 / 37:35.
46. Al-Wasi (Maha Luas) Qs 2:247 / 3:73 / 24:32.
47. Al-Hakim (Maha Bijaksana) Qs 6:83 / 11:1 / 95:8 / 27:9 / 34:1 / 39:1.
48. Al-Wadud (Maha Mengasihi) Qs 11:90 / 85:14.
49. Al-Majid (Maha Mulia) Qs 11:73 / 85:15.
50. Al-Ba’its (Maha Membangkitkan) Qs 2:56 / 16:84 / 16:89.
51. Asy-Syahid (Maha Menyaksikan) Qs 33:55 / 34:47.
52. Al-Haq (Maha Benar) Qs 22:62 / 31:30.
53. Al-Wakil (Maha Memelihara Penyerahan) Qs 4:81 / 17:65.
54. Al-Qowiy (Maha Kuat) Qs 8:52 / 11:66 / 57:25.
55. Al-Mathin (Maha Kokoh) Qs 7:183 / 51:58 / 68:45.
56. Al-Waliy (Maha Melindungi) Qs 4:45 / 42:28 / 33:17.
57. Al-Hamid (Maha Terpuji) Qs 11:73 / 14:1 / 42:28.
58. Al-Muhshi (Maha Menghitung / Menghisab) Qs 19:94 / 72:28.
59. Al-Mubdi (Maha Memulai) Qs 33:37 / 85:13.
60. Al-Mu’id (Maha Mengulangi) Qs 85:13.
61. Al-Muhyi (Maha Menghidupkan) Qs 30:50 / 44:8.
62. Al-Mumit (Maha Mematikan) Qs 44:8.
63. Al-Hayyu (Maha Hidup) Qs 2:255 / 3:2 / 40:65.
64. Al-Qoyyum (Maha Berdiri Sendiri) Qs 2:255 / 3:2 / 20:111.
65. Al-Wajid (Maha Kaya) Qs 93:6-8.
66. Al-Majid (Maha Mulia) Qs 85:15.
67. Al-Wahid (Maha Esa) Qs 13:16 / 21:108 / 38:65.
68. Ash-Shomad (Maha Dibutuhkan) Qs 112:2.
69. Al-Qodir (Maha Kuasa / Maha Berdaulat) Qs 30:50,54 / 6:65 / 10:65.
70. Al-Muqtadir (Maha Menentukan) Qs 18:45.
71. Al-Muqoddim (Maha Mendahulukan) 15:24.
72. Al-Mu’akhir (Maha Mengakhirkan) Qs 15:24 / 11:104.
73. Al-Awwal (Maha Pertama) Qs 57:3.
74. Al-Akhir (Maha Akhir) Qs 57:3.
75. Adz-Dzohir (Maha Nyata) Qs 57:3.
76. Al-Bathin (Maha Tersembunyi) Qs 57:3.
77. Al-Wali (Maha Menguasai / Memimpin) Qs 13:11 / 12:101.
78. Al-Muta’ali (Maha Suci) 13:9.
79. Al-Barri (Maha Dermawan) Qs 52:28.
80. At-Tawwab (Maha Penerima Taubat) Qs 2:54 9:104 / 110:16.
81. Al-Muntaqim (Maha Menyengsarakan) 39:37 / 43:41 / 44:16.
82. Al-‘Afuw (Maha Pemaaf) Qs 4:43,99 / 22:60.
83. Ar-Rouf (Maha Mensejahterakan) Qs 2:207 / 9:117 / 59:10.
84. Al-Malikul Mulk (Maha Menguasai Kerajaan / Pemerintahan) Qs 3:26.
85. Dzul Zalali Wal Ikrom (Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan) Qs 55:27.
86. Al-Muqsith (Maha Mengadili) Qs 3:18.
87. Al-Jami’ (Maha Mengumpulkan) Qs 3:9 / 4:172 / 42:29.
88. Al-Ghoniy (Maha Kaya) Qs 4:131 / 6:133 / 22:64.
89. Al-Mughni (Maha Memberi Kekayaan).
90. Al-Mani’ (Maha Pembela).
91. Ad-Adoru (Maha Mencelakakan) Qs 48:11.
92. An-Nafi’ (Maha Memberi Kesenangan) Qs 48:11.
93. An-Nur (Maha Bercahaya) Qs 39:22.
94. Al-Hadi (Maha Pembimbing) Qs 39:23.
95. Al-Badi (Maha Pembaharu) Qs 2:117.
96. Al-Baqi (Maha Kekal) Qs 55:27.
97. Al-Warits (Maha Pewaris) Qs 15:23 / 21:89.
98. Ar-Rosyid (Maha Cerdik / Maha Pandai) Qs 18:10 / 18:17.
99. As-Shobur (Maha Penyabar) Qs 7:153.

Kesimpulan: TIDAK ada sesuatupun yang memiliki titik sama dengan keberadaan Nama-Nama Alloh dengan seluruh keempurnaan-Nya.

4.       Ma’rifat Eksistensi Af’al Alloh (Mengenal Pekerjaan Alloh).

Segala sesuatu yang ada dan terjadi di langit maupun di planet bumi ini adalah merupakan buah karya /hasilkerja Alloh SWT.

Wujud Af’al Alloh ada 2, yaitu;
(1) Af’al Alloh Taqwin / Af’al Alloh Mudthor.

Yaitu pekerjaan Alloh yang tidak melibatkan upaya makhluk, seperti Alloh menciptakan, memelihara dan mengendalikan langit, bintang, matahari, bulan dan bumi. Atau Alloh menciptakan, memelihara dan mengendalikan ruh, jantung, darah, pernafasan dan alat pencernaan yang ada pada binatang dan manusia.

(2) Af’al Alloh tasyri / Af’al Alloh Mukhtar.

Yaitu pekerjaan Alloh yang secara kasad mata kita ada ikutserta dan upaya makhluk, seperti Alloh menciptakan bangunan, rumah, kendaraan, jalan, pakaian, alat tulis dan lain-lain.

Perkara yang mendukung terwujudnya Af’al Alloh Tasyri atau Af’al Alloh Mukhtar:

(a)   Adanya Dzat Alloh Yang Berkuasa untuk menciptakan, menggenggam, memelihara dan mengendalikan alam semesta beserta seluruh isinya.
(b) Adanya sumber daya manusia yang telah diciptakan, dipelihara dan dikendalikan tiap organ tubuhnya supaya berfungsi sesuai dengan kehendak dan tujuan Alloh.
(c) Adanya sumber bahan (sumber daya alam) yang telah disediakan oleh Alloh.

(d) Adanya ide dan ilmu pengetahuan hasil ciptaan Alloh yang kemudian disimpan pada memory akal manusia yang selanjutnya dipelihara dan difungsikan sesuai dengan kehendak-Nya.
(e) Adanya unsur-unsur lain yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia seperti; oksigen, air, makanan, cahaya, gaya grafitasi, suhu, matahari, tumbuhan, daging hewan, ikan (flora dan fauna), dan lain sebagainya yang keseluruhannya itu disediakan dan dikendalikan penuh oleh Alloh SWT.

Fungsi dan kedudukan Alloh adalah sebagai fa’il (subjek), yakni; yang mengadakan, yang mengerjakan, yang mengendalikan dan yang akan mentiadakan seluruh makhluk. Itulah wujud af’al Alloh. Sedangkan fungsi dan kedudukan makhluk adalah hanyalah sebagai maf’ul (objek), yakni yang diadakan, yang diciptakan, yang dihidupkan, yang dimampukan, yang dikuasakan, yang dipelihara, yang digerakkan dan yang dikendalikan sepenuhnya oleh Alloh Sang Pemilik dan Penguasa langit dan bumi beserta seluruh isinya Qs 10:3,55 / 19:65 / 20:6.

Kesimpulan: Tidak ada sesuatupun yang mampu untuk menghasilkan atsar kerja atau hasil kerja (af’al) kecuali hanya Alloh saja. Dan tidak ada sesuatupun yang setara, sebanding, serupa atau semisal dengan hasil pekerjaan Alloh (af’al Alloh).

5.       Makrifat Kepada Rububiyah Alloh.

Pengertian Rububiyah;

Kata Rububiyah berasal dari kata; Robb yang secara bahasa merupakan kata kerja dari; Robb-Yarobbu-Robban, yang berarti; Pencipta, Pengatur, Pemelihara, Pemilik.

(a) Pencipta segala sesuatu;
Pencipta risalah (ajaran, tuntunan, pedoman dan konsep hidup).
Pencipta syari’at; aturan / undang-undang danPencipta hukum.
Pencipta alam semesta beserta seluruhw isinya.

(b) Pengatur (Pembuat aturan dan hukum).
(c) Pemelihara.
(d) Pemilik segala sesuatu.

Sedangkan kata bendanya adalah Robbun dengan bentuk jamaknya Arbaabun yang berarti; Pemilik, Majikan, Tuan atau Tuhan.

Jadi yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah adalah meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum untuk dijadikan pedoman dalam manata dan mengatur seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 22:67 / 42:13 / 45:18 / 13:37,41 / 10:37 / 6:57 / 33:36. Jika ada manusia yang menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum, tanpa ada otoritas (kewenangan resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis oleh Alloh SWT sebagai Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Qs 4:60,76 / 6:112,123.
Ingatlah…!!! Menciptakan (segala sesuatu) dan memerintah hanyalah hak Alloh Qs 7:54.

Sedangkan orang yang diberi otoritas (kewenangan resmi) oleh Alloh SWT untuk menggulirkan ajaran; aturan dan hukum hasil ciptaan Alloh (Kitabulloh) di bumi ini hanya-lah para Rosul-Nya (Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW) Qs 7:158 / 21:105 / 42:13 / 9:33 / 48:28 / 61:9. Pangkat seorang Rosul saja tidak berhak untuk menciptakan ajaran; aturan dan hukum, ia hanya sebatas seorang mandataris Alloh SWT (pengemban amanat dari Alloh SWT). Setelah Rosululloh SAW wafat kemudian mandat (amanat) tersebut dilanjutkan oleh Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini Qs 3:144 / 4:59 / 24:55.

Kesimpulan: Ciri-Ciri Orang Yang Ma’rifat kepada Rububiyah adalah ia menyakini bahwa hanya Alloh saja satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Robb (Pengatur; Pencipta aturan dan hukum) baik di langit maupun di planet bumi ini, di luar Alloh status jabatannya bukan sebagai Robb tapi sebagai makhluk yang harus tunduk, patuh dan taat secara totalitas terhadap aturan dan hukum yang telah di sediakan oleh tuhannnya.

Orang yang meyakini bahwa di luar ada sesuatu yang memiliki fungsi; kedudukan / jabatan sebagai Robb, maka berarti ia sedang dalam keadaan MUSYRIK RUBUBIYAH.

Sedangkan jika ada orang yang tidak mengakui eksistensi fungsi; kedudukan/jabatan Alloh sebagai Robb, maka ia sedang dalam keadaan KAFIR RUBUBIYAH.

6.        Makrifat Kepada Eksistensi Mulkiyah Alloh Pengertian Mulkiyah.

Kata Mulkiyah berasal dari kata Al-Malik, yang berarti;

(a) Raja Qs 1:4 / 20:114 / 23:116 / 114:2.
Nama lain dari Raja adalah;

Penguasa, (Pemilik dan Pengendali Kekuasaan).
Pemimpin, (Pucuk Pimpinan / Pimpinan Tertinggi).
Pemerintah, (Tukang Nitah / Tukang Nyuruh; Kepala Pemerintahan).

(b) Lembaga Kerajaan Qs 2:251 / 5:120 / 6:73 / 22:56 / 25:2 / 57:5 / 67:1.
Nama lain dari Lembaga Kerajaan (Mulkiyah) adalah;
Lembaga Daulah (Lembaga Kekuasaan / Lembaga Kedaulatan) Qs 6:73 / 22:56 / 23:88 / 25:2-3.
Lembaga Kepemimpinan (Lembaga Khilafah) Qs 38:26.
Lembaga Pemerintahan (Lembaga Negara) Qs 2:247,251,258.

Ingatlah…!!! Menciptakan (segala sesuatu) dan memerintah hanyalah hak Alloh Qs 7:54.

Jadi yang dimaksud dengan orang Ma’rifat Kepada Mulkiyah adalah ia meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan di Jagat Raya ini dan yang berhak untuk memimpin dan memerintah seluruh makhluk yang ada di dalamnya ialah hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 67:1 / 25:2 / 5:120 / 20:114 / 23:116 / 6:18,61,73 / 10:65.

Sedangkan orang yang diberi legalitas (izin resmi) oleh Alloh SWT untuk mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan dan yang diberi legalitas untuk memimpin dan memerintah di planet bumi ini hanya-lah para Rosul-Nya (Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW) Qs 7:158 / 21:105 / 42:13 / 9:33 / 48:28 / 61:9. Yang kemudian dilanjutkan oleh Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini Qs 3:144 / 4:59 / 24:55.

Jika ada manusia yang mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan kemudian ia memimpin dan memerintah di muka bumi ini tanpa ada legalitas (izin resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis sebagai Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Qs 4:60,76. Mereka inilah yang dimaksud oleh Alloh SWT sebagai pembuat makar (pembuat kejahatan / pemberontak) yang sebenarnya terhadap hak dan kedaulatan Alloh SWT Qs 6:112,123 / 6:61 / 10:65.

Ciri-Ciri Orang Yang Ma’rifat Kepada Mulkiyah Alloh adalah adalah ia menyakini bahwa hanya Alloh saja satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Al-Malik (Raja, Penguasa, Pemimpin dan Pemerintah) baik di langit maupun di planet bumi ini, artinya;

(a)   Meyakini bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Raja, di luar Alloh status kedudukannya bukan sebagai Raja tapi yang di rajai oleh Alloh.
(b) Meyakini bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Penguasa, di luar Alloh status kedudukannya bukan sebagai Penguasa tapi yang di kuasai oleh Alloh.
(c) Meyakini bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Pemimpin, di luar Alloh status kedudukannya bukan sebagai Pemimpin tapi yang di pimpin oleh Alloh

(d) Meyakini bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Pemerintah atas sesuatu, di luar Alloh status kedudukannya bukan sebagai Pemerintah tapi yang di perintah oleh Alloh.

Kesimpulan:
Tidak ada Al-Malik (Raja/Pengusa/Pimpinan/Pemerintah) yang berhak untuk eksis baikdilangit maupun di muka bumi ini kecuali Alloh saja.

Jika ada orang yang meyakini bahwa di luar Dzat Alloh ada manusia atau ada sesuatu yang memiliki fungsi; kedudukan/jabatan sebagai AL-MALIK, Maka berarti ia dalam keadaan MUSYRIK MULKIYAH.

Sedangkan jika ada orang yang menolak eksistensi Mulkiyah Alloh (Kerajaan Islam/ Pemerintahan Islam), maka ia sedang alam Kafir terhadap Mulkiyah Alloh, seperti halnya Abu jahal Cs

7.         Makrifat Kepada Uluhiyah Alloh Pengertian Uluhiyah.

Kata Uluhiyah berasal dari kata; Aliha – Ya’lahu – Ilaahan, yang berarti; yang dicintai, yang ditaati, yang dijadikan tempat pengabdian (tempat ibadah) dan yang dijadikan tujuan hidup.

Jagi yang dimaksud dengan Ma’rifat Kepada Uluhiyah Alloh adalah ia meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk ditaati aturan dan kebijakan hukum-hukumnya oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini adalah hanyalah hak Alloh saja Qs 16:52 / 39:11 / 40:14,65 / 3:18 / 6:3 / 17:44 / 22:18 / 24:41 / 7:59,206 / 16:2,49 / 40:62-66 / 18:110 / 20:14 / 21:25 / 98:5.

Jika ada makhluk atau manusia atau siapa saja yang meminta dirinya supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya, maka itulah yang dimaksud dengan Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Sedangkan orang yang diberi legalitas (izin resmi) oleh Alloh SWT untuk supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya hanya-lah Rosululloh SAW dan Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini, selain itu tidak ada lagi yang diberi legalitas (Izin resmi) oleh Alloh SWT…..!!! Qs 3:32,132 / 4:59,69,80 / 8:20,24,46 / 6:36.

Ciri-Ciri Orang Yang Ma’rifat Kepada Uluhiyah Alloh adalah ia menyakini bahwa hanya Alloh saja satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Al-ILAH (Yang Ditaati / Yang Dijadikan Tempat Pengabdian) oleh seluruh makhluk baik yang ada di langit maupun di planet bumi ini.

Manfaatkan Waktu Hidupmu (for GI)


Asik! Cihuy! Dapet jatah nulis lagi di buletin gaulislam tercinta (maklum lho, ada 9 penulis (termasuk gue) di buletin ini, tiga di antaranya adalah penulis senior: Kang O. Solihin, Mbak Ria Fariana, dan Mbak Nafiisah FB). Gue rada-rada gimana gitu kalo diminta nulis. Tapi, ini kesempatan berharga, Bro! Siapa tahu gue bisa jadi penulis terkenal kayak mereka itu. Hehehe… Di tengah kesibukan sehari-hari, berkelana kemana-mana cari lowongan kerja baru, huft! Ternyata sesulit membalikkan telapak kaki gajah! Tiap Senin keliling Bogor nyebar buletin gaulislam ke sekolah-sekolah kalian sambil cari inspirasi tapi konsentrasi kabur-kaburan terus hehe.. Lho kok malah cerita kegiatan gue? Sori en asikkin aja dah! Oke deh, dan akhirnya dapet juga inspirasi buat nulis, memang betul-betul banget (lebay : mode on). Inspirasi bisa dapet dari mana aja bisa dapet pas lagi diem di kamar apa lagi di kamar kecil, ngak usah pake semedi tujuh hari tujuh malam di gua atau kuburan atau nginep di rumahnya Ki Joko Stupid, eh Ki Joko Bodo.

Malam ini gue lagi di warnet en lumayan rame. Suara-suara bising motor, mobil odong-odong (baca: angkutan umum plat hitam) yang berseliweran di jalan setia menemani..Oya, karena harus berbagi tempat dengan user lainnya di warnet, maka kedua kaki wajib dilipat alias bersila. Masalahnya, kalo terlalu lama bisa pegel dengkul ini, hadeu! (maklum gue ngetik di rental komputer yang lesehan) Kawan-kawan gaulislam yang gue cintai! (jiaah masih aja sempet-sempet ngegombal? Wataw!!) Terus baca ya!

To the point aja, kalian suka perhatiin kondisi anak muda zaman sekarang kan? (termasuk kalian juga—dan gue tentunya, hehe..) Coba deh cek en observasi di daerah terdekat. Hitung seberapa banyak anak muda yang aktif di pengajian? Jarang kita temui anak muda yang kritis terhadap agamanya. Waduh, kalo begini terus gimana bisa berdakwah? Huft! Gue denger juga ada yang nyeletuk “Duh nggak usah repot-repot peduli sama gue, yang penting gue nggak nyusahin orang lain kok!” Malah pernah ada cewek yang ditanya: “Kenapa kamu nggak pake kerudung. Padahal kan kamu tahu perempuan seumur kamu wajib menutupi aurat?” Eh, dia bilang: “Aku nggak munafik kayak cewek-cewek yang pake kerudung itu. Padahal hatinya busuk. Aku sih ada apanya, eh apa adanya sesuai dengan kata hati. Nantilah kalo udah tobat baru pake..Slow ajah ah mumpung masih muda hehe..”. Halah… amit-amit gue! Bro end Sis! Perempuan berkerudung belum tentu hatinya juga ‘berkerudung’ alias alim. Tapi kalo terus-terusan ngikutin kata hati dan hawa nafsu dijamin nggak bakalan ada usaha untuk jadi lebih baik. Gue belum jadi orang tua aja udah pusing duluan kalau-kalau nanti punya anak tantangan untuk mendidiknya pasti berat cuy. Hwach nggak kebayang! Sistem kapitalisme udah bener-bener meracuni anak bangsa! “Asal hati senang urusan yang lain what ever lah!” Musibah deh…

Bekal buat akhirat

Sobat muda muslim, jelas kita nggak dilarang buat ngejar urusan duniawi tapi kita juga wajib menomor satukan masalah akhirat. Yup, kita wajib nabung pahala. Beramal sholeh di dunia buat di akhirat kelak. Mumpung masih muda isi kegiatan sehari-hari dengan hal-hal yang positif dan syar’i, betul? Oya, di luar kegiatan sekolah pasti kamu punya banyak agenda. Mulai dari kursus atau ikutan bimbingan belajar, les musrik, ech musik, latihan band, olah raga dll. Kegiatan tersebut sah-sah aja dilakukan selama ngikut tuntunan syariat Islam dan nggak nyita waktu, plus bermanfaat untuk masa depan kalian (buset, banyak amat syaratnya). Tentu bukan kegiatan miskin manfaat macam pulang sekolah terus nongkrong seharian di warung atau di depan gedung bioskop ngobrol ini itu pura-pura nunggu film dimulai. Padahal nggak nonton sama sekali. Hehe pengalaman gue ini. Hus-hus yang ini jangan dicontoh! Jangan sampe pula kamu seharian di depan komputer en mantengin situs jejaring sosial macam facebook. Terus update statusnya yang tulisannya pake bahasa plat nomer alias nulis kata-kata dicampur pake angka. Huhu, bikin orang lain pusing bacanya. Oya, nggak baik juga kalo sampe terus-terusan main game online. Facebook-an nggak ada salahnya tergantung kita memanfaatinnya. Contoh yang baik nih ya kalian update status dengan nasihat-nasihat yang berguna atau tulis terjemahan ayat al-Quran atau hadist untuk saling mengingatkan dalam kebaikan keren dah pastinya. Ok?

Memanfaatkan waktu

Allah Swt. berfirman (yang artinya):

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.” (QS adz-Dzariyat [51]: 56)

Pernah nggak membandingkan waktu kegiatan untuk hal duniawi dengan waktu buat akhirat? Lebih banyak mana hayo? Contohnya nih, kita melaksanakan sholat fardu rata-rata butuh waktu hanya 5-10 menit. Itu juga kadang suka males-malesan apalagi sholat subuh. Terus tinggal dikurangin 24 jam (jumlah waktu dalam sehari). Nah sisanya kita ngapain aja—selain tidur dan sekolah? Sudah semestinya (ciee.. gue jadi tua gini), kita yang masih muda harus mengisi kehidupan ini dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Betul? Jangan punya prinsip “mumpung masih muda seneng-seneng aja dulu, tobatnya belakanganlah kalau sudah tua”. Waduh, emangnya kamu tahu kapan datang ajalmu? Bukan nggak boleh senang-senang dalam hidup. Silakan aja. Tentu dengan tujuan rekrasi atau me-refresh pikiran dan tetap dalam koridor syariat Islam. Ok?

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, kita wajib memanfaatkan waktu hidup kita dengan amalan-amalan sholeh agar tidak menyesal dan merugi nantinya. Sesuai dengan firman Allah Swt. (yang artinya):

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-Ashr [103]: 1-3)

Terus, bagaimana caranya supaya waktu kita bisa bermanfaat dan ngak sia-sia? Nih sedikit advice yang bisa kalian lakukan.

Pertama, mulailah setiap pagi dengan berdzikir kepada Allah, niatkan semua hal yang akan kita lakukan semata hanya untuk beribadah kepadaNya. Bukan untuk yang lain.

Kedua, jadwalkan semua kegiatan kita pada hari ini dengan jelas. Begitu ada waktu luang, segera isi dengan kegiatan bermanfaat, contohnya membaca buku, menkhatamkan al-Quran, membaca kitab, baca gaulislam (ehm..), dan lain sebagainya.

Ketiga, manfaatkan dengan baik waktu yang memiliki keistimewaan, misalnya pada sepertiga malam kamu bisa bangun dan melaksankan sholat malam.

Ngaji aja!

Bro and Sis, meskipun sudah diniatkan untuk mengisi waktu kita dengan hal-hal yang berguna, tapi kalo nggak konsisten kadang kita terlena dengan urusan duniawi. Iya kan? Kita mudah tergoda, suka ikut-ikutan tren—meskipun trennya yang nggak bener—karena hanya pengen diakui dalam komunitas kita biar dicap gaul. Huh cape dech! Kalau begini terus kita bakalan jadi budak kapitalis, generasi pengekor kayak kerbau yang diiket idungnya supaya mau ikut kemana-kamana. (No my way dech!) Saatnya sadar dan memikirkan kehidupan kita. BTW, ada nggak cara buat mem-protect kita dari serangan “racun dunia” sistem en budaya Barat? Well, salah satu jalannya kita wajib ngaji atau mengkaji serta aktif dalam pengajian. Ikut aja acara-acara kajian keislaman, kumpul bareng temen yang sholeh atau yang lebih paham agama. Bisa juga kita bentuk kelompok kajian Islam. Adakan pertemuan rutin sembari ngobrol bebas masalah agama, mengkaji materi keislaman yang memang kita butuhin seperti fikih, akidah, muamalah, akhlak, dakwah, syariah, dan juga khilafah. Hwach pasti seru bro! “Bosen dan Jenuh”? Halah, itu dua kata yang pertama kali muncul di benak gue ketika diajak caplin (bukan nama sebenarnya) ikutan ngaji. Pasti ini godaan setan! Tapi setelah terjun langsung ke TKP alias ke tempat pengajian ternyata setan itu pendusta sejati! Hehe.. gue enjoy di pengajian, karena bahasannya nyantai gue bisa sharing apa aja. Ngobrolin masalah ini itu dari a ampe z, mulai dari masalah pacaran dalam Islam gue tanyain, prikitiw! Sampai masalah ideologi dan sebagainya. Yang lebih serunya lagi kadang kita ngaji di tempat terbuka atau tempat rekreasi, asikk dah! Ilmu dapat, pikiran jadi tenang perut juga kenyang khwkhwk (jadi inget waktu ngajinya abis mancing deh). Hwaaah asiknya! Boys and gals, pokoknya buat acara pengajian senyaman mungkin dan tetap semangat aktif di pengajian serta sebagai bekal berdakwah atau menyampaikan kebaikan kepada teman yang lainnya. Rasulullah saw. Bersabda:

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari a-Quran dan mengajarkannya” (HR Bukhari)

So, kamu-kamu mulai deh dari sekarang ikutan ngaji, mengkaji Islam secara kaffah atau menyeluruh, bersosialisasi dengan agama kita sendiri, satu-satunya agama yang di ridhoi Allah Swt. Dijamin bakalan lebih enteng hadapi hidup! Menjadikan kita lebih berideologi dan bangga karena punya prinsip hidup, ketimbang cuma ikuat-ikutan biar dianggap gaul. Dengan ngaji juga kita terhindar dari dosa-dosa, terjaga dari maksiat, juga punya temen yang bisa saling mengingatkan kalau kita berbuat salah dan pastinya berguna untuk dunia dan akhirat.Jangan lupa sebagai anak pengajian, sikap dan perilaku kita wajib dijaga, agar terlihat ciri khas seorang muslim sejati. Oke? Oke deh, tetap semangat. Jangan putus dalam memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang positif dan sesuai syariat Islam. Semoga kita selalu ingat bahwa semua hal dicatat oleh Allah Swt., baik yang besar maupun yang kecil. Bijaksanalah dengan apa-apa yang dimudahkan oleh Allah. Yuk, manfaatkanlah waktu yang ada dengan kegiatan bermanfaat buat hidup kita. Jangan tertipu hawa nafsu. Siap? Yup, sampai jumpa di acara [klinik] gaulislam yang membedah buletin ini setiap pekannya. Masih inget kan semboyan khasnya: “Ngak Ngaji Ngak Trendy!” [samsi: tribute to Buletin Gaul Islam)

WAJHULLAH (Wajah Allah) oleh Muhammad Zuhri :Hidup Lebih Bermakna


Kajian Islam ini bukan membahas masalah syari’at. Tentang syari’at setiap peserta telah memiliki warna syari’at sendiri-sendiri menurut latar belakangnya masing-masing. Semua benar, dalam arti punya rujukan hukum, saya tidak mengubah apa yang telah dimililki.

Masalah yang kurang di kalangan Umat Islam ialah masalah pandangan hidup, yang akan mempengaruhi proses aktualnya, ketika bermasyarakat dan berkomunikasi dengan dunia luar. Karena sebaik-baiknya orang beribadah apabila tidak memiliki pandangan hidup yang benar, dia akan beribadah dengan penampilan yang ‘compang-camping’; tidak etis dan tidak menghargai orang lain. Padahal di dalam kehidupan, kita tahu bahwa tidak ada manusia kembar (tidak semuanya sama), tidak semua pendapat sama. Hal-hal yang berbeda inilah yang patut mendapat perhatian.

Selama ini kita diajar oleh lingkungan atau nara sumber hanya untuk menghargai yang sama dengan diri kita. Kita jarang diajar untuk menghargai orang yang berbeda pendapat dengan kita. Justru yang kedua ini tidak kalah pentingnya dari yang pertama, karena selain kita tidak berhak menuntut pihak lain untuk sama dengan diri kita, kita akan menemukan kemungkinan untuk berkembang. Itulah makna ‘berkoeksistensi’, yaitu hidup bersama dengan orang lain.

Bereksistensi adalah bermaujud. Bermaujud senantiasa bersama dengan pihak lain yang berbeda dengan diri kita. Di sini kita akan dapatkan makna kehadiran orang lain di sekitar kita, sehingga kita sadar betapa tingginya keberadaan pihak lain di hadapan kita.

Bila manusia ingin mengembangkan diri, ia butuh sarana pengembangan dirinya, saat itu ia butuh hasil kreativitas orang lain. Nasi yang kita makan bukan dari padi yang kita tanam sendiri, baju yang kita pakai bukan dari kain yang kita tenun sendiri, rumah yang kita galang bukan karya sendiri, semuanya adalah hasil kreativitas pihak lain. Demikianlah manusia tolong-menolong di dalam memenuhi kebutuhan, mengembangkan kehidupan, menyempurnakan dirinya. Tanpa bantuan orang lain seseorang tidak akan dapat meningkatkan taraf hidupnya. Justru karena ada orang lainlah seseorang menemukan dirinya menjadi lebih baik; karena ia senantiasa mendapat tawaran-tawaran nilai, kritikan dan rangsangan, bahkan ilham dan pengarahan-pengarahan.

Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa hidup bersama dengan yang lain. Karena hidup bersama orang lain, maka sikap yang harus kita miliki adalah menghargai orang lain karena kelainannya. Kelainan ini sangat berarti; ia memiliki sesuatu yang tidak kita miliki dan kita mempunyai sesuatu yang ia tidak punya. Kelainan ini bukanlah kelainan yang tidak bisa dicari titik temunya. Kelainan ini adalah kelainan pribadi manusia yang punya titik temu. Kita sama-sama ingin hidup dan ingin berkembang, sama-sama ingin tumbuh dan ingin menjadi baik dan akhirnya sama-sama ingin menjangkau kesempurnaan. Maka, sikap yang harus ada dalam hidup bersama orang lain adalah menghargai orang lain karena ‘kelainannya’.

Seorang sufi bercerita bahwa ada seetor kera sedang melompat-lompat dan bermam-main di antara tumbuh-tumbuhan di tengah hutan. Sambil mencari makan, kera itu akhirnya sampai di tepi sebuah danau. Kera itu tertegun tatkala melihat ke dalam danau ada ikan. “Oh, kasihan. Ia tercebur dalam air. Sebaiknya aku tolong.” Maka kera itu pun menceburkan diri ke dalam air. Dengan susah payah kera itu menangkap ikan, pikirnya: “Kuselamatkan dia biar tidak tenggelam di air”. Setelah tertangkap, ikan pun dibawa ke atas air dan diletakkannya di bawah pohon. Sang ikan pun meronta-ronta, kemudian seseorang mendekat dan bertanya, “Hai kera, apa yang sedang kau lakukan?” “Saya sedang menolong dia yang tercebur ke dalam air.” “Oh, tidak. Kamu tidak sedang menolong, tetapi kamu sedang membencanai dirinya.”

Jadi, orang yang bersikap bahwa orang lain harus seperti dirinya, sikap orang tersebut sama dengan sikap kera terhadap ikan tadi. Biarlah ikan menjadi ikan yang hidupnya di dalam air, sejahtera di dalam air, meskipun kera di dalam air bisa mati tenggelam. Demikianlah seharusnya kita menghargai orang lain sesuai dengan kelebihan dan kekurangannya, tidak mendaulat orang lain harus sama seperti diri kita. Justru kita harus menghargai orang lain karena ‘kelainannya’.

HAK INDIVIDU

Pada diri manusia ada sesuatu yang disebut akal budi. Bahwa segala sesuatu yang hidup memiliki hak hidup, kebutuhan hidup, daya hidup, potensi hidup – yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Misalnya kita memelihara seekor kelinci, seekor kucing, seekor anjing dan seekor kambing. Lalu kita beri makan dengan makanan yang sama (semua harus makan rumput), maka niscaya kucing dan anjing akan mati. Ini menggambarkan bahwa setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam mempertahankan kehidupannya dan menumbuhkan makna keberadaannya. Dengan ilustrasi tersebut, kita pun harus peduli terhadap kebutuhan orang lain yang berbeda-beda pula.

Rasulullah s.a.w. senantiasa melayani kebutuhan umatnya yang berbeda-beda. Ada seseorang yang datang meminta do’a agar bisa menjadi kaya, maka diberikannya do’a supaya ia menjadi kaya. Tetapi, ada seseorang yang ingin agar ia menjadi seorang miskin yang sabar, maka diberikanlah kepadanya do’a agar ia menjadi seorang miskin yang sabar. Kaya dan miskin adalah selera dan hak individu, karena itulah Rasulullah s.a.w. tidak melarang hak dan kemauan mereka. Seorang sahabat bemama Utsman Bin Affan memohon kepada Rasulullah s.a.w., “Ya, Rasulullah, berilah saya do’a. agar saya menjadi seorang yang kaya di dunia dan kaya di akhirat” Terkejut Rasulullah s.a.w. lalu katanya, “Inilah do’a yang pertama kali diminta oleh ummatku.” Maka dituntunlah Utsman bin Affan dengan sebuah do’a sebagaimana yang ia minta. Ustman bin Affan kita kenal sebagai salah satu diantara Khulafa-ur-Rasyidin yang paling kaya.

Kesediaan Rasulullah s.a.w. melayani permintaan umatnya yang berbeda-beda itu, tidak lain karena beliau menghargai kebutuhan setiap individu yang berbeda-beda pula; bahwa setiap manusia memiliki ketenangan jiwa dengan cara yang tidak sama. Rasulullah s.a.w. menghargai perbedaan dan perbedaan-perbedaan itu diresponnya dengan memberikan do’a-do’a sebagaimana yang mereka inginkan.

SADAR WAKTU

Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang paling sadar. Selain sadar, ia diberi bekal oleh Tuhan berupa akal. Di sinilah manusia perlu bertanggung-jawab karena ia diberi akal. Tanda bahwa makhluk itu berakal adalah kesadaran adanya waktu; sadar akan adanya ‘besok pagi’ (masa yang akan datang).

Ketika seseorang sadar akan ada ‘besok pagi’, dan ketika itu ia sedang marah hendak memukul seorang anak yang menjengkelkan dirinya, ia pun berpikir, “Kalau anak ini saya pukul, saya puas karena ia sangat menjengkelkan. Tetapi anak ini punya ayah. Besok pagi, kalau ayahnya datang mencari saya, padahal ayahnya adalah jagoan pencak silat…”

Orang yang berakal tidak mudah reaktif, tetapi akan berpikir lebih dahulu agar perbuatan yang dilakukannya tidak berakibat buruk terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Kesadaran terhadap waktu menyebabkan seseorang membatasi perbuatannya. Batas perbuatan itu disebut ‘hukum’. Bahwa setiap perbuatan manusia menimbulkan dampak hukum yang berakibat kembali pada dirinya sendiri. Al Qur’an menegaskan:

“Bila kamu berbuat baik, (maknanya sama dengan) berbuat baik terhadap dirimu sendiri, sebaliknya bila kamu menyakiti orang lain sesungguhnya kamu menyakiti dirimu sendiri.”
(QS. Al-isra’: 7)

TRANSFORMASI SOSIAL

Manusia dalam mengembangkan diri dipaksa keluar dari dirinya. Setiap insan dipaksa melangkah meninggalkan dirinya untuk mencari sarana kehidupan. Karena sarana kehidupan tidak dibawa dari kandungan, melainkan ada di alam struktural. Sarana-sarana itu dipergunakan untuk mempertahankan kehidupan fisikal kita yang memang harus dipelihara dengan baik. Sebab jasmani kita yang “wadhak” adalah singgasana tempatnya ‘sang aku’ bersemayam, agar ‘sang aku’ bisa berperan melakukan apa yang diinginkan.

Sesungguhnya, setelah terselenggara tubuh yang sehat, tertutup auratnya, ada tempat istirahat, sungguh itu sudah cukup buat fisik kita. Selanjutnya badan yang “wadhak” itu harus bisa menjadi medium bagi ‘sang aku’ untuk mengungkapkan diri (berbuat sesuatu), yaitu mencari makna kehadiran (makna keberadaan). Sebagaimana pepohonan, ia hadir di bumi ini ada makna dan jasanya.

Semua tumbuh-tumbuhan di alam ini berkreasi, berjuang mencari sumber daya, unsur hara dari bumi, merebut sinar matahari, melawan ketandusan, melawan hama. Setelah besar, tumbuh-tumbuhan itu berbunga, berbuah, agar buahnya dipetik pihak lain. Tidak untuk dirinya sendiri. Tumbuh-tumbuhan yang tidak mengeluarkan buah akan mengeluarkan kayunya, aromanya atau obat-obatan. Segala sesuatu yang dikeluarkan adalah hasil dari perjuangan hidupnya. “Inilah kemampuan saya,” kata bunga mawar, “Aku hanya bisa memberikan aroma kepadamu, wahai manusia, wahai makhluk lain.” “Inilah kemampuanku,” kata pohon jati, “Aku hanya bisa memberikan kayuku, silahkan menggunakan.” Tumbuh-tumbuhan itu bermanfaat, karena itulah bijinya ditanam untuk diabadikan orang.

Bila tumbuh-tumbuhan sanggup memberikan nilai kehadirannya di muka bumi, namun kebanyakan manusia tidak demikian. Manusia hanya menyerap potensi alam untuk kepentingan pribadi dengan tidak memberikan sesuatu pun kepada pihak lain. Adapun orang yang mau (sanggup) memberikan sesuatu kepada pihak lain, artinya ia telah mengarah seperti tumbuh-tumbuhan yang hadir ke bumi ada makna dan jasanya. Mereka inilah orang-orang yang melakukan ‘transformasi sosial’.

Dalam melakukan transformasi sosial, manusia sanggup mengubah kondisi lingkungan; dari lapar menjadi kenyang, bodoh menjadi pintar, sakit menjadi sembuh, tersesat menjadi terarah, teraniaya menjadi merdeka. Tindakan transformasi sosial itu disebut ‘amal shaleh’. Amal shaleh inilah tanda yang bisa dilihat oleh orang lain bahwa seseorang telah beriman.

Iman seseorang tidak bisa dilihat oleh orang lain karena letaknya di dalam hati, tetapi tandanya bisa dilihat dengan perbuatan (amal shaleh). Oleh karena itu, di dalam Al Qur’an tidak ada kata ‘iman’ kecuali dengan rangkapan ‘amal shaleh’. Amanuu wa-amilush-shalihat. Iman hanya bisa dilihat Tuhan, sedangkan tandanya (amal shaleh) dapat diketahui manusia. Dengan melakukan transformasi sosial atau beramal shaleh, berarti seseorang telah memiliki output atau tawaran nilai kepada lingkungannya. “Inilah tanda kehadiranku. Inilah tanda keberadaanku di muka bumi. Aku ada.”

Manusia yang beriman tanpa beramal shaleh tidak memiliki niat untuk memberi, melindungi atau mengembangkan lingkungan. Ia kalah dari tumbuh-tumbuhan. Ia kalah dengan makhluk lain yang tidak berakal. Dengan demikian jatuhlah ia menjadi “Asfala Safilin” yaitu sesuatu yang lebih rendah dari yang rendah. Yang lebih rendah dari yang rendah ialah yang hanya memungut dan tidak pemah memberikan pengorbanan, padahal nilai manusia sebesar pengorbanannya.

FALSAFAH NILAI

Kebanyakan manusia mencari sarana kehidupannya hanya untuk memuaskan diri. Padahal tidak ada kepuasaan yang langgeng. Setiap kepuasan akan berakhir dengan kebosanan.

Sadar akan hal itu, manusia ingin memiliki sesuatu yang baru. Bukan nilai-nilai estetis (nilai-nilai kebutuhan, kesenangan, penghibur, pemuas), melainkan nilai yang bersifat universal dan bermanfaat bagi orang lain. Manusia mengembangkan akalnya sehingga mereka berilmu (memiliki nilai ilmu atau nilai logika}.

Namun setelah akal dikembangkan (dengan mengungkapkan berbagai disiplin ilmunya), mereka kembali turun ke dimensi estetika; disiplin-disiplin ilmu yang telah ditemukan tidak didayagunakan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia melainkan hanya untuk mencari kesenangan atau pemuas nafsu (nilai estetis). Ilmu hanya menjadi alat untuk mengeksploitasi sumber daya alam demi kepentingan individu (golongan, etnis, bangsa), bukan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Dengan demikian nilai ilmu (nilai logika) menjadi terpuruk. Nilai ilmu jatuh sendiri di depan manusia.

Akhirnya manusia ingin mencari nilai yang lebih tinggi lagi dari nilai ilmu (nilai logika), yaitu nilai etika (nilai moral). Inilah sebuah nilai yang harus dimiliki ketika seseorang ingin ‘menyentuh’ orang lain. Etika ialah ukuran-ukuran komunikasi yang mendukung seseorang untuk melakukan sesuatu kepada orang lain, dengan pertimbangan bila hal itu dilakukan orang lain kepadanya niscaya ia menjadi senang. Etika merupakan suatu kewajiban dari dalam. Etika adalah sifat adil terhadap diri sendiri dan orang lain. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Belum beriman seseorang sebelum ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai diri sendiri”.

Setelah nilai etika (nilai moral) ditemukan, akhirnya manusia dapat mencapai jenjang yang universal. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan pun memiliki nilai-nilai moral; moral usaha, moral industri, sehingga banyak perusahaan yang memberikan jasa-jasa kepada para pelanggan. Ada perusahaan yang memberikan jasa pelayanan mengantar kepada pembeli, memberikan bonus naik haji kepada pelanggan, dan lain sebagainya. Tetapi perbuatan-perbuatan baik itu kebanyakan bukan berorientasi pada amal shaleh, melainkan agar perusahaan menjadi populer sehingga pelanggannya menjadi banyak. Pada saat itulah manusia jatuh kembali ke dalam dimensi terendah yaitu dimensi estetika (kesenangan, pemuas).

Itulah manusia. Dia sulit dipisahkan dari dimensi estetika (yang menyenangkan, yang menghibur dan yang bermanfaat buat fisikalnya). Karena sejarah hidup manusia selalu mendapat suplemen dari dimensi tersebut, maka tumbuhlah sifat ketergantungan terhadapnya. Semakin berilmu semakin sulit membedakan yang haq dan yang bathil, sebab semua dikemas dengan brillian dalam logika dan moral.

Mestinya tidak demikian. Misi kehadiran manusia di bumi ini jauh lebih tinggi dari itu. Manusia adalah khalifah Tuhan di muka bumi, maka yang harus diutamakan adalah bagaimana kita bisa aktual dan bernilai transformatif; mengembangkan pihak lain dalam rangka mengenal diri dan mengenal Tuhannya.

Pada saat manusia sudah berada dalam dimensi moral, pada saat itu sebenarnya ia sudah dapat menghargai orang lain, memiliki makna kehadiran bagi orang lain. Dengan demikian orang lain kelak bisa menjadi saksi kita di depan Tuhan. Saksi di depan Tuhan kelak akan diberikan serta merta oleh orang lain atas perilaku kita terhadap mereka.

NILAI ESSENSI
MENEMUKAN WAJHULLAH

Ketika kita terpanggil oleh kepedulian terhadap nasib orang lain, dan apabila hal itu dilakukan dengan ikhlas (bukan karena ingin di puji), pada saat itulah kita telah berbuat ihsan. Ihsan ialah suatu bukti yang bisa dirasakan makna kehadirannya oleh orang lain di muka bumi. Allah menganjurkan supaya kita berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita. Kebaikan-kebaikan Allah itu antara lain ialah menyantuni kita, mengembangkan diri kita melalui makhluk-makhluk-Nya, tidak mendaulat, tidak memaksa, memberi dan tidak meminta lagi (tidak pemah menagih). Demikianlah rujukan ihsan adalah Rabbul Alamin itu sendiri. Yaitu, berbuat baik sebagaimana ketika Allah telah berbuat baik kepada kita.

Setelah kita berada dalam tingkatan ihsan, ketika itu hilanglah wajah individu-individu. Hilang pula warna-warni, gender, level-level sosial. Yang kita hadapi adalah sesuatu yang tidak berupa. Yang tampak di depan kita adalah ‘Wajah Yang Perkasa’. Yang tampak adalah Yang Menawarkan Suatu Perbuatan.

Seorang tua yang datang dengan segala kerendahan hati meminta pertolongan, hilang tidak kelihatan wajahnya bagi seorang yang muhsin. Yang terlihat dari wajah yang datang itu adalah ‘Wajah Lain’ yang tidak berupa. Seolah Wajah itu mengatakan, “Silakan wahai fulan. Engkau menolong atau menolak. Bila engkau menolong, itulah dirimu yang menolong orang lain. Tetapi bila engkau menolak, itulah dirimu yang menolak bila dimintai pertolongan. Aku tidak memaksa kau!”

Wajhullah datang. Dia tidak berupa tidak berwarna. Tidak tahu dari mana datangnya, tapi hadir dalam kesadaran. Meskipun Dia kuasa dan perkasa, namun Dia tidak pernah memaksa. Dia hanya menawarkan perbuatan; bila engkau menolong, maka engkau mengenal dirimu sebagai penolong. Tapi bila engkau menolak, maka engkau akan menemukan dirimu sebagai sang penolak. Di sinilah letak kemerdekaan manusia untuk bisa menjadi dirinya sendiri.

“Bila datang kepadamu sesuatu yang haq, maka bila kamu berkehendak menjadi mukmin, mukminlah. Tetapi bila kamu berkehendak menjadi kafir, maka kafirlah”.
(QS. Al-Kahfc 29)

Dia tidak memaksa engkau, namun bila engkau benar-benar muhsin;

“Kemana pun menghadap, di situ engkau melihat Wajah Allah”
(QS. Al-Baqarah: 115)

Itulah nilai yang terakhir, yaitu nilai essensi. Essensi adalah ‘sisi dalam’ wujud kita atau ‘kekuatan dalam’ wujud kita untuk mengenal individu-individu lain, yang pada hakikatnya mereka adalah utusan-utusan Tuhan.

Hanya dengan mengenal diri dan berpartisipasi terhadap pengembangan sesama manusia, kita bisa melihat Wajhullah. Wajah Allah tidak bisa dilihat tanpa ihsan.

“Barangsiapa di dalam kehidupan ini buta (tidak dapat melihat Wajhullah), maka kelak di akhirat dia juga buta, dan akan lebih sesat lagi jalannya”.
(QS.Al-Isra’:72)

sumber@ http://www.facebook.com/note.php?note_id=337665747851

Karakter Orang menurut Bentuk Hidungnya


Ahli kepribadian percaya bahwa bentuk hidung dapat mengungkap kepribadian Anda. Simon Brown, penulis buku The Secrets of Face Reading, mencoba menganalisis apa kata bentuk hidung mengenai Anda.

turned-up nose

Turned-up

Ciri-ciri : Tulang hidung panjang, lekukan jelas hampir seperti cekungan, dan mencuat di ujung tulang hidung.

Analisis : Tipe hidung yang imut ini menandakan Anda orang yang baik hati, optimis, dan perhatian. Pribadi Anda juga penuh dengan antusiasme dan sangat suportif pada keluarga dan teman. Tidak lupa Anda juga menyimpan jiwa petualang dalam seks.

Contohnya : Aktris Nicole Kidman, Marilyn Monroe, dan Victoria Beckham.

roman nose

Roman

Ciri-ciri : Tipe hidung ini memiliki benjolan kecil mulai dari pertengahan tulang hidung yang mengarah ke ujung bawah hidung.

Analisis : Tipe ini merupakan sinyal kepribadian yang kuat, tapi tidak selalu impulsif. Anda orang yang memotivasi orang lain, berpengaruh dan penuh perhitungan.

Contohnya : Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, Penyanyi Bono (U2).

greek nose

Greeks

Ciri-ciri : Tulang hidung panjang, lurus, dan terkesan kuat. Jika dilihat sudut yang terbentuk antara ujung hidung dan bibir atas membentuk sekitar 80 derajat, atau mendekati sudut siku-siku.

Analisis : Anda adalah orang yang efisien, pekerja keras, dan orang yang menjaga emosi sehingga sulit untuk dimengerti. Anda adalah orang yang dicari saat terjadi krisis.

Contohnya : Mantan perdana menteri Tony Blair, Margaret Thatcher.

hawk nose

Hawk

Ciri-ciri : Tipe hidung ini menyerupai kaitan atau paruh burung elang yang melengkung di punggung hidung.

Karakter : Tipe ini yang paling peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang Anda. Berjiwa pemberontak, tidak membutuhkan persetujuan orang lain, dan paling bahagia ketika mengejar tujuan pribadi.

Contohnya : Paris Hilton, dan penyair Dante Alighieri.

snub nose

Snub

Ciri –ciri : Tipe ini sama dengan hidung pesek. Bertulang pendek, dan tidak ada bagian yang menonjol.

Karakter : Tipe hidung ini biasanya cerdas dan bijaksana daripada orang kebanyakan. Mereka bereaksi dengan cepat, atau terlalu cepat, sehingga terkesan agresif.

Contohnya : Penyanyi Lily Allen, dan aktor Johnny Depp.

nubia nose

Nubia

Ciri-ciri : Bertulang pendek dan lebar, tapi tidak menonjol. Tipe ini lazim ditemui kelompok etnis tertentu.

Karakter : Tipe ini mencerminkan kreativitas dan gairah. Ia juga karismatik, mudah menarik perhatian orang banyak.

Contohnya : Presiden AS, Barrack Obama, model Naomi Campbell, dan aktor Will Smith.

Cara Mengetahui Jenis Motherboard


Ketika kita membeli komputer second ataupun baru tapi kehilangan CD driver, tentu kita akan kesulitan mencari driver untuk motherboard kita. Beberapa motherboard memang memiliki device driver yang “plug n play“, artinya ketika selesai di instal, semua driver langsung berfungsi dengan baik. Tapi kalau tidak? Tentu kita akan kebingungan mencari driver motherboard kita bila jenis motherboard nya pun kita tidak tahu.

Berikut, beberapa tips untuk menentukan jenis motherboard ataupun menentukan jenis device driver kita:

1. Hidupkan komputer kita, begitu komputer berbunyi “bep” cepat tekan Tombol Pause – Break yang ada di keyboard. Tampilan monitor akan seperti dibawah ini.

Lihat di pojok kiri bawah, dibawah tulisan “Press DEL to run Setup”. Yup! itu adalah jenis motherboard kita. Kita menemukan jenis motherboard kita adalah P2B dengan menggunakan chipset  i440BX. Tulis di kertas, atau hapalkan. Searching di Google untuk menemukan drivernya.

Contoh lain:

Anda menemukan apa jenis motherboard anda? Ya, MCP68. Itu jenis motherboard anda. Sekarang anda bisa cari driver anda di mr.Google.

2. Pada beberapa jenis motherboard, Windows dapat mendeteksi jenis motherboard anda. Ayo kita coba, apakah jenis motherboar anda terbaca di Windows. Lari ke start menu – run. Ketikan dxdiag pada run menu. Maka akan keluar tampilan sebagai berikut.

Anda bisa baca disana:

- System Manufacturer : VIA Technologies, Inc.

- System Model : KT600

Anda bisa mencari di Google dengan keyword VIA KT600, atau KT600 saja.

3. Bila di kedua cara diatas anda tidak menemukan, yang selanjutnya harus anda lakukan adalah membongkar Casing anda untuk melihat jenis motherboard. Beberapa Motherboard menuliskan jenis Motherboardnya di board-nya. Contohnya di bawah ini:

Terlihat jelas tipe motherboard anda ASUS P5W64 WS PRO. Lagi, cari di Google, ataupun situs driver langganan anda.

4. Ini alternatif terakhir. Bila dengan ketiga cara diatas anda tidak menemukan jenis driver anda, berarti anda harus mencari driver masing-masing dengan melihat chipset nya. Untuk menentukan driver VGA, anda melihat chipset VGA, dan untuk menentukan driver Sound, anda melihat chipset Soundnya.

Gambar di atas adalah Chipset Sound, jenis sound anda adalah ES6698FD.

Demikian tips dari saya untuk mengetahui jenis motherboard dan menemukan driver motherboard anda. Semoga membantu.

sumber: http://davidusman.wordpress.com/komputer-hardware/cara-manual-mengetahui-jenis-motherboard/

AboUt RaM


 

EDO RAM
EDO RAM dapat memberikan performa system 50% lebih cepat dibandingkan dengan DRAM. EDO RAM sama seperti FPM DRAM, dengan beberapa chace yang dibangun ke chip. Seperti FPM DRAM, EDO RAM memiliki kecepatan maksimal 50MHz EDO RAM uga harus membutuhkan L2 Cache untuk membuat semuanya berjalan dengan cepat, namun jika user tidak memilikinya, maka EDO RAM akan berjalan jauh lebih lambat.


FPM RAM (Fast Page Mode DRAM)
Fast Page Mode DRAM adalah model DRAM paling lama. Masalah yang sering muncul dari FPM DRAM adalah kecepatan transfernya yang lambat yakni maksimum 50MHz.


SDRAM (Synchronous DRAM)
Hampir semua system menggunakan tegangan 3.3 volt, 168-pin SDRAM DIMM ini. SDRAM bukanlah sebuah ekstensi dari seri EDO RAM yang lama, namun merupakan tipe baru dari DRAM. SDRAM mulai berjalan dengan kecepatan transfer 66MHz, sementara mode halaman DRAM dan EDO yang lebih lama akan berjalan di maksimal 50MHz. SDRAM sekarang ini dapat berjalan dengan kecepatan 133MHz (PC133), dan bakan hingga 180MHz atau lebih tinggi. Untuk mempercepat kinerja processor, maka RAM generasi baru seperti DDR dan RDRAM biasanya dapat mendukung performa yang lebih baik.


DDR (Double Data Rate SDRAM)
DDR pada dasarnya memiliki kecepatan transfer dua kali lipat daripada SDRAM. DDR akan beroperasi di 333MHz, dengan pengoperasian sebenarnya 166MHz * 2 (aka PC333 / PC2700) atau 133MHz*2 (PC266 / PC2100). DDR RAM juga kompatibel dengan SDRAM secara fisik, namun menggunakan bus parallel yang sama, sehingga membuat implemnetasi lebih mudah dibandingkan RDRAM, yang merupakan teknologi berbeda.


Rambus RAM (RDRAM)
Selain harganya yang cukup mahal, Intel memberikan RDRAM untuk konsumen, dan merupakan pilihan yang tepat untuk memori Intel Pentium 4. RDRAM merupakan teknologi memory serial yang datang dengan tiga pilihan, yakni PC600, PC700, dan PC800. PC800 RDRAM didesain dengan double maximum kecepatan transfer daripada PC100 SDRAM, namun memiliki latensi tinggi. RDRAM memiliki multi channel, seperti pada motherboard Pentium 4, yang dapat menawarkan fungsi memori paling bagus, terutama ketika dipasangkan dengan memory PC1066 RDRAM

**********************************************************

Mungkin sebagian dari anda masih belum tahu apa perbedaan dari RAM DDR1 dengan RAM DDR2, kalau anda belum tahu saya juga baru tahu akhir-akhir ini saja , untuk itulah bagi yang butuh anda baca artikel ini secara

sekasama.perbedaan dari DDR1,DDR2,dan DDR3 dapat terlihat dari gambar diatas….

Adapun perbedaan pada fisik antara memori jenis DDR dengan jenis DDR2 yang pertama adalah pada jenis chip memori yang digunakan. Pada memori jenis DDR, chip memori (IC)yang digunakan pada board modul memori adalah adalah jenis TSOP (Thin Small-Outline Packege). Bentuknya adalah empat persegi panjag dengan kaki-kaki di sisi kiri dan kanannya. Jarang sekali modul memori DDR yang menggunakan chip memori jenis BGA.

Pada memori jenis DDR2, jenis chip memori yang digunakan adalah tipe BGA (Ball Grid Away). Bentuknya ada yang empat persei panjang, adapula yang berbentuk bujur sangkar. Tetapi, tidak seperti chip memori jenis TSOP, kaki-kaki pada memori jenis BGA tidak terlihat mata karena terletak dibawah chip dan langsung dan langsung ditancapkan ke board modul memori.

Perbedaan secara fisik lainnya yang dapat dilihat secara kasat mata adalah pada notch yang tersedia di board memori di bagian golden finger alias konektor slot memori di motherboard. Pada jenis memori DDR2, notch ini terletak sedikit lebih ke tengah board modul memori, sedangkan pada memori DDR, notch ini terletak sedikit ke arah sisi kanan.

Perbedaan secara fisik terakhir yang dapat dilihat dengan mudah adalah jumlah pin yang digunakan. Memori DDR memiliki pin sebanyak 184 buah (92-pin di setiap sisinya), sedangkan memori jenis DDR2 memiliki pin yang lebih kecil dan padat Jumlahnya 240 buah (120-pin di setiap sisi).

Dari sisi kecepatan, memori jenis DDR2 yang terendah adalah yang memiliki clock speed 200MHz (DDR2 400 atau PC-3200), sedangkan memori jenis DDR adalah yang memiliki clock speed 100MHz (DDR 200 atau PC-1600). Memori jenis DDR tertinggi yang didukung resmi oleh JEDEC (Joint Electron Divice Engineering Council) atau badan standarisasi industri elektronik dan semikonduktor adalah DDR 400 (PC-3200) sedangkan memori DDR2 yang saat ini sudah tercatat sebagai standar memori DDR2 adalah DDR2 400 (PC-3200), DDR2 533 (PC-4300), DDR2 667 (PC-5300), dan DDR2 800 (PC-6400).

Dari sisi kinerja, dengan clock speed yang yang sama, sistem yang menggunakan jenis memori DDR biasanya memiliki kinerja yang relatif sama dengan sistem yang menggunakan memori DDR2. Pada banyak kasus, malah kinerja yang menggunakan memori DDR lebih baik dari pada DDR2. Hal ini dimungkinkan karena latency dan timing memori DDR lebih baik dibandingkan dengan memori DDR2. Tetapi kembali lagi. Memori jenis DDR tidak ada yang diproduksi dengan kecepatan melebihi 600MHz, sedangkan DDR2 masih bsa dipatok pada kcepatan jauh di atas itu. Saat ini ada varian baru lagi dari memori RAM, yakni DDR3 yang memiliki clock speed yang lebih besar dibandingkan dengan DDR2.

.

Buat yang Masih Ragu Putusin Pacar


BANYAK alasan untuk memutuskan sang pacar. Tapi di antara berjuta alasan yang ada, takut dosa adalah alasan paling keren dan bertanggung jawab dibandingkan yang lain. Kamu jadi males pacaran karena sudah nyadar bahwa pacaran hanya sebuah upaya untuk dekat-dekat dengan zina. Dan kamu juga telah tahu bahwa zina adalah sebuah jalan yang buruk untuk ditempuh.

Bagi cowok, kamu sudah paham bahwa pacaran itu hanya sebuah cara untuk melecehkan cewek. Kamu ingin menempuh cara baru dalam menghormati cewek yaitu dengan jalan menikah saja. Nah, karena masih usia sekolah pake seragam putih abu-abu (SMA) atau bahkan putih biru (SMP) maka niat itu ditunda dulu sementara waktu. Caranya adalah memutuskan sang pacar dengan baik-baik dan mengajaknya untuk sama-sama belajar dan mengamalkan Islam dengan baik dan benar.

Masalahnya, memutuskan pacar tak mudah seperti membalik telapak tangan. Kamu sudah terlanjur sayang padanya. Kamu tak ingin menyakiti hatinya. Tapi di satu pihak, kamu tak mungkin melanjutkan hubungan tanpa status tersebut. Apalagi cowok biasanya paling gak tahan kalo melihat cewek nangis, terlebih ini cewek yang sangat disayanginya. Trus, gimana donk?

…memutuskan pacar tak mudah seperti membalik telapak tangan. Kamu sudah terlanjur sayang padanya. Kamu tak ingin menyakiti hatinya…

Ada beberapa cara yang bisa kamu tempuh. Pertama, kamu berusaha menemuinya langsung tapi dengan syarat tak boleh khalwat alias berdua-duaan tanpa non mahrom. Suruh si dia bawa teman ceweknya. Dengan bertemu langsung, kamu bisa menjelaskan alasanmu ingin putus. Semuanya karena Allah semata, bukan karena ada pihak ketiga atau cewek lain di hatimu. Kalo kamu merasa berat bertemu dengannya karena khawatir dia histeris atau nangis, ada cara kedua yaitu menulis surat. Karena teknologi sudah canggih, boleh tuh pake email atau surat elektronik. Tapi jangan pake sms ya karena namanya aja Short Messaging System alias pesan pendek, kamu jadi gak leluasa menjelaskan alasanmu ke dia.

Bagaimana kalau setelah mengetahui keputusanmu, si mantan tak terima? Mungkin saja dia bakal nangis mendatangi kamu karena tak ingin diputusin. Bisa juga dia marah-marah dan memakimu di depan umum. Atau bahkan kemungkinan terburuk dia bisa jadi jatuh sakit karena tidak ingin kamu putusin.

Kalem Bro, semua itu merupakan ujian bagi keimananmu saat ini. Dengan semua reaksi sang mantan di atas, Allah ingin melihat sejauh mana keteguhan imanmu untuk taat pada-Nya. Keteguhan disini bukan berarti bertindak kasar loh. Kamu tetap harus baik dan lembut sama cewek. Baik dan lembut itu tak menghalangi kamu untuk bersikap tegas pada pendirianmu bahwa pacaran kalian tak bisa dilanjutkan lagi. Nasehati dia dan pahamkan bahwa Islam tak mengenal pacaran sebelum nikah. Bila memang berjodoh, satu ketika nanti kalian berdua pasti akan dipertemukan lagi oleh Allah pada kondisi yang diridhoi-Nya yaitu dalam ikatan pernikahan.

Jangan lupa, bawa serta dalam doamu bahwa Allah akan melunakkan hatinya agar bisa menerima keputusanmu itu. Bukan itu saja, doakan juga ia segera sadar dan tidak akan mengulangi aktifitas pacaran lagi. Kamu bisa mencoba menghubungi aktifis rohis (kerohanian Islam) yang akhwat (cewek maksudnya) agar mendekati sang mantan supaya ia juga mau mengaji Islam dan paham hukum-hukum Allah yang lain.

…bawa serta dalam doamu bahwa Allah akan melunakkan hatinya agar bisa menerima keputusanmu itu. Bukan itu saja, doakan juga ia segera sadar dan tidak akan mengulangi aktifitas pacaran lagi…

Nah, sekarang kamu gak takut lagi kan sang pacar akan sakit hati ketika kamu putusin? Kalo berbagai cara di atas sudah kamu tempuh dan si mantan tetap keukeuh sakit hati dan tak menerima keputusanmu, maka serahkan semua pada Allah. Cewek seperti itu benar-benar tak pantas untukmu. Diajak untuk takut dosa malah nantang. Diajak tobat malah kumat jahatnya. Inilah momen untuk kamu ketahui bahwa ternyata cewek yang pernah kamu pacari adalah orang yang keras hatinya dan susah diajak kepada kebenaran. Maka, biarkan saja.

Yakinlah bahwa Allah akan memberimu ganti dengan seseorang yang jauh lebih baik darinya, kelak bila kamu sudah siap untuk berumah tangga. Untuk saat ini, fokus dulu pada belajar dan berprestasi setinggi-tingginya ya. Jangan khawatir soal jodoh karena sejak mula ruhmu ditiupkan dalam rahim ibu, pasangan jiwa itu sudah ada untukmu. Tinggal kamunya saja mau menjemputnya dalam kondisi haram atau halal. It’s up to you, Bro. Muslim cerdas pastilah memilih yang halal yaitu tanpa pacaran sebelum nikah. Keren kan? Siip dah! ^_^

[ria fariana/voa-islam.com]

http://voa-islam.com/teenage/young-spirit/2010/02/02/3040/buat-yang-masih-ragu-putusin-pacar/

PEMUDA IDEAL!


Apa yang kamu pikirin kalo denger kalimat bahwa Pemuda adalah Generasi Penerus Bangsa? Terus apanya yang di terusin? Hehehe, siapa lagi yang akan menerusakan perjuangan dan dakwah yang sudah dilakukan para kaum tua yang telah mendahului kita yang pastinya Pemuda, pemuda yang mempunyai akhlak yang baik dan tentunya memiliki Ilmu pengetahuan yang luas.

Pemuda berperan penting dalam kehidupan didunia ini, Potensi yang dimiliki sangat besar jika diasah dan disinergikan, potensi-potensi itu akan menghasilkan ledakan yang dahsyat. Tapi percuma saja kalo pemudanya bermalas-malasan, tidak bersemangat dan mudah putus asa apa lagi kalo di ajak holaqoh atau ngaji aja susah? Hmm, kalo begitu gimana mau jadi pemuda muslim yang ideal?

Katanya “Yang muda yang berkarya dan jangan cuma bicara” kalo menulis di Gaul Islam gimana tuh? Hehehe Insya Allah tulisan ini sebagai wujud nyata sumbangan pemikiran dan dakwah, usaha untuk menyemangati dan mengkritisi kondisi pemuda saat ini. Prikitiw!

Bro en sis! seperti yang kita ketahui banyak perubahan besar yang terjadi dan dilakukan oleh pemuda, coba kita flashback pada masa detik-detik kemerdekaan bangsa Indonesia, semangat para pemuda saat itu luar biasa  sampai-sampai Ir. Soekarno diculik oleh golongan Pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia jangan lupa juga momentum sumpah pemuda yang bertekat untuk bersatu membangun bangsa, semangat!!!

Dalam sejarah Islam kita lihat pembinaan pertama yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap para pemuda. Yang termuda, Ali bin Abi Thalib berusia 8 tahun hampir sama dengan Az-Zubair bin Al’Awwam, kemudian Ja’far bin Abi Thalib (18), Usman bin Affan (20), Umar bin Khattab (26), Usman bin Zaid pada usianya yang masih cukup belia (18) Rasulullah SAW mengangkatnya menjadi Penglima Perang memimpin pasukan muslimin dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang berada dalam kekuasaan Romawi.

Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (30-40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan ia dari kalangan pemuda.” Ibnu Abbas rs.

Kami mendengar ada seorang pemuda ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala, namanya Inrahim.” (TQS. Al-Anbia: 60)
Baca lebih lanjut